Belajar Itu Tak Berjeda

Oleh: Budi Winarto

mepnews.id – Allah Swt menciptakan alam semesta, termasuk di dalamnya ada manusia, tentu dengan maksud dan tujuan. Penandanya adalah korelasi antara apa yang tercipta dengan ayat pertama (Al Alaq) yang diturunkan.

Iqra’ memiliki pengertian ‘bacalah.’ Dengan membaca, kita mendapatkan ilmu. Apa yang dibaca? Alam semesta dan wahyu sebagai sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. Wahyu berupa Al Qur’an adalah sumber yang banyak memberikan pelajaran, baik sebagai contoh dengan sejarahnya, maupun pengetahuan yang memiliki korelasi dalam konteks saat ini, bahkan tentang pengetahuan masa yang datang.

Jadi, surat Al Alag hadir sebagai kunci motivasi untuk membuka ilmu pengetahuan baik yang berupa aqidah atau yang sains.

Belajar adalah kewajiban

Surat Al Alaq berisi tentang perintah menuntut ilmu dan mengamalkan segala sesuatu yang telah diperoleh, serta menjelaskan bagaimana penciptaan manusia dari segumpal darah. Iqra (bacalah)  adalah kunci kesadaran bagi seseorang untuk menggapai kemuliaan dengan ilmu pengetahuan.

Makna iqra’ tentu memiliki arti luas. Bukan hanya membaca, tetapi juga menulis. Bukan hanya qauliyah namun juga kauniyah-nya. Ayat-ayat qauliyah adalah ilmu-ilmu Allah Swt dalam bentuk wahyu yang terdapat dalam Al Qur’an. Ayat-ayat kauniyah berupa alam semesta dengan seluruh hukum yang menyertainya.

Dari pengertian tersebut, ayat qauliyah maupun kauniyah sama-sama bisa dijadikan sumber belajar dan pembelajaran.

Sebagai sumber belajar, karena ayat qauliyah dan kauniyah itu bisa dipelajari, didiskusikan, bahkan diperdalam apa yang menjadi kandungan makna. Beriring alat-alat tertentu, seseorang bisa mempelajari dengan kesungguhan dan keseriusan.

Sebagai sumber pembelajar, karena tanda-tanda yang ada itu ibarat sistem yang bisa menghubungkan antara ciptaan dengan penciptanya. Terutama bagi manusia yang mau mempelajarinya.

Kenapa Iqra surat pertama yang diturunkan? Hal ini tak lebih dan tak bukan karena manusia berkewajiban untuk terus belajar. Apa pun yang ingin kita lakukan, kalau tidak ada ilmunya, tidak akan bisa benar. Tidak hanya benar, bahkan bisa saja sia-sia.

Bahkan, pencuri kelas ringan sampai para koruptor dipastikan belajar terlebih dahulu sebelum memulai aksinya. Minimal mereka belajar untuk tidak jujur terhadap dirinya sendiri, sehingga hilanglah rasa takut akan dosa. Lalu dalam sepak terjang, mereka juga menggunakan ilmu sesuai dengan posisi dan kemampuan dari cara mereka.

Pun dengan kebaikan. Seluruh amal yang diperbuat, apabila tidak berdasar ilmunya, maka akan sia-sia. Seperti halnya rukun Islam sebagai pondasi umat islam. Meski dikerjakan, tetapi apabila tidak mengerti ilmunya, bisa menjadi sia-sia. Berikrar dengan bacaan syahadat, menunaikan sholat, zakat, puasa dan haji, semua tentu butuh ilmu. Dan ilmu itulah yang akan menuntun kebenaran seseorang di dalam mengerjakan sesuatu.

Al Qur’an yang terjaga dan kesadaran belajar

Bagaimana dengan wahyu (sumber belajar) yang diamanahkan kepada nabi (Muhammad) yang ummi (buta huruf)? Bukankah nanti malah bisa menyesatkan?

Tentunya tidak.

Prof Husein Aziz, dosen UIN Sunan Ampel, dalam salah satu group diskusi, berpendapat, “Hubungan kata اقرا dan kata اقلم dalam surat Al Alaq, merupakan hubungan membaca dan menulis untuk mengajarkan Al Qur’an. Hubungan antara membaca dan menulis ini dijabarkan oleh hadis Nabi di awal turunnya wahyu. Nabi berkata, “Jibril datang kepadaku dalam tidurku dengan membawa kain Persi, di dalamnya ada tulisan, lalu berkata, ‘Bacalah.’ Nabi menjawab ما اقرا (Apa yang aku baca)?” Di riwayat lain, مذا اقرا Ungkapan ini membuat dua makna. Pertama, Jibril meminta Nabi membaca tulisan itu. Berarti Nabi bisa membaca dan menulis. Kedua, Jibril datang membawa tulisan atau wahyu yang dinamakan Al Kitab (Taurat dan Injil). Nabi tidak bisa membaca karena bahasa yang digunakan bukan bahasa Arab. Nabi Muhammad adalah orang Arab dan bahasa kesehariannya adalah bahasa Arab. Di dalam surah Ali Imron ayat 20, sebagian ahli tafsir berpendapat, ummi adalah orang-orang yang tidak diberikan Al-Kitab. Maka, dalam dua hal inilah wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad, dan itulah yang dimaksud علم بالقلم (mengajari dengan pena, mengajari manusia  apa yang ia tidak ketahui).”

Dari pemantik di atas jelaslah bahwa ummi yang tersemat dalam diri Nabi Muhammad itu bukan lah buta baca tulis. Pengertian di atas semakin meneguhkan bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad berupa Al Qur’an terjaga kemurniannya karena bukan buatan nabi sendiri.

Muhammad Saw adalah pribadi yang ruhnya terjaga dan ter-setting dengan bersih. Sehingga ruh (baca: kecerdasan spiritual) beliau memunculkan akhlaq tertinggi di dalam diri beliau mulai dari jujur, dapat dipercaya, amanah dan cerdas.

Ayat-ayat yang secara qauniyah (wahyu) maupun kauliyah (adanya alam semesta) adalah ‘bacaan’ yang tidak pernah surut untuk kita diskuiskan. Keduanya bisa menjadi isyarat untuk kita menggali ilmu pengetahuan. Keduanya juga bisa menjadi tanda yang jelas, sebuah bukti atau indikasi, makna atau signifikasi bagi manusia yang mau belajar, mengamati, merenungkan dan memahami.

Dari adanya wahyu dan hadirnya alam semesta akan memunculkan gagasan, saran, pemikiran, penemuan ilmiah, tatanan sosial yang egaliter, memperkaya pengetahuan, sebagai petunjuk dari kebenaran Ilahi demi dan untuk kemajuan dan kesejahteraan makhluk yang ada di muka bumi.

Dengan terus belajar, diri kita juga akan terkondisikan untuk bisa membebaskan fikiran-fikiran dan emosi yang terbelenggu, sehingga harkat martabat kita sebagai manusia akan terus meninggi.

Oleh karenanya, wajib hukumnya bagi kita untuk terus belajar, baik itu mempelajari kandungan Al Qur’an sebagai wahyu ataupun alam semesta beserta isinya yang merupakan bagian dari ‘miniatur’ Tuhan. Terus belajar akan bisa mengasah kesadaran untuk memunculkan berbagai kecerdasan.

Kecerdasan fisik (physical intelligence); mengenal fungsi tubuh dan segala manfaatnya. Kecerdasan intelektual (intellectual intelligence); memiliki kemampuan dan kecerdasan matematika, dan kemampuan verbal (the intellectual capacity). Kecerdasan emosional (emotional intelligence); bagaimana seseorang bisa mengendalikan diri, berempati dan menjalin hubungan baik dengan sesama dan alam semesta. Terahir, kecerdasan spiritual (spiritual intelligence); mengetahui diri sendiri (how to know who I am ) sebagai puncak dari segala kecerdasan.

Seseorang yang sudah mengenal siapa dirinya akan melakukan segala tindakan berdasar pada panduan kebijaksanaan batin dan kasih sayang. Tentu, kecerdasan-kecerdasan itu tentu tidak bisa didapatkan, kecuali bagi mereka yang mau belajar tanpa jeda.

 

Wallohua’lam bishawab

 

Facebook Comments

Comments are closed.