Mengapa Gaya Hidup Sehat Bisa Kurangi Risiko Depresi?

Oleh: Esti D. Purwitasasi

mepnews.id – Sudah banyak orang yang paham bahwa gaya hidup sehat bisa mengurangi faktor risiko depresi. Tapi, pertanyaannya, mengapa bisa begitu?

Yang dimaksud gaya hidup sehat antara lain pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, tidur berkualitas, sering terlibat dalam hubungan sosial, menghindari asap rokok, hingga tidak terlalu banyak duduk diam.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat satu dari 20 orang dewasa mengalami depresi. Kondisi ini memberi beban signifikan terhadap kesehatan masyarakat di seluruh dunia.

Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya depresi sangat rumit. Bisa mencakup campuran faktor biologis dan gaya hidup. Nah, tim peneliti antar-bangsa, antara lain dari Universitas Cambridge di Inggris dan Universitas Fudan di Cina, mengamati kombinasi berbagai faktor itu.

Mereka menggali info di UK Biobank. Di sini tersimpan database biomedis dan sumber penelitian berisi informasi genetik, gaya hidup, dan kesehatan para partisipan secara anonim. Ada data dari 290.000 orang, termasuk 13.000 orang yang depresi dalam periode antara sembilan tahun.

Setelah meneliti gaya hidup sehat yang memang mengurangi risiko depresi, tim peneliti memeriksa DNA para peserta untuk menetapkan skor risiko genetik bagi depresi. Skor risiko genetik terendah memiliki kemungkinan 25% lebih kecil untuk mengalami depresi jika dibandingkan dengan yang memiliki skor tertinggi.

Hasilnya, gaya hidup sehat tetap saja mengurangi risiko depresi tak peduli apakah orang punya skor risiko tinggi atau rendah secara genetik.

Untuk makin memahami mengapa gaya hidup sehat dapat mengurangi risiko depresi, tim mempelajari faktor lainnya. Mereka memeriksa pemindaian otak MRI dari 33.000 peserta. Mereka menemukan sejumlah wilayah otak yang volumenya lebih besar – lebih banyak neuron dan koneksi – terkait dengan gaya hidup sehat. Wilayah-wilayah ini termasuk pallidum, thalamus, amigdala dan hipokampus.

Selanjutnya, tim mencari penanda dalam darah yang mengindikasikan masalah pada sistem kekebalan atau metabolisme (cara memproses makanan dan menghasilkan energi). Di antara penanda yang ditemukan terkait gaya hidup adalah protein C-reaktif (molekul yang diproduksi tubuh sebagai respons terhadap stres) dan trigliserida (bentuk lemak yang digunakan tubuh untuk menyimpan energi untuk digunakan di kemudian hari).

Nah, dari sini bisa dijelaskan lewat sejumlah penelitian sebelumnya. Misalnya, paparan stres dalam hidup dapat mempengaruhi seberapa baik kita mengatur gula darah, yang dapat menyebabkan penurunan fungsi kekebalan tubuh dan mempercepat kerusakan sel dan molekul dalam tubuh. Aktivitas fisik yang buruk dan kurang tidur dapat merusak kemampuan tubuh merespons stres. Kesepian dan kurangnya dukungan sosial terbukti meningkatkan risiko infeksi dan meningkatkan penurunan kekebalan.

Dari penelusuran ini, tim peneliti berkesimpulan bahwa gaya hidup yang buruk berdampak pada sistem kekebalan dan metabolisme yang pada gilirannya meningkatkan risiko depresi. Sebaliknya, gaya hidup sehat mengurangi risiko depresi.

Dr Christelle Langley, dari Departemen Psikiatri di Universitas Cambridge, mengatakan, “Gaya hidup sehat itu penting bagi kesehatan fisik kita. Sama pentingnya bagi kesehatan mental kita.”

Profesor Jianfeng Feng, dari Universitas Fudan, menambahkan, “Kita tahu depresi dapat dimulai sejak remaja atau dewasa muda. Maka, mendidik generasi muda tentang pentingnya gaya hidup sehat dan dampaknya terhadap kesehatan mental harus dimulai di sekolah.”

Saya sependapat dengan mereka.

Facebook Comments

Comments are closed.