Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, apa benar mempunyai anak itu membahagiakan? Saya koq malah melihat sebaliknya. Rasanya hidup tanpa anak akan jauh lebih ringan. Bisa bepergian kapan saja, karier tidak terganggu, keuangan lebih longgar,” begitu curhatan Z, wanita karir cemerlang usia awal 30-an.
“Apa yang paling membuatmu condong ke pandangan itu?” saya coba menggali wawasannya.
“Saya takut kehilangan kebebasan. Saya lihat teman-teman yang punya anak kecil selalu kelelahan saat jam kerja. Waktu untuk diri-sendiri hampir tidak ada. Biaya merawat anak juga sangat tinggi. Saya jadi bertanya-tanya, apa mereka benar-benar bahagia?”
“Oh, gitu… Kebahagiaan memiliki anak itu tidak sesederhana yang tampak dari luar. Ada orang tua yang tampak kelelahan, tetapi tetap merasa hidupnya sangat bermakna. Tergantung perjalanan hidup masing-masing.”
————-
Pembaca yang budiman, memiliki anak sering dianggap sebagai salah satu sumber kebahagiaan terbesar dalam hidup. Banyak orang percaya bahwa kehadiran anak akan melengkapi keluarga, memberi makna hidup, dan menjadi investasi emosional di masa tua. Punya anak juga berarti meninggalkan warisan bagi masa datang.
Namun, tak dapat dipungkiri, hubungan antara memiliki anak dan kebahagiaan ternyata rumit juga. Bukan cuma Z teman saya yang mempertanyakan, tapi juga beberapa hasil penelitian ilmiah terutama yang mengkaji khusus pada rasa ketidakbahagiaan. Artinya, ada orang-orang tua tertentu yang justru tidak bahagia saat mengasuh anak.
Nah, siapa yang tidak bahagia itu?
Dari banyak hasil kajian ilmiah, psikolog evolusi manusia Robert P. Burriss menyoroti partnership status yang bisa mempengaruhi kebahagiaan. Dosen di University of Liverpool dan the University of Chester serta mitra peneliti di kampus-kampus Eropa ini menyebut controlling for partnership status sebagai poin metodologis penting.
Partnership status itu wujudnya bisa berupa pasangan yang resmi menikah, yang sekadar hidup bersama, yang memiliki pasangan tetapi tidak tinggal bersama, yang lajang (tidak punya pasangan), yang berpisah, hingga yang berstatus duda atau janda. Maka, dalam penelitian, peneliti juga berusaha menjelaskan status pasangan ini. Bisa jadi, kebahagiaan atau ketidakbahagiaan memiliki anak itu kelanjutan dari kebahagiaan atau ketidakbahagiaan saat membentuk hubungan.
Hubungan yang sehat dengan pasangan bisa memberi kontribusi besar terhadap kebahagiaan memiliki anak. Itu karena pasangan dapat memberikan dukungan emosional pada anak, bisa berbagi tanggung jawab ekonomi, bisa sama-sama memberikan rasa aman, bisa menjadi tempat berbagi masalah, dan lain-lain. Sebaliknya, menjadi orang tua tanpa dukungan pasangan yang mapan sering kali meningkatkan tekanan fisik, mental, finansial, hingga sosial.
Yang pasti, kebahagiaan memiliki anak tidak bisa hanya diukur dari perasaan senang sesaat. Menjadi orang tua sering memberikan rasa makna, tujuan hidup, dan kepuasan jangka panjang yang sulit diukur hanya melalui sekadar suasana hati harian. Meski membesarkan anak sangat melelahkan, pengalaman tersebut tetap memberi arti yang mendalam bagi kehidupan orang tua.



POST A COMMENT.