Oleh: Bambang Prakoso
mepnews.id – Akhir-akhir ini banyak peristiwa memprihatinkan. Ada sejumlah kiai, politisi, pejabat, dan pimpinan lembaga, yang justru keluar dari ‘wilayah’ agama. Akibatnya, muncul kesan seolah Islam tidak memberi efek positif terhadap nurani atau psikologi manusia yang seharusnya mampu mengamputasi tindakan asosial, amoral, dan dehumanisasi. Itu karena pelakunya adalah oknum muslim sendiri.
Misalnya, ada tokoh yang memobilisasi massa untuk memilih partainya atau untuk mendapatkan kekuasaan sendiri melalui kedok agama. Mereka meminjam kekuatan moral teologis agama sebagai legitimasi untuk mencari pengakuan dan kredibilitas sosial. Maka, jika nurani semakin tidak terkendali, dan jika dinamika sosial semakin membuka peluang bagi kebiasaan-kebiasaan culas, penyimpangan ini akan semakin menguat di masa datang.
Kita dapat melihat berbagai oknum mempraktikkan agama sekadar sebagai batu loncatan untuk mencapai kredibilitas publik atau popularitas. Mereka seolah menjadi muslim yang mengalami split of personality; yang berwajah ganda atau yang pribadi terbelah. Akibatnya, tragedi merendahkan martabat agama justru dilakukan mereka yang jadi pemuka agama itu sendiri.
Sampai-sampai, tiga menteri agama terlibat praktik korupsi. KPK menetapkan Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka penyalahguna kuota tambahan haji periode 2023–2024. Tokoh ormas besar yang juga dari keluarga ulama itu mengakibatkan 8.400 jemaah reguler gagal berangkat ke Tanah Suci dan kerugian negara lebih dari Rp1 triliun. Suryadharma Ali sudah divonis bersalah dalam kasus korupsi dana penyelenggaraan haji dan korupsi dana operasional menteri. Said Agil Husin Al Munawar, yang juga guru besar, divonis bersalah oleh pengadilan atas kasus korupsi Dana Abadi Umat dan Dana Badan Penyelenggaraan Ibadah Haji.
Kasus-kasus di atas, dan banyak kasus lain yang serupa, membuat agama seolah mendapatkan ujian dari pemeluknya sendiri. Pertama, karena adanya sikap kurang demokratis oknum ulama mazhab yang menutup gerbang ijtihad. Kedua, kebangkitan Islam belum sampai menjamah substansinya. Kuantitas umat dan baju yang menutupinya terburu-buru dinilai sebagai keidealan yang harus ditonjolkan, tapi idealisme dasarnya sendiri masih kurang disentuh secara kritis.
Abul A’la Al-Maududi, filsuf Islam moderen kelahiran Aurangabad (di India era jajahan Inggris), pernah mengingatkan bahwa manusia di mata manusia selalu tampak sebagai tertuduh. Ia juga mengingatkan, kaum ateis praktis biasa menggunakan kedok agama. Sementara, keturunan Adam terpecah belah dalam berbagai golongan. Tiap-tiap golongan merasa paling benar dan berpahala menggunakan segala tipu muslihat, kezaliman, permusuhan, khianat, dan cara apa pun ditempuh demi keuntungan golongan sendiri.
Jika dilihat dalam konteks masyarakat berbangsa kita sekarang, kritik Maududi itu begitu relevan. Kita mudah melihat orang yang fasih melafazkan dan memahami tekstualisasi ayat-ayat Al-Quran, Hadis Nabi, dan kaidah-kaidah hukum Islam, orang yang aktif dalam kegiatan tahlil, kesenian bernafaskan Islam, serta organisasi sosial religi. Tapi, orang-orang tersebut kesehariannya juga bergumul dan bahkan aktif membentuk pola hidup yang kontras dengan agama. Misalnya, secara personal maupun komunal mereka terbiasa berjudi, terbiasa korupsi uang jamaah atau hak anak yatim-piatu, lalu mengamputasi karier orang lain, dan sejenisnya.
Banyak di antara kita gagal membaca secara kontekstual jenis muslim berwajah ganda atau berpribadi parsial. Itu karena mereka memang bisa berorasi di podium atau mimbar seperti malaikat, tampak nresnani pepodo, terdengar manis bicaranya, tapi di sisi substansi psikologisnya mereka malah meneguhkan pribadi ‘bajingan’. Dalam ungkapan Latin, mereka itu homo homini lupus. Dalam kondisi tertentu, mereka bisa menjadi makhluk paling berbahaya bagi sesamanya —kejam, rakus, saling memangsa, tanpa belas kasih. Bagi mereka, agama hanya dijadikan tameng legitimasi publik, kredibilitas sosial dan popularitas semata. Mereka meniadakan keseimbangan intelektual, spiritual, dan estetika.
- Penulis adalah dosen Ilmu Perpustakaan FISIP UWKS, Ketua GPMB Jawa Timur


