Jangan Keseringan Overthinking, Ah…

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Apa sih overthinking itu?

Overthinking adalah kecenderungan seseorang untuk terus-menerus memikirkan atau mengkhawatirkan suatu hal, masalah, situasi, atau kejadian secara berlebihan atau berulang-ulang tanpa ada kemajuan signifikan dalam pemecahan masalahnya atau pengambilan keputusan.

Anak belum pulang dari main empat jam lalu saja dipikiri habis-habisan. Semua tetangga didatangi, kerabat ditelponi, sampai-sapai lapor Pak Polisi. Padahal anaknya ternyata ketiduran di mushola kampung setelah main bola bareng temannya.

Overthinking itu miserable. Menyedihkan. Orang terjebak dalam kepalanya sendiri, menyiksa diri berjam-jam bahkan terkadang berhari-hari. Terperangkap dalam pola pikir obsesif. Berulang kali mengulang pemikiran yang sama, bahkan cenderung memperbesar masalah atau menciptakan skenario negatif.

Akibatya, muncul dampak negatif pada kondisi mental dan fisik seseorang.

Overthinking menyebabkan kecemasan berlebihan dan mengganggu. Pikiran yang terus-menerus berputar dan skenario negatif dapat meningkatkan kecemasan. Jika berkelanjutan, ini dapat memicu atau memperburuk gejala depresi.

Overthinking dapat meningkatkan ketidakstabilan emosional. Perasaan cemas, khawatir, dan tegang yang terus-menerus dapat membuat orang rentan terhadap perubahan suasana hati yang tiba-tiba. Tak heran jika orang jadi susah tidur atau insomnia.

Karena susah tidur dan energi terkuras, orang bisa jadi kelelahan berlebihan dan kekurangan daya tahan fisik. Biasanya ini diiringi gangguan sistem pencernaan sehingga menyebabkan mual, muntah, diare, atau sembelit. Overthinking kronis dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, gangguan imun, dan gangguan sistem kekebalan.

Penyebabnya ada banyak faktor.

Orang yang punya sifat mudah cemas atau punya gangguan kecemasan lebih rentan terhadap overthinking. Ia mudah terjebak siklus pikiran yang berulang dan berkepanjangan tentang kemungkinan buruk atau skenario negatif yang tidak realistis.

Perfeksionis alias orang yang memiliki standar tinggi untuk mencapai kesempurnaan seringkali lebih mudah terperangkap overthinking. Mereka cenderung terlalu menganalisis setiap detail, sering memperbesar kesalahan kecil, atau justru takut melakukan kesalahan.

Rendahnya rasa percaya diri dapat menyebabkan overthinking. Seseorang mungkin meragukan kemampuan dirinya sendiri, lalu membandingkan dengan kemampuan orang lain. Ini membuat ia terlalu panjang berfikir hingga takut membuat kesalahan atau keputusan salah.

Pengalaman traumatis masa lalu, misalnya kehilangan seseorang atau sesuatu yang signifikan, dapat memicu overthinking. Pikiran yang berulang tentang kejadian tersebut atau upaya untuk mengatasi trauma dapat menyebabkan seseorang terjebak dalam siklus pikiran yang tidak produktif.

Faktor lingkungan yang tidak pasti juga bisa membuat seseorang overthinking. Misalnya ketidakpastian tentang masa depan atau menghadapi keputusan yang sulit. Dalam kondisi ini, seseorang bisa terus mempertanyakan pilihan yang tersedia, meragukan diri, dan memprediksi tanpa henti atas konsekuensi setiap tindakan yang diambil.

Lingkungan yang berlebihan atau tekanan sosial yang tinggi dapat mempengaruhi seseorang terjebak dalam overthinking. Misalnya, kebutuhan untuk memenuhi harapan orang lain atau ketakutan atas penilaian negatif orang lain dapat memicu pola pikir seseorang.

Orang yang overthinking bisa juga karena tidak mampu melepas kekhawatiran, mengurangi kecemasan, menaikkan rasa percaya diri, membuang trauma masa lalu, dan lain-lain.

Jadi, boleh lah kita berpikir secara kritis dan mempertimbangkan berbagai aspek suatu masalah. Itu baik karena membuat kita jadi lebih siap menghadapi segala kemungkinan. Namun, overthinking bisa menjadi masalah ketika mulai menghambat fungsi normal mental kita dan mengganggu kualitas hidup kita.

Jangan keseringan overthinking ya… Santai saja.

Facebook Comments

Comments are closed.