Oleh: Budi Winarto
mepnews.id – Apa pun yang terjadi di alam semesta merupakan kehendak Allah SWT. Segala yang ada berasal dari tiada, dan yang ada pun pada akhirnya akan kembali tiada. Inilah siklus kehidupan yang menjadi bagian dari sunnatullah. Lahirnya segala sesuatu merupakan representasi dari sifat Allah sebagai Al-Khaliq (Maha Pencipta). Di sisi lain, Allah juga memiliki sifat Al-Mumit (Maha Mematikan). Hidup dan mati adalah dua sisi yang saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan alam semesta.
Keseimbangan membutuhkan pola dan penciptaan sempurna. Namun, harmoni atas keseimbangan dapat terganggu ketika manusia tidak menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi. Keserakahan, eksploitasi berlebihan, dan kelalaian dalam menjaga amanah, dapat merusak tatanan yang telah rapi. Bahkan, itu bisa mengarah pada ketidakstabilan dan kehancuran.
Allah tidak hanya menciptakan tetapi juga mengatur seluruh siklus kehidupan agar berjalan harmonis. Setiap ciptaan memiliki pola yang mengarah pada kebaikan. Tidak ada satu pun yang diciptakan tanpa tujuan. Semua berjalan sesuai hukum sunnatullah, dengan keteraturan yang mencakup siang dan malam, orbit, keseimbangan ekosistem, hingga siklus kehidupan dari setiap makhluk.
Dalam perspektif ilmu pengetahuan, hal ini dapat dipahami antara lain melalui konsep evolusi kosmik dan evolusi biologis. Alam semesta terbentuk dari materi sederhana menjadi sistem yang kompleks seperti galaksi, bintang, dan planet. Dari benda mati seperti tanah, air, api, dan udara, berkembang menjadi kehidupan sederhana hingga akhirnya muncul makhluk hidup yang kompleks, termasuk manusia.
Manusia adalah makhluk istimewa yang dianugerahi akal, hati, dan potensi ilmu. Dengan kelebihan ini, manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga, mengelola, dan melestarikan bumi. Inilah makna hakiki manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Keteraturan alam juga dapat kita lihat dalam tubuh manusia. Setiap organ bekerja sesuai fungsi dan porsinya. Ketika terjadi ketidakseimbangan, misalnya akibat pola makan berlebihan, maka sistem tubuh akan terganggu. Lambung, hati, pankreas, hingga jantung akan bekerja lebih keras, yang pada akhirnya kelelahan lalu efeknya timbul berbagai penyakit. Hal ini menunjukkan bahwa pelanggaran terhadap keseimbangan akan selalu membawa dampak negatif.
Demikian pula dengan alam semesta. Dalam sejarahnya, bumi pernah mengalami berbagai peristiwa besar, termasuk hidup dan punahnya dinosaurus. Dinosaurus muncul pertama kali sekitar 230 tahun lalu, kemudian mengalami kepunahan sekitar 65-66 juta tahun lalu. Peristiwa tersebut disebabkan faktor alami, seperti tumbukan asteroid, aktivitas vulkanik, dan perubahan iklim ekstrem. Meskipun menghancurkan, proses tersebut tetap berada dalam kerangka keseimbangan alam dan menjadi bagian dari siklus panjang bumi.
Namun, kondisi saat ini berbeda. Di era modern, kerusakan alam tidak lagi murni disebabkan faktor alami. Aktivitas manusia, antara lain deforestasi, polusi, dan penggunaan energi fosil secara berlebihan, telah mempercepat perubahan iklim dan meningkatkan frekuensi bencana. Siklus yang seharusnya berlangsung dalam jutaan tahun kini dipercepat dalam hitungan puluhan atau bahkan beberapa tahun saja.
Data menunjukkan, bencana alam berupa cuaca yang tidak bersahabat, banjir, longsor, dan kekeringan terus meningkat dari tahun ke tahun. Fenomena ini menjadi peringatan bahwa keseimbangan alam sedang terganggu.
Salah satu penyebabnya adalah praktik politik ekstraktivisme, yaitu kebijakan yang berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan dampak lingkungan dan sosial. Ketergantungan pada eksploitasi dan ekspor sumber daya alam seringkali mengabaikan prinsip keberlanjutan.
Oleh karenanya, kita terutama para pengambil kebijakan perlu memiliki kesadaran bahwa menjaga dan merawat alam bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral dan spiritual manusia sebagai khalifah di bumi. Alam telah diciptakan dengan keseimbangan yang sempurna, namun keseimbangan tersebut dapat rusak oleh ulah manusia. Ketika manusia hidup selaras dengan nilai-nilai ilahi dan hukum alam, maka harmoni akan terjaga. Sebaliknya, ketika manusia dikuasai keserakahan, maka kerusakan menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
Untuk itu, diperlukan kesadaran kolektif agar bisa kembali pada prinsip keseimbangan dengan cara memanfaatkan alam secukupnya, menjaga kelestariannya, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan terhadap lingkungan. Dengan demikian, alam tidak hanya menjadi tempat hidup sekarang, tetapi juga warisan berharga bagi generasi yang akan datang.
*Penulis kelahiran Malang yang sekarang tinggal di Mojokerto. Motto “Berbagi Manfaat Positif (BMP).”



POST A COMMENT.