Mengapa Anak Tambah Besar Tapi Malah Sulit Diajak Omong?

Oleh: Esti Diah Purwitasari

mepnews.id – Seorang teman curhat menggebu tentang anaknya yang sedang menginjak usia belasan. Menurutnya, anak remajanya berubah menjadi sangat lain. Menurutnya, sulit sekali bicara dengan anaknya.

“Apa dia membenciku? Ia hampir tidak pernah berucap lebih dari satu patah kata padaku. Biasanya malah cuma dengusan. Sepertinya ia sudah tidak ingin lagi berurusan denganku. Aku takut dia tiba-tiba menyuruhku pergi,” kira-kira seperti itu ungkapan kekhawatirannya.

Tentu saja saya perlu tahu lebih dulu anaknya untuk memberi penilaian. Harus mengenal lebih dekat dulu agar bisa diketahui permasalahannya. Setiap individu punya kondisi berbeda dan solusi yang tidak harus sama. Maka, yang bisa saya paparkan pada teman saya hanya seputar psikologi perkembangan remaja secara umum.

Pembaca yang budiman, proses perkembangan masa kanak-kanak idealnya diakhiri dengan jadi orang dewasa yang berfungsi penuh. Di antara dua fase ini, ada masa menjadi remaja yang berproses menciptakan kehidupan sendiri untuk kelak hidup mandiri.

Dalam masa transisi perkembagangan ini, tubuh si anak membesar dan meninggi, organ seksualnya makin matang, hormon dewasa makin aktif, dan otaknya mengalami perubahan transformatif yang intensif. Semua ini mendorong ia untuk menjadi lebih mandiri, mencari identitas diri.

Dalam hubungan sosial, ia mulai lebih menyesuaikan diri dengan teman sebaya daripada dengan keluarga. Ia menghadapi dorongan mencari kenyamanan dengan melepaskan diri dari status sebagai anak kecil.

Proses ini secara fisik, psikologis dan sosiologis kadang cukup rumit sehingga bisa terasa membingungkan. Dalam kondisi tertentu, kadang anak menjadi merasa malu, rentan, terisolasi, atau tidak nyaman, tapi juga kadang merasa gengsi, egois, atau merasa mampu menghadapi segalanya sendiri.

Tak pelak, kondisi rumit ini sering menimbulkan beberapa miskomunikasi dan konflik dengan orang tua. Orang tua memiliki ekspektasi atau rencana tertentu untuk anaknya yang tidak selalu sesuai dengan apa yang diimpikan si anak. Begitu pula sebaliknya. Kadang orang tua belum ikhlas anak imutnya kini sudah besar, saat si anak sudah malu dianggap sebagai anak kecil.

Maka, jangan heran jika kadang si anak berkomunikasi dengan emosi tinggi. Saat berkomunikasi dengan ‘bahasa’ berbeda, tentu sangat sulit untuk mendapatkan pemahaman. Tidak gampang menyampaikan pesan-pesan jika yang diajak bicara tidak satu frekuensi.

Terus, bagaimana?

Kalau paham aturan main yang digariskan Tuhan, tentu si orang tua dan si anak sama-sama mengendalikan diri untuk tidak membiarkan keadaan makin ekstrem. Kedua pihak, dalam koridor agama, akan sama-sama menyesuaikan diri menghindari konflik.

Orang tua harus memahami hubungan dengan anak remajanya berangsur-angsur bergeser dari ketergantungan menjadi kemandirian. Maka, saat berkomunikasi secara lebih terbuka, akan lebih nyambung jika orang tua menjadi lebih banyak mendengar anak dan tidak buru-buru menilai atau menghakimi.

Meski anak tampak memberontak dan ingin pergi, tetap saja ia masih mendambakan dukungan, penerimaan, dan cinta orang tua. Meski si anak tampak tidak mengakui, ia dalam banyak hal  tetap membutuhkan dan menginginkan kehadiran orang tua. Studi ilmiah membuktikan, perasaan terhubung dengan orang tua berdampak kuat pada perasaan si anak tentang dirinya sendiri.

Penelitian lain menemukan, komunikasi yang didorong oleh orang tua dan pengungkapan yang diprakarsai oleh si anak remaja memiliki pengaruh besar pada perilaku remaja dan mengurangi kemungkinan perilaku yang meresahkan.

Jadi, orang tua dan anak harus sama-sama memahami dan mentoleransi perubahan yang terjadi sehingga kesenjangan komunikasi bisa diatasi.

Facebook Comments

Comments are closed.