Dikira Kena Guna-guna, Ternyata Gangguan Somatoform

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Ada karyawan yang ditegur HRD karena kinerjanya menurun belakanggan ini. Karyawan itu kemudian curhat ke saya.

“Entah mengapa saya merasa nyeri terus-menerus di beberapa bagian tubuh. Kadang di kepala, kadang di perut, kadang di paha. Sekarang ini rasanya nyeri di otot kaki. Gangguan seperti ini menghambat kerja saya,” kata dia.

Saya lihat kakinya yang baik-baik saja. Tak tampak tampak gejala gangguan medis seperti terkilir, terluka, atau bengkak asam urat.

“Sepertinya kamu perlu tindakan lebih serius, deh. Saya khawatir ini gangguan somatoform. Lebih khusus, ini gangguan somatisasi yang ditandai dengan pola rasa nyeri tanpa sebab jelas,” saya menyarankan.

……….

Pembaca yang budiman, gangguan somatoform adalah gangguan mental yang ditandai oleh kekhawatiran atau fokus berlebihan pada gejala fisik atau sensasi tubuh tertentu yang menyebabkan penderitanya merasa tidak nyaman atau sakit.

Gejala sakit fisik bisa dirasakan berkelanjutan tapi sulit dijelaskan secara medis. Penderita bisa merasa terus-menerus cemas atau takut akan gejala fisik yang dirasakannya, sehingga menyebabkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.

Ada beberapa jenis gangguan somatoform. Gangguan somatisasi (gangguan somatoform pola nyeri) ditandai dengan rasa nyeri yang berbeda-beda dan sering terjadi. Seperti yang dirasakan karyawan di atas, ia kadang merasa sakit kepala, nyeri perut, nyeri punggung, dan nyeri otot. Gejala ini dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa penyebab medis yang jelas.

Jenis lainnya, gangguan konversi. Somatoform konversi ini ditandai oleh perasaan kehilangan atau gangguan fungsi fisik yang tidak dapat dijelaskan oleh medis. Misalnya, penderita mengalami kebutaan fungsional meski matanya baik-baik saja atau mengalami kejang-kejang meski bukan epilepsi.

Bisa juga berupa gangguan somatoform tidak tertentu atau gangguan somatoform tak berkelanjutan. Ini ditandai dengan kekhawatiran atau fokus berlebihan pada gejala fisik tertentu yang tidak dapat dijelaskan secara medis. Ini bisa berlangsung terus menerus selama bertahun-tahun.

Karena penyebabnya tidak jelas, orang kadang menghubung-hubungkan dengan sesuatu yang tidak logis. Misalnya, penderita kena sihir atau guna-guna.

Memang, belum diketahui pasti apa penyebab gangguan somatoform. Bisa jadi itu disebabkan kombinasi faktor biologis, psikologis, dan sosial. Trauma, stres, dan kecemasan dapat memicu gangguan somatoform. Lingkungan dan kondisi sosial serta kondisi ekonomi yang sulit juga berisiko gangguan somatoform. Cara individu menafsirkan sensasi fisik juga dapat mempengaruhi terjadinya gangguan somatoform. Bahkan, kemungkinan faktor genetik juga dapat mempengaruhi terjadinya gangguan itu.

Lalu, bagaimana mengatasinya?

Gangguan somatoform bisa ditangani dengan perpaduan antara intervensi medis dan psikologis. Terapi kognitif-behavioral (CBT) paling umum digunakan. Terapi ini membantu penderita mengidentifikasi dan mengubah pola pikir gejala somatik mereka. Kadang juga perlu obat-obatan antidepresan untuk membantu mengurangi gejala somatik yang mendasar. Selain itu, bisa dilakukan terapi fisik, seperti fisioterapi, untuk mengurangi gejala fisik seperti nyeri atau kelemahan otot. Yang tak kalah penting, perlu edukasi dan dukungan dari keluarga dan teman untuk membantu penderita memahami kondisinya agar memperoleh dukungan emosional yang dibutuhkan.

 

Facebook Comments

Comments are closed.