Antologi ‘Dua Dimensi’ Dibedah Budayawan Kris Aji

mepnews.id – Buku antologi ‘Dua Dimensi’ dibedah dalam acara Panggung Ekspresi Anak di Atrium Gresmall Gresik, 19 November 2025. Tiga dari 64 penulis buku memaparkan kisah-kisah flash fiction yang mereka buat. Kemudian, karya mereka dibedah oleh penulis senior Gresik.

Bedah buku ini mengisi acara yang diselenggarakan Cahaya Pena bersama Suara.com dan Komunitas Anak Gresik. Acara dibuka Kepala Dinas Pendidikan Gresik S. Hariyanto, dihadiri pejabat dari Cabang Dinas Pendidikan Jatim wilayah Gresik Mardiyanto. Audiens umumnya anak-anak dan pelajar dari Kota Gresik dan sekitarnya.

Teguh W. Utomo, editor ‘Dua Dimensi’ yang menjadi moderator bedah buku, memaparkan buku ini bagian dari upaya mendorong anak-anak muda berkarya. “Saya harap, dalam lima-sepuluh tahun mendatang, muncul nama penulis besar dari peserta yang hadir di acara ini.”

Novia Nur Azurah, siswi SMKN 1 Sidayu, memaparkan proses bagaimana ia bisa membuat flash fiction berjudul ‘Senjata Terkuat’. Dari proses itu, ia menyisipkan pesan tentang kejujuran lewat tokoh utama Rian yang mendapatkan uang dari pak tua misterius.

Widya Putri Aulia Zahra, siswi SMAN 1 Gresik, membedah dua tulisannya yang berjudul ‘Lilin di Giri’ dan ‘Penyesalan.’ Untuk yang pertama, ia menceritakan tokoh Fadil yang menemukan ketenangan setelah mendatangi tradisi lokal sehingga bahkan orang bisa melihat sosok Sunan Giri pada dirinya. Untuk yang kedua, semua paragraf menggambarkan suasana genting di rumah sakit kecuali paragraf terakhir yang justru memberi kejutan berupa tokoh penyebab kondisi itu.

Devia Trisna Arum, siswi SMA NU 1 Gresik, mengisahkan bagaimana tokoh utama ‘Datang ke Masa Lalu’ untuk menemui almarhum kekasihnya. Yang menarik, tokoh ini tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkan sang kekasih di masa lalu. “Untuk apa mengubah takdir yang sudah pasti?” begitu Devia memberi argumen. “Lebih baik nikmati saja pertemuan meski di dimensi imajinasi.”

Kris Aji, budayawan, ahli sejarah, dan penulis senior, yang menjadi pembedah buku dalam acara ini, memuji hasil kerja istimewa para penulis yang masih belajar di sekolah menengah. Namun, ia juga memberi sejumlah catatan.

Menurutnya, beberapa naskah menggambarkan adegan yang kurang pas untuk edukasi remaja. “Misalnya, ada adegan kekerasan berupa menabrak seseorang. Kalau misalnya adegan ini ditiru pembaca, terus bagaimana?”

Ketua Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Gresik itu lalu menyarankan para penulis muda untuk terus menambah wawasan dan mengasah ketrampilan. Misalnya, mengembangkan teknik metafora untuk melembutkan adegan kekerasan.

“Tentang cinta, jangan cuma gambarkan sebagai adegan berpacaran. Ada cinta untuk orang tua, cinta pada pekerjaan, dan lain-lain,” begitu pesannya.

Facebook Comments

POST A COMMENT.