Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Di suatu sekolah, ada anak yang secara akademik tidak mengecewakan tapi secara sosial relatif ketinggalan. Ia sering keringatan saat diminta maju di depan kelas, sering diam saja saat teman-temannya berinisiatif melakukan sesuatu, atau jarang bisa menuntaskan tugas sampai rampung benar.
Saya lalu mengobrol dengan guru yang biasa menanganinya di kelas. Dari situ, saya dapat penjelasan bahwa dia bungsu dari dua bersaudara dengan orang tuanya sangat kaku dan keras. Orang tuanya banyak mengatur dan memberi larangan agar anak-anak mereka aman dari pengaruh tidak baik.
………..
Pembaca yang budiman, saya sependapat dengan keinginan orang tua itu untuk melindungi anak-anaknya. Itu sudah menjadi kodrat dan kewajiban orang tua. Namun, saya kurang sependapat dengan metode pengasuhannya yang terlalu ketat dengan berbagai larangan.
Jangan begini. Jangan begitu. Tak boleh ini. Tak boleh itu. Dilarang begini. Harus begitu. Memang hidup ini penuh aturan yang harus dijalani. Namun, pemberlakuannya kan harus disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan si anak.
Terlalu banyak penggunaan kata ‘jangan’ dan sejenisnya terhadap anak sedapat mungkin dihindari. Secara psikologis, ada sejumlah efek yang kurang positif dalam pengembangan anak.
Anak justru lebih fokus pada perilaku yang dilarang. Saat orang tua berlebihan menggunakan kata ‘jangan’ maka perhatian anak justru ke arah perilaku yang seharusnya dihindari. Ini membuat anak lebih fokus pada apa yang tidak boleh dilakukan daripada memahami apa yang diharapkan dari instruksi orang tua.
Kata-kata ‘jangan’ saja tidak memberikan petunjuk jelas kepada anak tentang apa yang seharusnya dilakukan. Dilarang saja, tapi tidak ditunjukkan bagaimana seharusnya. Ini bisa membuat anak merasa bingung tentang apa yang sebenarnya diharapkan darinya dan bagaimana melakukannya dengan benar.
Penggunaan kata ‘jangan’ yang terlalu sering bisa menyebabkan anak takut dan khawatir berlebihan. Anak menjadi terlalu waspada sehingga enggan mencoba hal-hal baru karena takut melanggar larangan. Jika terus-menerus diingatkan untuk tidak melakukan sesuatu, anak dapat merasa bersalah ketika melakukannya meski tidak sengaja.
Anak pada dasarnya penjelajah dan pembelajar yang alami. Jika terlalu sering diberi instruksi ‘jangan’, maka ini dapat menghambat kemampuannya menjelajahi dunia dengan bebas dan mengembangkan kreativitas. Anak jadi enggan mencoba hal-hal baru karena takut melanggar larangan.
Lalu, bagaimana?
Ada beberapa strategi yang dapat digunakan untuk menggantikan kata ‘jangan’ yang tetap memberikan panduan dan pengendalian efektif namun tetap mendukung perkembangan anak.
Gunakan instruksi positif. Jangan pakai kata ‘jangan’ tapi beri instruksi positif untuk menjelaskan perilaku yang diharapkan. Misalnya, ganti “Jangan lari-lari di dalam rumah,” dengan “Berjalanlah dengan tenang di dalam rumah.” Ini lebih membantu anak memahami tindakan yang harus dilakukan dan panduannya lebih jelas.
Berikan alasan dan penjelasan. Jangan hanya melarang tanpa alasan, tapi berikan penjelasan mengapa perilaku tertentu perlu dihindari. Misalnya, daripada mengatakan “Jangan makan kue sebelum makan malam,” tapi katakanlah “Kue adalah camilan. Kita harus makan makanan sehat dulu agar tubuh kita kuat.” Ini membantu anak memahami logika di balik aturan dan bisa mengembangkan pemahaman baik tentang pilihan.
Berikan alternatif. Jika ada perilaku yang dilarang, tunjukkan pada anak pilihan yang dapat dilakukan sebagai pengganti. Jangan perintahkan,”Jangan main game sepanjang hari.” Lebih baik, katakan, “Setelah belajar, kamu bisa bermain di luar atau ke lapangan basket.” Dengan memberikan alternatif, Anda memberi anak kesempatan mengarahkan energi ke aktivitas yang lebih positif.
Gunakan magic word, “boleh, tapi…” Ini alat efektif untuk memberikan panduan pada anak dengan cara lebih positif. Anda memberikan batasan atau saran dengan cara lebih fleksibel dan memberikan ruang bagi anak untuk merasa didengarkan dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Saat anak meminta sesuatu, Anda bisa menjawab misalnya, “Boleh, tapi 15 menit saja ya karena kita harus segera pulang.”
Yang tak kalah penting, jadilah contoh yang baik. Anak cenderung meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, Anda sebagai orang tua atau pengasuh perlu memberi contoh yang baik. Pastikan Anda mengikuti aturan yang sama yang Anda berikan kepada anak, sehingga anak melihat Anda sebagai model yang baik.


