Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Saya jadi paham mengapa mendiang ibu saya dan ibu mertua saya sama-sama senang menaburkan bunga melati di bantal tidur mereka. Ternyata, aroma secara tak langsung bisa membantu menjaga kesehatan otak.
Pembaca yang budiman, aroma jika ditilik secara neurologis bisa memiliki pengaruh besar atas memori. Itu karena informasi tentang aroma diproses di amigdala dan hipokampus. Amigdala dan hipokampus adalah bagian dari otak yang juga memegang peran dalam penyandian memori emosional dan memori episodik.
Maka, aroma bunga melati atau aroma parfum atau aroma lainnya bisa memicu amigdala atau hipokampus untuk membangkitkan imaji tentang sesuatu yang pernah terjadi. Misalnya, aroma campuran rempah-rempah bisa membawa kita kembali ke dapur nenek. Aroma permen tertentu bisa membawa kenangan tentang seorang sahabat.
Nah, masalah yang umum terjadi adalah banyak dari kita yang kehilangan kepekaan terhadap aroma seiring bertambahnya usia. Kasus ini menonjol saat era pandemi COVID 2020-2022. Padahal, kehilangan kepekaan terhadap aroma ini terkait dengan demensia, penurunan kognitif, dan bahkan depresi.
Lalu, apa solusinya?
Sering-seringlah melatih indera pencium kita dengan berbagai aroma. Penelitian di Amerika Serikat membuktikan, paparan rutin terhadap berbagai aroma tidak hanya membangkitkan ingatan pada lansia tetapi juga meningkatkan kekuatan otak secara umum.
Dalam suatu uji coba di Universitas California, Irvine, tim ahli saraf mendistribusikan penyebar aroma berisi tujuh kartrid minyak esensial berbeda kepada 43 orang dewasa berusia 60 hingga 85 tahun yang sebelumnya tidak memiliki diagnosis gangguan kognitif atau demensia atau masalah memori lainnya.
Penyemprot aroma dalam penelitian ini berisi minyak esensial wewangian mawar, jeruk, kayu putih, lemon, pepermin, rosemary, dan lavender. Dua puluh peserta uji coba diberi penyemprot wewangian berkekuatan penuh, sementara 23 orang sebagai kelompok kontrol diberi penyemprot dengan diisi wewangian sedikit saja. Setiap malam sebelum tidur, semua peserta uji coba memasang penyemprot sehingga aromanya bersirkulasi saat mereka tidur.
Ketika para lansia dalam uji coba menggunakan alat penyebar wewangian di kamar tidur mereka selama dua jam setiap malam selama enam bulan, kinerja kognitif mereka melonjak hingga 226 persen. Kinerja kognitif itu didasarkan pada hasil tes daftar kata yang mengevaluasi pembelajaran verbal, retensi, dan memori pengenalan.
Mereka yang banyak kena wewangian juga melaporkan tidur lebih nyenyak. Dalam pemindaian dengan MRI, lansia yang mendapat banyak aroma wangi memiliki integritas yang lebih baik di jalur otak yang disebut fasciculus uncinate kiri. Saluran ini menghubungkan bagian-bagian sistem limbik, dan biasanya melemah seiring bertambahnya usia.
Penelitian sebelumnya menunjukkan, memaparkan 40 aroma berbeda kepada pasien demensia dua kali sehari dapat meningkatkan daya ingat dan kemampuan berbahasa mereka.
Namun, tim peneliti di California Irvine merasa tidak realistis jika menyemprotkan banyak aroma pada lansia. Apalagi jika lansia membuka, mengendus, dan menutup sendiri botol 80 kali setiap hari. Maka, tim peneliti menguranginya menjadi hanya tujuh aroma bergantian per hari saat tidur.
Studi ini membuktikan, hubungan erat antara aroma dan memori dapat dimanfaatkan dalam intervensi non-invasif yang mudah untuk meningkatkan fungsi memori pada lansia. Ini juga berpotensi menangkal demensia.
Nah, Anda bisa mempraktikkan sendiri di rumah dengan aroma bunga dari halaman.


