Oleh: Esti D. Purwitasasi
mepnews.id – Aan: Gimana, In? Jadi nonton bareng?
Iin: Mendung, An. Aku males.
Aan: Mendung kan bukan berarti mau hujan.
Iin: Iya juga, sih. Lama PDKT pun bukan berarti bisa jadian. Maaf, jadi baper.
Aan: ??!*🤨🥸##🥸😟%&…?
………..
Pembaca yang budiman, istilah ‘baper’ berasal dari singkatan ‘bawa perasaan’. Orang yang mudah baperan merujuk pada kondisi mudah terbawa perasaan atau merasa terlalu sensitif terhadap suatu situasi atau peristiwa tertentu.
Terus, kenapa ada sejumlah orang yang mudah baperan? Ada beberapa faktor psikologis dan emosional yang dapat menjelaskan.
Kondisi emosional seseorang, misalnya saat sedang stres, lelah, atau menghadapi tekanan tertentu, bisa memengaruhi sejauh mana dia merespons situasi. Jika sedang tenang, umumny ia tidak mudah terbawa perasaan.
Hubungan personal dengan orang atau situasi tertentu dapat memainkan peran penting. Pengalaman pribadi masa lalu juga dapat memengaruhi cara seseorang merespons situasi. Apalagi jika dua hal ini saling berkaitan. Maka, responnya bisa sangat emosional.
Beberapa orang tidak memiliki keterampilan emosional yang baik untuk mengelola dan mengatasi perasaan sehingga lebih rentan terhadap reaksi emosional berlebihan. Mungkin dulu terlalu manja dan tidak pernah dilatih untuk menghadapi penolakan.
Jadi, tak usah terlalu berlebihan kalau sekadar menghadapi penolakan dari orang yang ditaksir. Biasa saja, lah. Jangan dikit-dikit, baper. Nanti tidak disulai orang.
Maka, kembangan pemahaman diri dan keterampilan emosional. Kenali kelemahan dan kelebihan diri. Sering-seringlah bicara dengan orang lain untuk mengasah ketrampilan komunikasi. Semakin luas wawasan, InshaAllah penyakit baperan bakal berkurang.


