mepnews.id – Saat pidato pengukuhan menjadi guru besar di Universitas Negeri Surabaya di Lantai 9 Gedung Pascasarjana, Kampus Lidah Wetan, 28 September 2022, Prof Dr Nuniek Herdyastuti MSi tak lupa menyebut orang tuanya. Dosen di Rumpun Biokimia di Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini mengakui orang tua adalah guru terbaik dalam hidup.
Prof Nuniek lahir di Surabaya 10 November 1970 dari pasangan H. Sujadi dan Hj. Ismijatin. Ia lulus S1 kimia dari Institut Teknologi 10 Nopember pada 1994, mendapatkan gelar Master biokimia dari Institut Teknologi Bandung pada 2001, dan lulus studi doktoral biokimia dari Universitas Gadjah Mada pada 2010.
Pakar ilmu kimia ini melahirkan banyak riset seputar pengolahan limbah kimia, mengembangkan mini lab IPAL, dan pengaruh bahan kimia terhadap aspek kesehatan. Pidato pengukuhannya juga tentang riset ‘Sehat dan Alami dengan N-Asetil Glukosamin Bahan Kimia Hasil Degradasi Enzimatis Kitin sebagai Obat Osteoarthritis’.
Sebagai dosen di FMIPA, Prof Nuniek mengampu tujuh matakuliah dalam setahun terakhir, melakukan 13 kali pengabdian masyarakat, mempublikasikan 53 artikel Ilmiah dalam berbagai jurnal, serta telah memperoleh tiga HKI.
Ia mengaku, “Peran orang tua dalam perjalanan karier akademik kami sangat besar. Meski sederhana dan tidak pernah mengenyam perkuliahan, beliau selalu berharapan dan mendorong kami putri-putrinya untuk menggapai pendidikan setinggi-tingginya. Beliau mendukung saya sekolah mulai S1 sampai ke jenjang S3. Doa yang beliau selalu berikan telah mampu membawa saya sampai pada titik ini.”
Kedua orang tuanya berprinsip, pendidikan adalah hal yang utama dalam menggapai asa. Tak heran jika orang tuanya ingin melihat anaknya meraih jabatan sebagai guru besar. “Bapak selalu bertanya kepada saya, kapan nduk awakmu isa dadi professor,” kenang Prof Nuniek.
Meski demikian, Bapak beliau tidak bisa menyaksikan pengukuhan Prof Nuniek sebagai guru besar. H. Sujadi berpulang pada musim pandemi 2021 karena usia. (tom)


