mepnews.id – Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA), bersama tim medis, berlabuh di perairan Dampek, Manggarai Timur, untuk turut membantu penanganan korban bencana gempa magnitudo 7,7 yang melanda Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026. RSKKA menerjunkan 16 relawan yang terdiri dari dua dokter spesialis bedah, satu dokter spesialis anestesi, satu dokter spesialis anak, satu perawat OK, enam Dokter umum, dua ahli farmasi, satu radiografer, satu petugas dokumentasi, dan satu admin merangkap driver.
“RSKKA hadir sebagai salah satu bentuk respons kolaboratif untuk mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat pasca bencana di wilayah Flores. Rumah sakit terapung yang dapat mendekatkan pelayanan ke wilayah pesisir dan daerah dengan keterbatasan akses, RSKKA memiliki potensi strategis mendukung sistem pelayanan dan rujukan kesehatan pada situasi bencana maupun pascabencana,” ujar dr Agus Harianto SpB, direktur RSKKA, lewat situs resmi rskka.id edisi 24 Aguustus.
Sejak gempa utama 15 Agustus, wilayah Flores dan sekitarnya mengalami gempa susulan. Hingga 22 Agustus, BMKG mencatat lebih dari 5.000 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Aktivitas kegempaan itu menunjukkan kondisi pascabencana memerlukan kewaspadaan dan respons kesehatan yang berkelanjutan. Tim RSKKA membawa pelayanan medis spesialistik darurat serta pendampingan psikososial bagi warga terdampak bencana.
Dampek berada di pesisir pantai utara Kabupaten Manggarai Timur, berbatasan dengan Laut Flores, berjarak sekitar 133 kilometer jalur darat dari kawasan Mbay, Nagekeo, yang menjadi pusat gempa utama 15 Agustus. Manggarai Timur terdampak paling parah dari gempa itu. Tercatat 5.962 unit rumah rusak, 25 orang meninggal pada awal pencatatan masa tanggap darurat, dan banyak puing-puing serta longsor. Jalur logistik dan transportasi, seperti di Trans Flores bagian utara, sempat mengalami hambatan akibat kerusakan jembatan dan gempa susulan.

Pasien diangkut dengan perahu boat dari darat menuju kapal pinisi yang dimodifikasi jadi rumah sakit.
Selama di Dampek, RSKKA memberikan pelayanan operasi bedah spesialistik di kapal. Pasien rujukan dari wilayah terdampak dievakuasi menggunakan perahu kecil dari pantai menuju kapal RSKKA. Di dalam kamar operasi kapal yang steril, tim dokter spesialis bedah dan anestesi melakukan berbagai tindakan bedah minor hingga mayor.
RSKKA juga melakukan pemeriksaan radiologi & X-Ray portabel. Mengingat sebagian fasilitas kesehatan setempat lumpuh, RSKKA membawa perangkat X-ray serta USG portabel langsung ke kendaraan lapangan dan tenda darurat untuk mendeteksi trauma tulang, patah tulang, maupun komplikasi organ dalam pasien korban.
Di posko pengungsian, tim relawan RSKKA memfasilitasi kegiatan pemulihan trauma melalui permainan edukatif dan pendampingan ceria untuk mengembalikan senyum anak-anak. Juga ada pemeriksaan kesehatan umum, pengobatan penyakit pascabencana, serta pendampingan kesehatan ibu dan anak, termasuk memfasilitasi persalinan di lokasi pengungsian.
Pelayanan RSKKA ini didukung antara lain PABI NTT, FK Universitas Airlangga, RSUD Dr Soetomo, Ikatan Alumni FK UI, EMT IDI Jawa Timur, FKIK Universitas Mataram dan RS Universitas Mataram, MDMC, MER-C, Yayasan Samudera, Paragon Corp, serta berbagai pihak lainnya.



POST A COMMENT.