mepnews.id – Prof Dr Rr Eko Susetyarini MSi, dosen Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengeksplorasi potensi ekstrak daun kembang bulan (Tithonia diversifolia) sebagai alternatif pengobatan diabetes mellitus.
Situs resmi umm.ac.id edisi 29 Desember 2023 mengabrkan, ia menggali potensi tanaman lokal karena tingginya biaya pengobatan diabetes dan potensi efek samping pengobatan konvensional. Juga ada tren masyarakat yang tertarik pada pengobatan alami dan gaya hidup ‘back to nature’.
“Sayangnya, tanaman obat di Indonesia masih terbatas pada jamu. Kadang hanya direbus. Belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT) dan fitofarmaka. Jika berhasil mengembangkan potensi tanaman obat ini, nilai jualnya melonjak tinggi,” jelas Roro selaku ketua tim penelitian.

Tim peneliti UMM mengeksplorasi potensi ekstrak daun Tithonia diversifolia.
Penelitiannya bersama Dr Husamah SPd MPd dosen Pendidikan Biologi dan Fithri Wening Sasmita mahasiswa Pendidikan Biologi ini bertujuan membuktikan efektivitas ekstrak daun kembang bulan untuk menurunkan kadar glukosa darah berdasarkan uji coba pada tikus wistar (Rattus norvegicus).
Tanaman kembang bulan banyak digunakan untuk mengatasi berbagai keluhan seperti sakit perut, kembung, diare, dan anti inflamasi atau anti radang. Berdasarkan penelitiannya, daun kembang bulan juga memiliki peran signifikan sebagai anti diabetes.
Dalam penelitian ini, pemberian dosis ekstrak daun kembang bulan 5,14 ml/200g BB menunjukkan pengaruh paling efektif. Penurunan kadar glukosa darah rata-rata mencapai 136,80 mg/dl. Nilai ini tidak berbeda dengan kelompok kontrol negatif atau normal yang memiliki rata-rata 122,20 mg.
“Meski begitu, masih harus ada penelitian lanjutan. Langkah selanjutnya melibatkan penelitian yang mencangkup keamanan ekstrak terhadap fungsi hati dan ginjal,” tuturnya.
“Perlu juga kajian farmakoekonomi. Apakah bentuk sediaan jamu cukup efektif atau ekonomis dibanding obat kimia yang sudah ada? Perlu pula perbaikan metodologi agar menghasilkan penelitian yang lebih baik,” ia menjelaskan.
Ini merupakan penelitian pertama di Indonesia yang memanfaatkan kembang bulan sebagai obat diabetes. Penelitian ini telah menjadi rujukan hampir 60 peneliti lain sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat luas saat rampung nanti. (Lai/Wil)


