Nakes Bawean Dapat Pelatihan Kegawatdaruratan Maternal

mepnews.id – Program Studi Kebidanan, Fakultas Kedokteran (FK), Universitas Airlangga (Unair), menggelar Pelatihan Penanganan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal untuk Tenaga Kesehatan (Nakes) di Pulau Bawean, pada 15 Oktober 2023.

Terletak 120 km seberang laut dari pusat Gresik, Pulau Bawean jauh dari pusat pemerintahan. Berbagai tantangan dihadapi penduduk pulau di tengah Laut Jawa itu. Salah satunya, masalah kesehatan. Jika ada kondisi darurat, pasien dibawa ke Gresik atau Surabaya naik kapal berjam-jam.

Untuk peningkatan keterampilan, para nakes juga harus menyeberangi lautan. Keberangkatan nakes mencari ilmu tentu ini bisa mengganggu pelayanan kesehatan di RSUD Umar Mas’ud rumah sakit satu-satunya di Bawean.

Maka, tim FK Unair datang ke Bawean untuk menggelar pelatihan di RSUD Umar Mas’ud. Dr Lestari Sudaryanti dr MKes mengatakan, “Pelatihan bertujuan untuk memberikan penyegaran keilmuan, update tentang penanganan kegawatdaruratan, untuk semua nakes di Bawean.”

Dalam pelatihan ini, tim Kebidanan Unair mengusung metode Low Technology High Fidelity (LTHF) serta Interprofessional Collaboration (IPC). LTHF terpilih agar nakes Bawean terpapar simulasi gambaran pelayanan kesehatan pada kegawatan maternal dan neonatal. IPC melatih kemampuan nakes Bawean dalam melakukan komunikasi.

“LTHF memberikan gambaran kepada nakes tentang apa yang harus terlaksana saat kegawatdaruratan terjadi. IPC nggak kalah pentingnya, karena mereka harus bekerja secara tim dalam setiap pelayanan kesehatan,” kata Ketua Tim Pengabdian Masyarakat itu.

Dr Lestari berharap pelatihan ini dapat membantu menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Bawean. Maka, pemantauan serta pendampingan setelah pelatihan terus terlaksana meski jarak jauh.

“Setelah pelatihan ini kami harap para nakes lebih siap saat menghadapi penanganan kegawatan maternal dan neonatal, sehingga angka kematian ibu dan bayi bisa menurun. Kematian ibu dan bayi memang menjadi masalah karena letak geografis; pasien gawat darurat harus menyeberangi lautan untuk mendapat penanganan di Jawa,” terangnya.

Drg Helizzamah, Direktur RSUD Umar Mas’ud, mengungkapnya kedatangan tim pengabdian masyarakat Kebidanan Unair menjadi angin segar bagi para nakes.

Ia menceritakan, setiap terjadi kasus serius maka pihak rumah sakit harus merujuk menggunakan transportasi kapal. Nakes harus pandai menentukan waktu yang tepat melakukan rujukan. Kondisi ini membuat pasien dalam risiko besar.

“Pelatihan ini semoga bisa meningkatkan kemampuan nakes, sehingga pasien bisa teratasi dengan baik. Nggak hanya itu. Pasien yang mendapat rujukan bisa mendapat penanganan lebih dulu dengan baik,” tutur drg Heliz.

Ia berpesan agar pelatihan tidak berhenti begitu saja, tapi ada sesi lain berikutnya. “Semoga pelatihan semacam ini akan berkelanjutan. Menurut kami, hal ini sangat berarti bagi masyarakat Bawean,” paparnya.

Dra Hj Aminatun Habibah MPd, Wakil Bupati Gresik, berharap para nakes dapat menyerap pelatihan ini dengan baik, dapat mengimplementasikannya dengan baik. “Mudah-mudahan mereka bisa melakukan sendiri saat kondisi gawat darurat. Semoga ilmu tak hanya terserap tapi para nakes bisa menerapkannya.”

Facebook Comments

Comments are closed.