mepnews.id – Guna meningkatkan kualitas dan sinergi antar program studi (prodi) Studi Pembangunan di Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama enam perguruan tinggi di Indonesia berinisiatif mendeklarasikan Asosiasi Studi Pembangunan – Indonesia (DSA-Indonesia), pada Kamis 10 November 2022.
DSA-Indonesia diketuai Kepala Departemen Studi Pembangunan ITS Dr Arfan Fahmi SS MPd, dan menaungi tujuh perguruan tinggi; Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Andalas, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Kristen Satya Wacana, Universitas Lampung (Unila), Universitas Lambung Mangkurat, dan ITS.
Langkah ini merupakan keberlanjutan dari Konsorsium Studi Pembangunan Indonesia (KSPI) yang dilaksanakan Februari 2009.

Dr Arfan Fahmi, ketua DSA – Indonesia saat membuka acara deklarasi secara virtual.
Arfan Fahmi bersama para ketua prodi Studi Pembangunan dari kampus-kampus tersebut menyepakati Studi Pembangunan merupakan prodi dengan urgensi kebutuhan sangat tinggi terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia. Maka, DSA-Indonesia meyakini perlu standarisasi kurikulum dalam pengembangan, perencanaan, dan pelaksanaan pada prodi Studi Pembangunan ke depannya.
“Asosiasi kami mengadopsi teori-teori pokok dari Studi Pembangunan, yaitu etika, politik, sosial, dan kebijakan pemerintah,” tutur Arfan.
Dengan mengadopsi keempat teori tersebut, DSA-Indonesia berencana memajukan serta mengharmonisasi kualitas maupun daya tarik dari studi pembangunan. Tidak hanya pada studi pembangunannya, DSA-Indonesia juga berharap mampu mencetak sumber daya studi pembangunan yang berkualitas dan mumpuni.
Dengan begitu, masyarakat dapat semakin menyadari eksistensi prodi Studi Pembangunan serta perannya untuk berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Suhirman, dari Studi Pembangunan ITB, turut menyampaikan aspirasinya mengenai DSA-Indonesia. “Kami juga menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam mengembangkan DSA-Indonesia,” ucapnya.
Ia menambahkan, pondasi utama dibentuknya DSA-Indonesia juga untuk berkontribusi secara maksimal bagi masyarakat. “Kami berencana melakukan riset rutin, meningkatkan taraf pendidikan, dan nantinya melakukan pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya.
Arfan menggarisbawahi, sebagai asosiasi yang baru terbentuk maka menumbuhkan secara internal DSA-Indonesia dan anggota-anggotanya merupakan prioritas utama saat ini. “Memberi kebermanfaatan pada masyarakat itu sudah menjadi kewajiban. Tapi, saat ini kami berfokus pada konsolidasi internal,” tandas Arfan.
Arfan mengungkapkan harapan agar DSA-Indonesia bisa menjadi asosiasi yang mampu mengharumkan prodi Studi Pembangunan. Ia juga berharap ke depannya DSA-Indonesia mampu menjangkau seluruh daerah.
“Kami akan saling berkolaborasi demi mencapai tujuan DSA-Indonesia, yaitu menghasilkan wujud nyata dari Studi Pembangunan pada masyarakat,” tegasnya memastikan. (Hibar Buana Puspa)


