Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Aduh, Mbak, anak saya sering banget ngemil. Baru aja makan nasi, eh setengah jam kemudian ia cari-cari biskuit. Ini lapar beneran atau cuma mulutnya yang gabut?” Rina mulai curhat.
Saya tersenyum, “Kalau di Jepang, itu namanya kuchisabishii. Mulut merasa kesepian. Makan bukan karena lapar, tapi karena bosan atau butuh hiburan.”
“Oh, gitu ya? Cocok banget sama anak saya. Kalau nonton TV, pasti tangannya cari-cari snack. Kalau saya larang, dia ngambek.”
Saya jawab, “Tenang saja, itu normal kok. Banyak orang dewasa juga begitu. Ya, kan? Bedanya, anak-anak belum bisa bedain lapar beneran sama lapar karena bosan.”
“Hahaha… iya. Mulut sepi ternyata bisa jadi hati sepi.”
…………..
Pembaca yang budiman, kuchisabishii menggambarkan kondisi saat seseorang ‘ingin makan atau ngemil bukan karena lapar melainkan karena bosan, kesepian, atau hanya butuh aktivitas untuk mulutnya’. Bukan karena lapar, tapi karena emotional eating atau habitual snacking.
Saat sendirian di rumah, tangan otomatis ambil camilan. Saat nonton TV malam hari, merasa perlu ngemil meski perut kenyang. Yang parah, saat stres atau jenuh kerja, mulut otomatis mencari sesuatu untuk dikunyah.
Kondisi ini bisa dipahami lewat beberapa teori psikologi modern yang menghubungkan antara emosi, perilaku, dan makan.
Menurut Emotional Eating Theory, makan tidak selalu dipicu lapar fisiologis tetapi bisa juga dipicu emosi seperti rasa bosan, stres, kesepian. Nah, kuchisabishii ini contoh jelas bagi emotional eating yakni orang ngemil untuk mengalihkan diri dari perasaan ‘sepi’.
Dalam Psychodynamic Theory, Freud pernah menyinggung oral stage (fase oral dalam perkembangan psikoseksual). Menurutnya, individu bisa cenderung mencari kepuasan lewat mulut (makan, merokok, menggigit kuku) saat stres atau butuh kenyamanan. Maka, kuchisabishii bisa dianggap sebagai ekspresi fase oral yang ‘aktif kembali’ pada orang dewasa.
Menurut Behavioral Reinforcement Theory, kebiasaan ngemil saat bosan bisa jadi reinforced habit. Ketika bosan, individu ngemil sehingga merasa lebih baik. Lalu, otaknya menyimpan pola itu. Perilaku itu diulang terus. Lama-lama, ngemil jadi respons otomatis untuk kondisi gabut.
Dalam Self-Determination Theory, manusia umumnya butuh tiga hal: autonomi, kompetensi, keterhubungan. Kalau kebutuhan keterhubungan (connectedness) tidak terpenuhi, bisa muncul rasa sepi. Kondisi sepi ini ditutupi dengan aktivitas kuchisabishii.
Brian Wansink, dalam karyanya Mindless Eating, mengungkap bahwa banyak orang makan bukan karena lapar, tapi karena environmental cues (ada makanan di depan mata, menonton TV, bosan). Kuchisabishii cocok masuk dalam kerangka ini: makan tanpa sadar karena mulut ingin sibuk kerja
Kuchisabishii ini bisa membawa dampak negatif maupun positif, tergantung konteks dan intensitasnya.
Kuchisabishii bisa membuat kesehatan fisik terganggu. Karena dikit-dikit mau ngemil, orang bisa kelebihan kalori. Ini meningkatkan risiko obesitas, diabetes, hipertensi. Begitu juga risiko gigi berlubang jika sering ngemil manis.
Bisa juga muncul pola pikir dan kebiasaan tidak sehat. Kuchisabishii bisa menjadi coping mechanism utama. Orang jadi sulit mengelola emosi tanpa ngemil makanan. Potensinya bisa membentuk pola emotional eating jangka panjang.
Yang biasa dialami orang-orang yang sedang diet adalah munculnya rasa bersalah atau stres tambahan. Setelah ngemil, muncul rasa menyesal. Ini bisa menambah dan memperpanjang siklus stres. Ujung-ujungnya balik ngemil lagi.
Dampak negatif lainnya adalah kehilangan intuitive eating. Keseringan kuchisabishii bisa mengaburkan sinyal tubuh. Orang jadi sulit membedakan lapar fisik dengan lapar emosional.
Meski demikian, dampak positifnya juga ada. Setidaknya, kuchisabishii bisa untuk self-soothing jangka pendek. Ketika kesepian atau stres melanda, ngemil gabut bisa memberi rasa nyaman atau tenang dan membantu meredakan emosi sementara waktu.
Kadang kuchisabishii bisa menjadi bentuk self-care sederhana. Ngunyah makanan bisa memenuhi kebutuhan psikologis, mengurangi rasa ‘kosong’ atau ‘gabut’. Misalnya dengan bikin teh hangat dan camilan ringan sehat.
Dampak positif lain ada pada aspek sosial. Bisa jadi momen untuk berbagi makanan dengan orang lain. Secara tak langsung, ini membangun koneksi sosial. Ngemil bareng teman/keluarga bisa mempererat ikatan dan conectedness.
Tradisi ngemil dalam banyak budaya juga bisa sumber kreativitas. Bisa melahirkan produk makanan ringan unik. Di Jepang, ada banyak cemilan lucu yang jadi bagian dari budaya pop. Lihat bentuk cemilannya saja bisa meredakan stress.
Maka, agar manfaatnya tetap ada, tapi dampak negatifnya bisa dikurangi, kita harus bisa mengelola kondisi kuchisabishii dalam diri.
Pertama, saat pingin ngemil, sadari dulu apakah itu karena lapar fisik atau sekadar lapar emosional. Lapar fisik biasanya muncul bertahap, bisa ditunda, dan bakal hilang setelah makan secukupnya. Lapar emosional bisa muncul tiba-tiba, sering terfokus pada camilan tertentu, kadang tetap lapar meski sudah makan.
Berikutnya, ganti dengan aktivitas pengalih. Jika sadar bahwa itu sekadar lapar emosional, maka cobalah ngemil sehat. Misalnya, minum teh hangat atau infused water, mengunyah permen bebas gula, makan buah segar, kacang panggang, minum yoghurt, atau bahkan menulis jurnal atau menggambar. Yang tak kalah sehat adalah jalan-jalan sebentar atau stretching di luar ruang.
Jika sudah mulai terbiasa mengtur diri sendiri, optimalkan mindful eating. Tak perlu ngemil besar betulan. Saat muncul rasa kuchisabishii, segera duduk tenang, fokuskan pikiran pada rasa, aroma, tekstur makanan, lalu cemil sedikit saja karena sudah terasa cukup.
Jika kuchisabishii muncul karena kesepian, coba chat dengan teman, atau telepon ayah atau ibu atau adik. Kalau ingin mengatasi kuchisabishii rame-rame, ikut aktivitas komunitas. Misalnya, ikut senam bareng atau pengajian, atau lainnya.
Intinya, kuchisabishii tidak harus dihilangkan tapi bisa dikelola jadi ritual positif.


