Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM
mepnews.id – “Mbak, karyawan di perusahaan tempat aku bekerja kan banyak. Tentu produktivitas masing-masing karyawan nggak sama. Kata Boss, produktivitas meningkat jika karyawan menikmati pekerjaannya dan jeblok jika karyawan stress. Nah, bagaimana cara mengetahui karyawan sedang tertekan?” tanya teman saya yang manajer HRD.
“Oh, banyak cara. Yang paling valid tentu dengan tes psikologi,” saya menjawab.
“Yang nggak pakai tes, ada?”
“Coba amati saat mereka di depan komputer. Lihat bagaimana cara mereka mengetik dan menggerakkan mouse.”
………..
Pembaca yang budiman, saran saya tentu berdasarkan temuan ilmiah. Di Swiss, satu dari tiga karyawan menderita stres di tempat kerja. Mereka seringkali tidak menyadari bahwa fisik dan mental mereka tertekan, sampai sudah dalam kondisi parah. Maka, para peneliti di ETH Zurich mengembangkan model untuk mendeteksi stres di tempat kerja hanya dengan melihat cara karyawan mengetik dan menklik mouse komputer.
“Cara mengetik di keyboard dan menggerakkan mouse bisa menjadi prediktor seberapa stres yang kita rasakan di kantor,” kata Mara Nägelin, ahli matematika yang melakukan penelitian di Chair of Technology Marketing dan Mobiliar Lab for Analytics di ETH Zurich.
Cara orang stres mengetik dan menggerakkan mouse berbeda dari orang yang tidak stres. Orang yang stres menggerakkan pointer di mouse lebih sering, kurang tepat, dan sering kali menempuh jarak lebih jauh di layar. Orang yang santai mengambil rute lebih pendek dan lebih langsung untuk mencapai tujuan.
Orang yang stres di kantor lebih banyak melakukan kesalahan mengetik. Mereka memulai menulis dengan banyak jeda. Orang yang santai mengambil jeda lebih sedikit tetapi bisa lebih lama saat mengetik di keyboard.
Mengapa begitu? Penjelasannya ada di teori kebisingan neuromotor. Peningkatan stres berdampak negatif pada kemampuan otak memproses informasi. Ini lalu memengaruhi keterampilan motorik kita.
Untuk mengembangkan model stres, para peneliti ETH meneliti 90 peserta studi di lab yang melakukan tugas-tugas kantor semirip mungkin dengan kenyataan. Para peserta penelitian bekerja biasa antara lain merencanakan janji pertemuan atau merekam dan menganalisis data.
Peserta penelitian dibagi ke dalam dua kelompok. Satu kelompok dibuat bekerja normal tanpa gangguan. Kelompok lain berulang kali diinterupsi dengan pesan, tugas mendadak, perubahan jadwal dan sejenisnya.
Para peneliti lalu mencatat perilaku mouse dan keyboard peserta penelitian serta merekam detak jantung mereka. Untuk kelengkapan data, para peneliti juga mewawancarai para peserta percobaan seberapa stres yang mereka rasakan.
“Ternyata, perilaku mengetik dan klik adalah prediktor lebih baik tentang bagaimana perasaan subjek yang stres daripada prediktor detak jantung,” kata Nägelin.
Ini karena detak jantung para peserta dalam kedua kelompok tidak berbeda sebanyak pada penelitian lain. Salah satu alasan yang mungkin adalah bahwa kelompok kontrol juga diberi kegiatan untuk dilakukan yang lebih sesuai dengan kenyataan di tempat kerja.


