Bahagia Itu Sunyi, Sukses Itu Ramai

Oleh: Budi Winarto

mepnews.id – Kebahagiaan itu tidak bisa diraba dan dirasa oleh panca indra semata. Saat pengusaha terlihat mata sebagai orang kaya raya, atau saat terdengar kabar seseorang diangkat jabatannya, belum tentu mereka benar-benar merasa bahagia.

Seseorang bisa merasa bahagia secara utuh apabila bisa mengendalikan batin yang mempengaruhi pikiran dan perilaku. Kebahagiaan itu sifatnya personal, sehingga tidak selalu bergantung pada apa yang dimiliki atau dicapai seseorang. Malahan, kebahagiaan bisa hadir dalam kesederhanaan, dalam rasa cukup, dalam keikhlasan menerima keadaan.

Seseorang bisa duduk sendiri, dalam kesunyian, tanpa pencapaian besar, namun tetap bisa merasakan damai di dalam hatinya. Itu sudah bisa dinamakan bahagia. Atau, seseorang yang memiliki jabatan kemudian melaksanakannya dengan amanah dan penuh integritas, itu juga luapan bahagia.

Bahagia itu urusan batin. Ia tumbuh dari rasa syukur, dari kemampuan menerima diri, dan dari kedekatannya dengan value/nilai. Tidak ada standar tunggal untuk bahagia, karena setiap orang memiliki cara masing-masing untuk merasakannya.

Hal ini berbeda dengan kesuksesan.

Saat seseorang mengalami satu fase, kemudian berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu berkata dalam hati, “Saya sudah sampai sejauh ini.” Ia merasa mencapai kesuksesan dalam titik tertentu.

Pada titik itu, sering kali muncul rasa bangga; perasaan bahwa semua yang dimiliki hari ini adalah hasil dari kerja keras, ketekunan, dan perjuangan diri sendiri.

Jika kita mengalami hal seperti itu, tentu perasaan itu tidak sepenuhnya salah. Karena kita memang berusaha, berjuang, bahkan terkadang jatuh dan bangkit kembali dengan tenaga sendiri. Namun, di balik keyakinan itu, ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan dengan jujur; benarkah kita benar-benar berjalan sendiri?

Hidup ini, jika direnungkan lebih dalam, tidak pernah benar-benar individual. Bahkan, sejak kita lahir, kita bergantung pada orang lain. Ada orang tua yang merawat tanpa pamrih, ada guru yang menuntun tanpa lelah, ada sahabat yang hadir di saat sulit, ada pasangan yang selalu hadir saat dibutuhkan, dan ada begitu banyak kebaikan kecil yang datang dari arah tak terduga. Semua seperti benang-benang halus yang merajut perjalanan kita hingga menjadi seperti sekarang.

Namun manusia sering lupa. Ketika berada di bawah, kita mudah mengingat siapa yang menolong. Tetapi ketika sudah berada di atas, ingatan itu perlahan memudar. Kita mulai merasa bahwa semua ini adalah hasil jerih payah sendiri. Dalam keadaan seperti itu, tanpa disadari, kita sedang menjauh dari kesadaran paling mendasar bahwa hidup adalah keterhubungan.

Kesuksesan itu lain hal dengan kebahagiaan. Keduanya tidak berjalan dalam jalur yang sama. Bahagia cukup melibatkan personal. Kesuksesan selalu melibatkan banyak pihak. Kesuksesan adalah hasil dari pertemuan antara usaha pribadi dan kontribusi orang lain. Tidak ada kesuksesan yang benar-benar lahir dari ruang hampa. Bahkan seorang yang terlihat self made (bisa sukses atau mencapai sesuatu karena usahanya sendiri, tanpa bantuan orang lain) pun sejatinya berdiri di atas banyak hal yang telah disiapkan sebelumnya. Entah itu sistem pendidikan, kesempatan sosial, dukungan keluarga, atau bahkan kepercayaan yang diberikan oleh orang lain.

Kesuksesan itu seperti panggung. Seseorang mungkin berdiri di depan, terlihat paling menonjol, tetapi di belakangnya ada banyak peran yang bekerja-yang menyiapkan, yang mendukung, yang mendoakan, dan yang membuka jalan.

Menyadari hal ini bukan berarti mengecilkan usaha diri sendiri. Justru sebaliknya, ini adalah cara untuk memaknai usaha dengan lebih utuh. Bahwa apa yang kita capai adalah hasil dari kerja keras yang tidak berdiri sendiri, melainkan bertemu dengan banyak kebaikan di sepanjang jalan. Di sinilah pentingnya kerendahan hati.

Ketika seseorang memahami bahwa kesuksesan bukan hanya miliknya, ia akan lebih mudah bersyukur. Ia tidak akan mudah sombong, karena ia tahu bahwa ada peran orang lain di dalamnya. Ia juga akan lebih mudah menghargai orang lain, karena ia sadar bahwa setiap orang pun sedang berjalan dengan bantuan banyak pihak.

Sebaliknya, ketika seseorang merasa bahwa semua adalah hasil dirinya sendiri, ada risiko yang mengintai; kesombongan. Padahal, kesombongan sering membuat seseorang lupa pada akar, lupa pada proses, bahkan lupa pada nilai-nilai yang dahulu membentuknya.

Refleksi ini membawa kita pada satu pemahaman yang sederhana, namun dalam, “Bahagia boleh kita rasakan sendiri, tetapi sukses harus kita sadari sebagai hasil bersama.”

Kesadaran ini bukan hanya soal etika, tetapi juga soal cara kita memandang hidup. Dengan memahami bahwa kita tidak sendiri, kita akan lebih berhati-hati dalam melangkah, lebih bijak dalam bersikap, dan lebih tulus dalam menghargai orang lain.

Pada akhirnya, hidup bukan sekadar tentang pencapaian. Ia adalah perjalanan makna. Apa artinya mencapai banyak hal jika kita kehilangan rasa syukur? Apa artinya berada di puncak jika kita lupa siapa saja yang pernah menopang langkah kita?

Mungkin, kebahagiaan sejati justru lahir ketika kita mampu menyatukan keduanya; menikmati kebahagiaan dalam diri, sekaligus menyadari bahwa setiap kesuksesan adalah hasil dari kebersamaan. Saat kita sampai pada kesadaran itu, kita tidak hanya menjadi orang yang sukses tetapi juga menjadi manusia yang utuh, yang tahu dari mana ia berasal, tahu siapa saja yang telah membantu, dan tahu untuk apa melangkah ke depan.

Wallauhu a’lam bishawab.

 

*Penulis kelahiran Malang yang sekarang tinggal di Mojokerto. Motto “Berbagi Manfaat Positif (BMP).”

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.