Oleh: Agustini R. Dhiniharia
mepnews.id – Saya bersyukur bisa bertualang hingga Kathmandu. Perjalanan hampir 7.000 kilometer ke ibukota Nepal ini dari Surabaya saja sudah menjadi petualangan tersendiri. Beberapa hari di Kathmandu, ada petulangan yang lebih menantang. Ya, karena Kathmandu adalah gerbangnya roof of the world; Himalaya.
Saat menikmati kota bersejarah Bhaktapur tak jauh dari Kathmandu, pemandu saya mengungkapkan sesuatu yang lucu tentang tingginya Himalaya. Orang Nepal asli itu, sambil mengibaskan tangan, bilang, “Ah, itu kan cuman bukit ..” saat merujuk pada gunung-gunung lain dengan ketinggian di bawah 6000 mdpl.
Di Kathmandu, saya ditawari banyak pilihan petualangan. Ada paragliding di bukit-bulit sekitar Kathmandu. Atau, mengunjungi Unesco Heritage Site yang ada delapan situs warisan dunia di seluruh Nepal termasuk empat di dekat Kathmandu. Ada juga petulangan Himalayan Trek, atau Chitwan Jungle Trek, dan lain-lain.
Karena pertimbangan waktu, saya pilih petualangan paling menarik yakni mountain flight. Untuk bertualang terbang mengelilingi ‘atapnya dunia’, ongkosnya sekitar 230 dollar US. Lumayan mahal untuk terbang keliling sekitar 1 jam.
Beberapa perusahaan penerbangan menyediakan tur ini, dan saya memilih yang menurut review di Google terbaik; Buddha Air. Saya pesan tur ini melalui salah satu agen perjalanan yang bertebaran di sekitar Kathmandu Guest House di distrik Thamel tempat saya bermalam.
Hotel ini unik. Namanya tetap ‘Guest House’ meski fasilitasnya termasuk bintang 5. Konon, ini hotel bintang 5 pertama di Kathmandu. Banyak selebriti pernah menginap di sini. Nama-nama yang tercetak di ‘walk of fame‘ antara lain Kennedy Jr, Jimmy Carter, Robert Redford, Ricky Martin.
Setelah mendapatkan tiket untuk mountain flight, saya bersiap naik pesawat baling-baling jenis ATR. Dari terminal domestik Kathmandu, pesawat bakal terbang mengelilingi kawasan Himalayan Range berupa jajaran beberapa puncak tertinggi dunia. Puncak paling terkenal tentu saja Mt. Everest dengan ketinggian 8848 mdpl.
Di dalam pesawat ada 20 penumpang lain bersama saya. Masing-masing duduk di area jendela sehingga dipastikan bisa menikmati pemandangan Himalayan Range dari masing-masing jendela.
Ada tiga pramugari memandu kami. Mereka memberi kami peta Himalayan Range dengan nama masing-masing puncak gunung dan ketinggiannya. Mereka juga memberi info saat pesawat mulai mengitari puncak-puncak gunung.
Yang paling menarik, kami diberi tahu masing-masing peserta bergiliran dipanggil masuk ke cockpit untuk bisa melihat view dari ruang pilot. Rute pesawat berputar sehingga semua peserta bisa menikmati pemandangan dari kedua sisi.

Mt. Everest, titik tertinggi di Bumi, tampak kecil karena kakinya tertutup awan.
Wuiihhh…, tak terkatakan indahnya pemandangan yang saya saksikan di atasnya atap dunia. Alhamdulillah, saat itu cuaca cerah. Padahal, sebelumnya hujan deras sejak bakda shubuh. Pramugari bilang, justru sesudah hujan begini view jauh lebih indah. Entah bener atau nggak, saya percaya saja…
Lautan awan putih beragam bentuk menyelimuti puncak-puncak bersalju yang muncul di atap dunia. Puncak-puncak tersebut terkesan ‘kecil’ karena bagian bawahnya terturup lautan awan putih. Kontras dengan birunya langit, pemandangan yang benar-benar mempesona. Sungguh menawan mata dan hati.
Saya pun membuat beberapa foto dan video dari seat 10D. Tak seorang pun ribut bersuara, mungkin semua sedang menikmati pemandangan dalam diam hening. Rasa haru pun muncul karena saya bisa mendapat kesempatan menyaksikan ciptaan Allah SWT yang sangat luar biasa.
Saat giliran masuk cockpit, saya cuma bisa melongo. Benarlah frasa ‘tak terkatakan dengan kata-kata’ atas view itu. Sampai-sampai, saya tidak berniat membuat foto/video dari cockpit. Memang tak akan ada kamera manapun yang bisa menyaingi indera penglihatan anugerah-Nya. Saya hanya ingin menikmati dengan berdzikir melalui kedua mata ini.
Once in a life time..
Seusai tur, semua diberi semacam sertifikat.


