mepnews.id – Sentra Toko Buku Kwitang. Bagi generasi 80-an dan 90-an, sepenggal jalan di Kwitang Raya di Jakarta Pusat ini bagaikan ‘surga buku.’ Di sini, para mahasiswa, dosen, hingga kolektor berburu literatur bahkan yang sangat langka. Namun, tempat yang pernah mendidih oleh gairah literasi itu kini menjadi lebih dingin dan sunyi.
Di tengah hiruk pikuk kota dan gelombang teknologi informasi-komunikasi, buku-buku fisik sudah bukan lagi kebutuhan esensial. Di balik aroma bibliosmia, tersimpan kisah perjuangan para penjual yang tergerus zaman. Masa keemasan perdagangan buku kertas dikikis oleh buku digital. Tak pelak, suasana lengang dan sunyi menjadi keseharian para pedagang.
Salah satu saksi hidup perjuangan ini adalah Niko yang telah mendedikasikan 13 tahun masa hidupnya di Kwitang. Ia melihat langsung bagaimana kawasan ini perlahan kehilangan cahayanya. Dulu, ratusan pedagang kaki lima berderet di trotoar membuat kawasan ini selalu riuh. Sekarang, ia menatap deretan lapak yang sepi. Kini tersisa 22 penjual di salah satu sentra toko besar yang setia dan menggantungkan hidup berjuang menanti pembeli.
Penurunan drastis ini, menurutnya, dimulai sejak gempuran ponsel pintar sekitar tahun 2015. Masyarakat beralih mencari informasi dan hiburan dari layar sentuh, dan jauh meninggalkan halaman buku fisik. Pukulan lebih telak menghantam saat pandemi COVID-19 yang makin memperburuk kondisi.
Sejatinya, stok buku di Kwitang adalah harta karun yang tak tertandingi. Semua jenis literatur tersedia, mencerminkan kekayaan ilmu yang pernah ditawarkan tempat ini. Dari novel fiksi remaja yang ringan, buku motivasi, literatur pengetahuan umum yang mendalam, kamus bahasa asing terlengkap, hingga buku sejarah jaman dulu yang otentik.
Namun, harta ini sudah tidak terlalu menarik masyarakat awam. Di hari biasa, hanya beberapa orang yang datang. Umumnya dari kalangan remaja hingga dewasa yang mencari buku spesifik atau sekadar bernostalgia. Hari Sabtu dan Minggu, pasar buku lebih ramai. Walau tidak seramai dulu, namun situasi itu dapat membuat para penjual senang.
Untuk bertahan, para pedagang kini mengandalkan celah pasar yang ditinggalkan toko buku modern atau buku digital. Tumpuan utama mereka adalah buku-buku tes kedinasan, UTBK dan CPNS. Kwitang menawarkan keunggulan tak tertandingi: harga jual yang jauh lebih murah, dan, yang terpenting, bisa ditawar.
Selain itu, ada momen musiman yang menjadi penyelamat. Setiap Bulan Ramadhan, permintaan terhadap Al-Qur’an melonjak tajam untuk disumbangkan secara ke panti-panti asuhan atau pesantren. Momen ini cukup menghidupkan kembali denyut nadi ekonomi di sana.
Bagi Pak Niko, perjuangan ini melampaui urusan bisnis semata. Ia berpegang teguh pada keyakinan bahwa apa yang ia jual memiliki nilai abadi. “Buku tidak mungkin habis ataupun hilang, karena buku merupakan bukti ilmu. Manusia butuh ilmu itu,” ucapnya tegas.
Kalimat itu bukan sekadar penghiburan, melainkan pernyataan perlawanan. Di tengah dominasi dunia digital, warisan kertas dan tinta akan selalu menjadi sumber pengetahuan hakiki bagi umat manusia. (intan)


