Eforia Tensi Tinggi dalam Final Sepakbola SEA Games 2023

Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM

mepnews.id – Jujur saja, saya nggak ahli permainan sepakbola. Tapi, saya tertarik dengan tanding Indonesia vs Thailand di final SEA Games 2023 karena dua hal. Pertama, saya orang Indonesia sehingga ada rasa melu handarbeni (turut memiliki) dan bersolidaritas dengan tim Merah-Putih. Kedua, karena ada kericuhan massal di bench di Olympic Stadium.

Kalau ada pemain bentrok dengan pemain di lapangan, itu menurut saya wajar saat ada pelanggaran. Setahu saya, itu segera diurus wasit dengan memberikan peringatan lewat kartu kuning atau merah. Tapi, ricuh di bench ini menarik perhatian saya. Lebih-lebih, sampai ada ofisial Indonesia yang ditandu untuk mendapat perawatan.

Leonard Berkowitz, pada 1980-an, banyak meneliti tentang agresifitas. Ia juga menjadi salah satu pengembang Teori Desintegrasi Kendali (Breakdown Theory) yang antara lain juga dikembangkan Albert Bandura. Berkowitz mengembangkan teori ‘agresi terprovokasi’. Bandura mengembangkan teori ‘efek desinhibisi.’

Emosi tinggi, menurut-teori-teori di atas, dapat mengganggu kemampuan orang untuk mengendalikan perilaku. Ketika muncul emosi kuat, antara lain dalam bentuk kegembiraan atau kemarahan, perhatian dan fokus orang itu teralihkan oleh emosi sehingga ia kehilangan kendali. Kondisi ini dapat mengganggu proses pengambilan keputusan rasional dan mempengaruhi kemampuan untuk menahan diri.

Menurut Berkowitz, situasi-situasi yang memicu emosi negatif semacam itu dapat mengurangi kontrol diri dan meningkatkan kecenderungan orang berperilaku agresif. Menurut Bandura, emosi yang kuat dan situasi yang memfasilitasi dapat mempengaruhi perilaku seseorang untuk agresif.

Boleh dikata, kondisi sosial semua pertandingan final sepakbola pasti penuh ketegangan. Semakin tinggi tingkatan, semakin intens pula ketegangannya. Begitu juga dengan partai final yang mempertemukan Indonesia dan Thailand. Kedua tim sama-sama sudah melewati masa penyisihan hingga semifinal ketat, dan sudah sampai puncak.

Suasana tegang ini tidak hanya dirasakan pemain yang bertanding di tengah lapangan. Para ofisial dan pemain cadangan di bench pun merasakan. Bahkan, penonton langsung di stadion dan penonton siaran televisi yang jauh dari stadion pun ikutan tegang. Jalannya pertandingan seolah penuh drama.

Ketika unggul 2-0 di babak pertama, tim Indonesia seperti sudah ada di atas angin. Namun, ketegangan di kubu Indonesia mulai terasa saat pemain Thailand membobol gawang Indonesia di babak kedua. Saat skor 2-1, intensitas ketegangan makin meninggi.

Salah satu puncak ketegangan terjadi pada saat-saat terakhir babak kedua. Thailand bisa menyamakan kedudukan dan untuk sementara melenyapkan mimpi Indonesia merebut emas. Nah, pada saat ini, terjadi eforia berlebihan di antara ofisial di bench yang memicu perilaku yang tidak semestinya.

Sejumlah pemain dan ofisial tim Thailand melakukan selebrasi di depan bench tim Indonesia. Pemilihan tempat selebrasi ini tentu memicu kericuhan. Bench kedua tim memang berdekatan di salah satu sisi stadion. Tapi, ketika pemain dan ofisial Thailand berselebrasi di depan bench Indonesia, tentu ada efek psikologisnya.

Tak pelak, ada pemain atau ofisial yang tidak bisa mengontrol diri. Terjadi kericuhan. Untuk mengontrol keadaan, wasit memberikan kartu merah kepada pemain Indonesia dan pemain Thailand. Keadaan lebih terkontrol karena sesaat kemudian pertandingan dihentikan karena waktunya habis.

Tapi, intensitas ketegangan masih tinggi. Bahkan, makin tinggi karena masing-masing tim punya kesempatan merebut kemenangan di waktu tambahan. Tim Thailand, yang sempat tertinggal dua gol lalu menyamakan kedudukan, tentu ngotot melanjutkan grafis kenaikan permainan. Indonesia, yang kecolongan satu gol pada saat-saat terakhir, tentu ingin mengembalikan keadaan.

Nah, ketika pertandingan baru dimulai dan pemain Indonesia langsung mencetak gol, muncul eforia lagi. Kali ini, eforia dari pihak Indonesia dan terjadi di dekat bench Thailand. Seolah-olah, ini eforia revans atas tim Thailand sebelumnya. Tak pelak, terjadi kericuhan lagi. Puncak ketegangan ini meletus lebih panas daripada sebelumnya.

Perilaku tak terkontrol ini berubah menjadi sejumlah kekerasan. Sempat terjadi insiden pemukulan dari ofisial Thailand terhadap sejumlah ofisial Indonesia. Sampai-sampai, ada beberapa orang terluka, dipapah, lalu ditandu ke ambulans.

Eforia sepakbola bisa menimbulkan kerusuhan karena kombinasi beberapa faktor. Dalam suasana yang terlalu bersemangat atau tegang, orang cenderung bisa kehilangan kendali dan melupakan batasan moral. Emosi tinggi dan ketidakstabilan dapat mengarah pada tindakan impulsif dan agresif. Faktor berikutnya adalah rivalitas. Persaingan yang intens kedua pihak dapat menciptakan ketegangan tinggi dan menjadi pemicu konflik.

Maka, semua pihak harus berlajar dari insiden Olympic Stadium di Kamboja pada 16 Mei 2023 ini. Sepakbola adalah permainan cantik. Jangan coreng kecantikan ini dengan sikap emosional berlebihan yang menyebabkan perilaku tak wajar hingga terjadi kekerasan.

 

Facebook Comments

Comments are closed.