Mumpsimus, Oh Mumpsimus….

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Alkisah, ada seorang biarawan keliru pada abad pertengahan di Inggris. Sebagai orang alim, ia selalu meminpin ritual doa dalam misa di tempat ibadahnya. Dalam doa berbahasa Latin, ia selalu mengucapkan ‘mumpsimus‘. Padahal harusnya itu ‘sumpsimus’ (yang artinya ‘saya menerima’ kebenaran).

Kekeliruan ini dicatat oleh Richard Pace (1482 – 1536) rohaniwan yang juga diplomat Inggris zaman Tudor. Dalam tulisan 1517 berjudul De Fructu qui ex Doctrina Percipitur, ia menyebut ‘S’ adalah huruf paling tidak beruntung karena diusir pendeta selama tiga puluh tahun. Si pendeta selalu mengucapkan mumpsimus yang seharusnya sumpsimus selama itu. Ketika ada seorang terpelajar menasihati si pendeta untuk memperbaiki kesalahan, ia bersikeras tidak mau mengganti mumpsimus lamanya dengan sumpsimus baru.

Catatan jenaka Pace, yang mengutip kisah Desiderius Erasmus (1466–1536) ini, kemudian membuat redaktur kamus Oxford memasukkan kata ‘mumpsimus’ ke dalam kosa kata Bahasa Inggris.

Mengapa saya tertarik membahas istilah ‘mumpsimus‘?

Tentu karena maknanya. Mumpsimus adalah istilah untuk menggambarkan seseorang yang bersikukuh mempertahankan kesalahan meski sudah ada bukti atau argumen yang menunjukkan hal tersebut salah.

Secara psikologis, mumpsimus bisa terjadi karena faktor bias kognitif dan emosional.

  • Confirmation Bias; Orang cenderung mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi yang mendukung keyakinanya sendiri, dan mengabaikan bukti yang ia anggap bertentangan atau berbeda.
  • Cognitive Dissonance; Ketika dihadapkan pada fakta yang bertentangan dengan keyakinannya, ia lebih memilih menolak fakta tersebut daripada mengalami rasa ketidaknyamanan psikologis.
  • Status Quo Bias; Orang cenderung lebih nyaman dengan kebiasaan atau cara berpikir lama dibandingkan menerima sesuatu yang baru.
  • Mempertahankan Ego; Mengakui kesalahan berarti mendapat ancaman terhadap harga diri, terutama bagi orang yang merasa identitasnya sangat terkait dengan keyakinan tersebut.
  • Kebiasaan yang mengakar; Otak manusia cenderung membentuk pola pikir dan kebiasaan yang sulit diubah karena jalur saraf yang sudah terbentuk kuat (neuroplasticity yang terbatas pada kebiasaan lama).

Secara umum, mumpsimus itu mirip dengan keras kepala. Mumpsimus mempertahankan kesalahan meski sudah diberi bukti bahwa adanya kesalahan, karena pelakunya mempertahankan kebiasaan, keyakinan, atau pemikiran yang lama. Sementara, orang yang keras kepala sulit mengubah pendapat atau sikap. Tak peduli salah atau benar, orang yang keras kepala tetap menolak kompromi atau perubahan.

Saya kira, saat ini ada banyak orang yang kena gejala mumpsimus terkait kondisi sosial dan politik di negeri ini. Tapi, saya tidak ingin membahas politik karena bukan ranah kemampuan saya. Takut keliru.

 

Facebook Comments

Comments are closed.