Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Ada sejumlah kabar yang kurang nyaman terkait anak-anak zaman sekarang. Gangguan kesehatan mental Generasi Z atau Gen Z di Indonesia meningkat hingga 200%. Krisis kesehatan mental menghantui Gen Z Indonesia. Wujudnya, terjadi beberapa kasus bunuh diri kaum muda antara lain di Yogyakarta dan Jakarta pada Desember 2023.
Pembaca yang budiman, tulisan ini bukan untuk mendorong perilaku negatif. Justru saya sangat prihatin dengan sejumlah aksi nekat anak-anak muda yang kadang tak masuk akal. Maka, saya mencoba menelusuri akar permasalahannya secara ilmiah.
Saya mengutip penelitian terbaru yang menyelidiki krisis kesehatan mental di kalangan Gen Z di A,merika Serikat. Penelitian on going Prof Gabriel Rubin dari Montclair State University ini berusaha mengungkap faktor-faktor risiko besar, seperti kasus penembakan massal, media sosial, dan krisis iklim, yang berdampak pada kesejahteraan mental generasi muda.
Ada kesimpulan menarik yang dibuat Prof Rubin. Meski hidup di era yang relatif aman, menurut Rubin, Gen Z lebih terbiasa memandang dunia secara biner. Kalau tidak aman (misalnya di dalam ruang yang aman) maka pasti mengandung risiko bahaya. Kalau tidak bahaya (misalnya, di luar ruang yang berbahaya) maka pasti aman.
Karena memandang dunia sekitar dalam konteks keamanan atau bahaya ekstrim saja, mereka jadi kurang memahami ‘risiko’ sebagai suatu spektrum. Kurang memahami bahwa di antara aman dan bahaya itu ada berbagai kondisi lainnya.
Akibatnya, Gen Z memiliki persepsi bahwa risiko selalu ada di mana pun mereka berada. Cara pandang kaku semacam ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kecemasan, depresi, bahkan kecenderungan bunuh diri. Terutama di kalangan putri.
Prof Rubin melakukan penelitian dengan mewawancarai 50 reponden, dan jumlahnya akan terus bertambah. Sementara, penelitian terhadap generasi sebelumnya menunjukkan bahwa mereka memandang risiko itu tidak secara hitam-putih. Generasi terdahulu menyadari ada banyak risiko dalam hidup, namun risiko tersebut dapat dipertimbangkan.
Nah, pesan yang dapat disampaikan kepada Gen Z berdasarkan penelitian Prof Rubin adalah sadari bahwa terdapat spektrum sangat luas dalam risiko kehidupan. Dalam kondisi yang dianggap paling tidak aman pun sejatinya masih ada spektrum aman, begitu juga sebaliknya.
Penelitian ini juga menunjukkan, ketidakmampuan generasi muda dalam memahami risiko merupakan komponen penting dari krisis ini. Maka, kaum muda harus punya wawasan yang dalam, pandangan yang luas, dan hati yang lapang untuk menghadapi berbagai sisi kehidupan.
Meski ada begitu banyak kemudahan akibat kemajuan teknologi, jangan pernah melupakan atau melalaikan faktor tangan Tuhan dalam kehidupan kita. Teknologi hanya membantu, tapi jangan sampai membuat pikiran makin cupet. Masih ada Tuhan yang maha-menentukan.


