Mengapa Anak Nggak Mau Makanan Tertentu?

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Eh, pagi-pagi koq sudah ribut sama anak?” saya, sepulang belanja sayur, menyapa tetangga yang menggendong batitanya sambil bawa sendok dan mangkok makanan.

“Ha, biasa lah. Anakku ini susah sekali makan. Maunya makan sama bakso terus. Saya coba campuran sayur, nggak pernah mau. Padahal anak usia tiga tahun perlu mengenal berbagai jenis makanan. Tapi, dia nggak pernah mau mencoba,” ia menjelaskan.

“Oh, bundanya musti sabar ngajari anak makan. Ada banyak hal yang mungkin menyebabkan anak maunya makan itu-itu saja. Tapi, kalau terus diperkenalkan dengan jenis makanan baru, suatu saat nanti ia bisa menerima,” saya mencoba membesarkan hatinya.

…………

Pembaca yang budiman, syaraf indera pengecap pada anak kacil beda dengan syaraf indera pengecap orang dewasa. Syaraf indera pengecap anak-anak sedang berkembang sehingga lebih sensitif terhadap rasa dan tekstur makanan. Kalau orang dewasa, umumnya lebih toleran pada berbagai jenis makanan. Maka, kita tidak bisa asal menganggap semua makanan yang kita bisa makan juga bisa dimakan anak kecil.

Selain itu, anak umumnya cenderung memilih makanan manis dan asin dibandingkan dengan pahit atau asam.

Pada usia tertentu, anak masih punya neophobia alias ketakutan pada makanan yang baru atau belum dikenali. Ia belum terbiasa dengan makanan tersebut, sehingga takut mencobanya.

Ada juga anak yang memiliki pilihan sangat spesifik sehingga hanya mau makanan tertentu saja. Ini bisa disebabkan pengalaman buruk saat mencoba makanan baru. Bisa saja karena semacam alergi atau intoleransi makanan.

Faktor lain adalah kesehatan. Mungkin anak memiliki masalah kesehatan tertentu seperti gangguan pencernaan, alergi atau masalah lainnya. Itu membuat ia lebih sulit memilih makanan yang cocok.

Ketika agak besar, ada anak yang merasa senang ketika bisa mengontrol makanannya. Ini menjadi tanda bahwa ia belajar mengambil keputusan atas diri sendiri dan merasa senang ketika orang dewasa meminta pendapatnya.

Yang kita perlu pahami, setiap individu memiliki preferensi makanan yang berbeda. Maka, orang tua perlu memperhatikan preferensi makanan anak dan memberikan pilihan yang sehat dan beragam untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Terus, bagaimana cara mengajari anak untuk tidak lagi pilih-pilih makanan?

Yang paling gampang, beri contoh. Anak cenderung meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Maka, orang tua bisa memberi contoh dengan makan makanan sehat dan beragam. Jangan lupa, tunjukkan atau promosikan pada anak bahwa makanan sehat itu juga enak dan lezat.

Jika anak sudah aktif berkomunikasi, sesekali libatkan anak memilih makanan. Melibatkan anak memilih makanan dapat memberikan rasa kontrol pada anak dan memotivasi ia untuk mencoba makanan berbeda. Maka, sesekali ajak anak berbelanja makanan atau ajak anak memasak makanan bersama di rumah.

Kalau anak benar-benar menolak, jangan paksa untuk makan. Siapa tahu anak memang punya masalah dengan jenis makanan tertentu. Selain itu, memaksa anak makan makanan yang tidak disukai justru bisa membuat ia semakin takut atau benci pada makanan tersebut. Maka, orang tua bisa memberikan pilihan yang beragam atau memberikan waktu cukup pada anak untuk memilih makanan yang mereka sukai.

Jika ingin memperkenalkan makanan baru, lakukan secara bertahap dan bervariasi. Jika anak misalnya tidak suka sayur bayam, orang tua bisa memperkenalkan lewat jus bayam, lewat rempeyek bayam, perkedel bayam, atau variasi lainnya. Awalnya, cicipkan sedikit saja. Jika tidak ada masalah, tambahi porsinya. Dengan memperkenalkan makanan secara bertahap, teratur, dan bervariasi, anak secara bertahap terbiasa dengan rasa dan tekstur makanan baru itu.

Jika anak ternyata memiliki masalah kesehatan atau kesulitan dalam makan, seperti kasus neophobia atau picky eater, orang tua bisa berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter untuk mendapatkan saran dan dukungan. Mereka dapat memberikan saran tentang diet sehat dan membantu mengatasi masalah yang terkait makanan.

 

Facebook Comments

Comments are closed.