IQ Tinggi Saja Tidak Cukup

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Ada yang menghentak hati saya saat membaca artikel tentang orang jenius ber-IQ tinggi tapi gagal hidup dan bahkan jadi penjahat.

Satu contoh kasus, NL. Orang Amerika kelahiran 19 November 1904 di Chicago dari keturunan imigran Yahudi-Jerman kaya konon memiliki IQ 200 dan fasih berbicara sembilan bahasa. Bukannya menggunakan kecerdasan untuk kebaikan, justru NL dalam usia 19 tahun ditangkap polisi karena pembunuhan pada 1924. Sebelumnya, ia terobsesi untuk mencoba melakukan ‘kejahatan sempurna’ yaitu jenis kejahatan yang tidak pernah bisa terpecahkan.

Contoh lain; KUY yang dijuluki ‘Si Jenius Gagal. Dengan IQ 200–210, anak Korea ini sudah bisa memecahkan soal matematik rumit dalam usia empat tahun. Usia delapan tahun, ia diundang untuk bekerja di NASA lembaga antariksa Amerika Serikat. Meskipun sempat bekerja di sana satu dekade, ia mundur karena merasa kesepian. Kembali di negerinya, ia jadi pengajar dan suka main bola.

Satu contoh lagi; ADM. Pada 1988, ia lulus dari University of California, Santa Cruz, dengan gelar matematika komputasi pada usia 11 tahun. Konon, IQ-nya diproyeksikan 400. Tapi, ia tak banyak terlihat di mata publik dalam 20 tahun terakhir. Ia hanya dikabarkan hanya jadi pekerja di perusahaan IT.

Pembaca yang budiman, IQ (intelligence quotient) adalah skor penilaian kecerdasan seseorang. Jika skornya tinggi, ia disebut jenius. Jika skornya rendah, ia disebut idiot. Tiga orang yang saya sebut di atas memiliki IQ tinggi. Lebih tinggi daripada ilmuwan terkenal Albert Einstein yang biasa disebut ber-IQ 160 (meski ia mungkin tak pernah tes IQ).

Saya tidak membahas pilihan hidup yang dijalani tiga contoh di atas. Saya yakin, masing-masing orang punya motivasi hidup berbeda sehingga menjalani takdir yang berbeda. Yang saya ingin tekankan adalah, IQ saja tidak cukup untuk membawa kita jadi manusia yang sukses dan kehidupan yang lebih bermanfaat. Kejeniusan harus disandingkan dengan kecerdasan lain.

Psikolog Abraham Maslow memperkenalkan konsep kekuatan emosional. Psikolog Howard Gardner memasukkan ‘kecerdasan antar dan intrapersonal’ dalam teorinya Kecerdasan Ganda. Lalu Daniel Goleman menguatkan ide itu dalam buku laris berjudul Emotional Intelligence dan kemudian buku Working with Emotional Intelligence.

Maka, perlu unsur-unsur untuk memadukan antara intelligence quotient (IQ) dan emotional quotient (EQ). Nah, model pencampuran keduanya, menurut definisi Goleman, ada lima pilar, yakni;

  • Kesadaran diri: mengetahui bagaimana perasaan diri sendiri dan memiliki penilaian yang realistis terhadap kemampuan diri sendiri.
  • Pengaturan diri: Menggunakan emosi diri sendiri untuk memfasilitasi tugas daripada mengganggu tugas.
  • Motivasi diri: menggunakan preferensi diri sendiri untuk membimbing diri mengejar tujuan dan mengatasi kemunduran.
  • Empati: Merasakan apa yang orang lain rasakan dan melihat sesuatu dari sudut pandang mereka.
  • Keterampilan sosial: mengelola hubungan untuk meningkatkan kerja sama dan menyelesaikan perselisihan.

Jika bisa menyandingkan dan mengoptimalkan keduanya lewat lima pilar itu, diharapkan kita bisa menjadi jenius yang hidup bermanfaat secara sosial.

Namun, jika ingin manfaatnya sapai akhirat, perlu pula mengoptimalkan IQ (iman quotient) dan AQ (akhlak quotient).

Facebook Comments

Comments are closed.