Kenapa Gen-Z Ogah Jadi Boss?

mepnews.id – Dulu, posisi semacam manajer atau direktur atau ‘boss’ kerap dipandang sebagai puncak pencapaian karier tertinggi. Namun, paradigma ini sekarang mulai bergeser. Belakangan, banyak kabar para pekerja muda enggan menduduki posisi manajemen struktural. Bahkan menolak jadi ASN dengan posisi manajerial.

Ada apa?

Dr Dewi Retno Suminar, pakar psikologi Unair

Dr Dewi Retno Suminar MSi Psikolog, pakar Psikologi Perkembangan di Universitas Airlangga, berpendapat keengganan jadi boss ini berakar dari karakteristik psikologis unik Gen-Z. Karakter ini terbentuk akibat cepatnya paparan teknologi, pola asuh, hingga adanya pergeseran nilai dalam memaknai arti kesuksesan.

Ia menjelaskan, Gen Z tumbuh di era perubahan teknologi yang sangat masif. Terpaan informasi konstan membuat mereka memiliki kelebihan dalam bereaksi cepat dan mampu melakukan banyak hal sekaligus (multitasking). Namun, kondisi ini juga membawa tantangan psikologis tersendiri.

“Gen-Z hadir ketika teknologi berubah cepat. Dengan terpaan bertubi-tubi, kesempatan Gen-Z mengendapkan informasi tidak sekuat dan selama generasi sebelumnya. Akibatnya, Gen-Z secara psikologis sering panik, sering cemas. Ketika berinteraksi sosial, sering menganggap energi sosial mereka terkuras habis,” ungkap Dewi.

Kondisi ini menjadi kendala utama saat Gen-Z diminta memimpin. Mereka tak nyaman saat merasa energi sosial harus dikuras habis serta merasa cemas akan ketidakpastian terhadap apa yang mereka hadapi.

Selain faktor lingkungan digital, Dewi juga menyoroti pengaruh pola asuh (parenting) orang tua zaman sekarang yang turut membentuk mentalitas ini. Banyak orang tua tanpa sadar memberikan terlalu banyak kemudahan ketimbang tantangan kepada anak karena dibayangi ketakutan berlebihan terhadap kondisi sang anak di luar rumah.

“Orang tua sering memberikan kemudahan dan bukan memberikan tantangan. Mereka takut anaknya tidak mampu melakukan sesuatu, takut anaknya di-bully, takut anaknya tidak kuat mental ketika dimarahin guru, dan lain-lain,” papar Dewi.

Apakah kondisi ini baik-baik saja?

Dewi memprediksi, jika generasi muda terus menolak posisi manajemen menengah (middle management) maka dunia industri akan menghadapi krisis kepemimpinan dalam 5 hingga 10 tahun ke depan.

Maka, struktur organisasi tradisional berbentuk piramida diprediksi akan runtuh dan digantikan oleh model yang lebih mendatar (flat organization) atau manajemen matriks yang kolektif.

“Bisa jadi akan ada perubahan model struktur organisasi menjadi lebih fleksibel dengan lebih menekankan pada apa yang harus dilakukan. Bisa jadi, hanya akan ada dua level; satu level konseptor dan satu level pelaksana di bawahnya. Organisasi menjadi lebih simple dan praktis. Maka, perlu dipertimbangkan untuk menyederhanakan organisasi di perusahaan agar memudahkan komunikasi dan tidak perlu membuat menjadi berjenjang-jenjang,” kata Dewi.

Facebook Comments

Comments are closed.