Mengasuh Generasi Alpha Tak Cukup Sekadar Membatasi Gawai

mepnews.id – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 22 Juli menjadi momentum penting bagi orang dewasa, khususnya orang tua, untuk merefleksikan kualitas pengasuhan di dalam keluarga. Kualitas hubungan antara orang tua dan anak menjadi faktor krusial yang berkontribusi terhadap kemampuan anak mengenali emosi, berempati, serta membangun hubungan sosial yang sehat.

Dr Primatia, pakar psikologi Unair

Dr Primatia Yogi Wulandari SPsi MSi Psikolog, dosen psikologi Universitas Airlangga, berpendapat tantangan pola asuh saat ini bergeser seiring pesatnya perkembangan teknologi dan dominasi Generasi Alpha.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat serta lahirnya Generasi Alpha menuntut pola asuh lebih adaptif terhadap perubahan. Orang tua dituntut tak sekadar membatasi gawai, tetapi aktif memitigasi risiko kecanduan hingga perundungan siber (cyberbullying).

“Pendekatan yang paling sesuai adalah ketika orang tua mampu berperan sebagai digital mentor, bukan sekadar digital police guna mengajarkan penggunaan teknologi secara sehat dan aman,” terangnya.

Di sisi lain, tren media sosial kerap memicu parental burnout akibat standar pengasuhan yang tak realistis. Kondisi ini menuntut peningkatan literasi digital orang tua, khususnya dalam mengkritisi fenomena sharenting (membagikan konten anak).

“Sebelum mengunggah konten tentang anak, orang tua sebaiknya mempertimbangkan kepentingan terbaik anak, hak privasi anak, dan jejak digital yang akan tetap ada hingga mereka dewasa,” papar Primatia.

Ia juga memaparkan, tantangan utama pengasuhan anak di Indonesia bukan sekadar mendisiplinkan melainkan bagaimana membangun hubungan hangat dan responsif.

Dalam realita, masih ada praktik pengasuhan yang menganggap bentakan atau hukuman fisik sebagai bentuk pendidikan. Menurut Dr Primatia, fokus utama pengasuhan sejatinya bukan membuat anak patuh membabi-buta tetapi membantu anak tumbuh menjadi pribadi mandiri yang tangguh dan sehat secara psikologis.

“Bukti ilmiah menunjukkan, pengasuhan yang responsif, penuh kehangatan, sekaligus memiliki batasan jelas, lebih efektif dalam membentuk pengelolaan emosi, rasa percaya diri, dan kemampuan anak menyelesaikan masalah,” terangnya.

Untuk mencapai hal tersebut, perlu pola komunikasi dua arah yang konsisten. Anak akan lebih mudah bercerita apabila merasa didengar, dihargai, dan tidak dihakimi. Orang tua dapat memulainya melalui metode active listening atau mendengarkan anak bercerita hingga selesai sebelum memberikan nasihat serta memvalidasi emosi anak.

“Budaya komunikasi yang cenderung hierarkis antara anak dan orang tua membuat sebagian anak enggan berpendapat karena takut dianggap melawan. Padahal, memberi ruang berpendapat tidak menghilangkan kewibawaan orang tua. Justru memperkuat kelekatan (attachment) agar anak selalu mencari orang tuanya saat tertimpa masalah,” tegasnya.

Memaknai Hari Anak Nasional, ia menegaskan investasi terbesar bangsa terletak pada kualitas hubungan keluarga, bukan fasilitas mahal. Peringatan ini menjadi momen penting bagi orang tua untuk kembali hadir utuh bagi anak.

“Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang hadir. Luangkan waktu tanpa gangguan gawai untuk mendengarkan dan mendampingi mereka, sebab keluarga yang aman adalah kunci membesarkan generasi cerdas dan sehat secara mental,” kata ia.

Facebook Comments

Comments are closed.