Setidaknya Ada 4 Jenis Demensia Langka Yang Anda Perlu Kenali

Oleh: Esti Diah Purwitasari

mepnews.id – “Kakek mulai pikun. Sudah sering lupa nama kami cucu-cucunya. Lupa naruh kacamata. Kalau keluar rumah, kadang tersesat karena lupa jalan pulang,” kata salah satu cucu.

“Nggak cuma gitu. Kakek sudah buyuten. Nggak cuma sering lupa, tapi bicaranya ngelantur. Kadang bingung waktu, ngakunya mau sholat Dhuhur saat sudah menjelang Isya. Perilakunya seperti anak kecil,” kata cucu yang lain.

Saya tertegun mendengar curhatan bocil-bocil ini. Setahu saya, usia kakek mereka 65 tahun dan belum tua-tua amat. Kalau sekadar pikun biasa tentu masih bisa ingat lagi setelah diingatkan. Saya rasa kakek mereka belum sampai buyuten karena usianya masih segitu. Lantas saya curiga; jangan-jangan kena demensia.

………….

Pembaca yang budiman, demensia adalah kondisi medis berupa ada gangguan pada otak. Ini bukan bagian normal dari penuaan seperti buyuten, tapi ada masalah medis di otak. Ciri-ciri demensia antara lain lebih pelupa daripada sekadar pikun. Ada penurunan daya ingat cukup parah, ada gangguan berpikir, cara berbicara, dan kemampuan mengambil keputusan. Bahkan, terjadi perubahan perilaku atau kepribadian yang bisa menganggu aktivitas sehari-hari

Secara medis, demensia adalah ‘istilah payung’ yang mencakup lebih dari 100 jenis kondisi gangguan otak. Yang paling umum (sekitar 60% kasus), gangguan otak ini terkait penyakit Alzheimer. Gangguan ini sudah banyak ditangani oleh kalangan medis. Nah, yang 40% terdiri dari jenis-jenis yang lebih jarang dan kurang dikenal. Jenis-jenis yang langka ini cenderung lebih sulit didiagnosis dan membutuhkan pendekatan perawatan yang lebih kompleks.

Saya akan coba bahas empat jenis demensia yang jarang diketahui ini.

Pertama; posterior cortical atrophy (PCA). Jika Alzheimer banyak menyerang memori otak, PCA lebih berdampak pada kemampuan visual dan spasial. Penderitanya biasanya mengalami kesulitan membaca, menilai jarak, atau mengenali ruang, bahkan bisa mengalami halusinasi visual. Gejala biasanya muncul pada usia 55–65 tahun. Mengapa terjadi PCA? Para pakar masih melakukan pengkajian. Diduga, PCA merupakan bentuk tidak biasa dari Alzheimer.

Kedua, Creutzfeldt-Jakob disease (CJD). Jenis demensia ini sangat langka tapi serius. Penyakit yang dikaji Hans Gerhard Creutzfeldt dan Alfons Maria Jakob secara terpisah pada awal 1920-an ini disebabkan protein abnormal (prion) yang merusak otak. CJD berkembang sangat cepat dibandingkan jenis demensia lainnya. Gejalanya antara lain gangguan memori dan gerakan tubuh yang tidak terkendali. Faktor risiko utamanya usia dan genetika. Kontaminasi, misalnya dari makanan tertentu, juga jadi penyebab meski sangat jarang.

Ketiga, FTD-MND. Ini kombinasi antara frontotemporal dementia (FTD) dan motor neurone disease (MND). Kondisi ini memengaruhi fungsi kognitif sekaligus kemampuan motorik, antara lain pergerakan otot, menelan, dan pernapasan. Sekitar 10–15% penderita FTD mengalami kondisi yang sering dikaitkan dengan faktor genetik ini. Gejala yang muncul seringkali tidak sesuai gambaran umum demensia karena lebih menonjolkan masalah fisik dibandingkan gangguan memori.

Keempat, progressive supranuclear palsy (PSP). Penyakit ini menyebabkan gangguan pada gerakan, keseimbangan, dan kontrol mata, sehingga penderita sering jatuh atau mengalami kesulitan bergerak. PSP juga memengaruhi kemampuan berpikir dan berkonsentrasi. Diagnosisnya cukup sulit karena gejalanya mirip penyakit lain misalnya Parkinson.

Sejauh ini, belum ada obat manjur yang dapat menyembuhkan sebagian besar jenis demensia. Maka, untuk menghadapi demensia, deteksi dini dan pemahaman yang tepat sangat penting agar kita bisa memberikan perawatan yang sesuai. Peningkatan kesadaran terhadap berbagai jenis demensia tentu sangat membantu kita mengenali gejala lebih awal untuk bisa memberikan dukungan lebih tepat bagi penderita.

Maka, saat dua bocil curhat soal kakeknya, saya hanya bisa mendengar sambil membesarkan hati mereka. Saya tidak bisa memastikan kondisi kakeknya jika tidak ada pemeriksaan medis. Yang saya pahami, gejala demensia tidak selalu berupa kehilangan ingatan. Tanda-tanda awalnya bisa berupa perubahan perilaku, gangguan indera, kesulitan berbicara, hingga masalah gerakan. Berdasarkan curhatan para bocil, sebagian tanda-tanda ini sudah ada pada kakek mereka.

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.