Tata Krama; Jangan Lupa Pamit Saat Mau Pergi

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mel, mana anakmu? Koq dari tadi sepi-sepi saja rumahmu? Biasanya dia kan biang ramai rumah,” tanya saya saat main ke rumah teman.

“Nggak tahu. Mungkin pergi ke rumah temannya. Biasanya, kalau Minggu, dia ke lapangan bola atau main ke temannya,” jawab Imel.

“Loh, nggak pamit kamu?”

“Anak laki ABG gitu mana suka pamit? Toh nanti ia bakal pulang sendiri.”

…………

Pembaca yang budiman, salah satu wujud adab sopan santun adalah anak berpamitan pada orang tua saat mau pergi atau mau melakukan sesuatu. Adab ini bisa menciptakan hubungan yang baik antar-individu, namun kadang terlupakan.

Ada beberapa hal yang mungkin membuat anak tidak pamit pergi pada orang tua. Yang sering terjadi adalah karena kesibukan atau keadaan darurat. Anak sedang terburu-buru atau terdesak saat menghadapi sesuatu sehingga tidak cukup waktu untuk pamit pada orang tua.

Bisa juga, karena anak tidak dilatih atau tidak dibiasakan berpamitan. Maka, saat pergi ke tempat yang sudah biasa atau ke tempat tidak jauh, ia merasa tidak penting untuk pamitan. Nah, sepertinya ini yang terjadi pada anaknya Imel teman saya.

Bisa jadi, ada masalah yang belum terselesaikan antara anak dan orang tua. Anak pergi begitu saja tanpa pamit seperti di adegan-adegan sinetron konfliktif. Sampai-sampai, untuk menunjukkan kurangnya rasa hormat, si anak minggat.

Orang tua perlu mengajarkan adab sopan santun dan tata krama pada anak sejak kecil, termasuk tentang pamitan. Dengan pembiasaan sejak kecil, anak bisa punya habit dan kesadaran pentingnya pamitan pada orang tua (juga orang lain setelah bertamu).

Saat anak berpamitan pada orang tua, ini menunjukkan rasa hormat, kasih sayang, dan menghargai peran orang tua dalam kehidupannya. Anak juga menghargai waktu dan perhatian yang diberikan oleh orang tua. Dengan pamit, orang tua juga merasa lebih tenang karena tahu anaknya akan ada di mana dan seberapa lama.

Bagaimana agar anak terbiasa berpamitan? Ya harus diajari.

Misalnya, anak diajari ayahnya untuk pamit pada ibunya, atau anak diajari ibunya untuk pamit pada ayahnya. Anak diajari menyapa dengan hormat dulu; “Assalamu’alaikum, Ibu.” Lalu, ajari bagaimana menyampaikan niat dan tujuan pergi. Misalnya, “Faiz mau main basket sampai ashar.” Ini membantu orang tua memahami keperluan anak dan membuat mereka merasa tenang.

Jangan lupa, ajari anak untuk minta doa restu terutama saat perginya jauh atau lama secara signifikan.

 

Facebook Comments

Comments are closed.