Kecemasan Ternyata juga Karena Genetik

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Anda orang gampang cemas? Saat orang lain biasa saja menghadapi kondisi tertentu, Anda justru lebih cemas? Jika ya, siapa tahu Anda punya penanda genetik pencemas.

Penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications menemukan gen di otak yang mengatur gejala kecemasan. Tim ilmuwan internasional yang dipimpin peneliti di Universitas Bristol dan Exeter ini juga menemukan, memodifikasi gen itu dapat mengurangi tingkat kecemasan. Maka, kelak bakal ada target obat baru untuk gangguan kecemasan.

Gangguan kecemasan terjadi pada satu dari empat orang yang didiagnosis gangguan setidaknya sekali seumur hidup. Trauma psikologis parah dapat memicu perubahan genetik, biokimia, dan morfologis pada neuron di amigdala otak. Amiglada adalah wilayah di otak yang terlibat dalam kecemasan akibat stres yang menyebabkan timbulnya gangguan kecemasan, termasuk kondisi panik dan gangguan stres pascatrauma.

Masalahnya, obat anti-kecemasan yang tersedia saat ini relatif kurang manjur. Data menyebutkan, lebih dari separo pasien tidak mencapai remisi setelah pengobatan. Obat ansiolitik (anti-kecemasan) kuat umumnya dibuat dari pemahaman yang kurang pas tentang sirkuit saraf tertentu yang mendasari kecemasan dan peristiwa molekuler yang mengakibatkan keadaan neuropsikiatri terkait stres.

Maka, dalam penelitian terbaru ini, para ilmuwan berusaha mengidentifikasi peristiwa molekuler di otak yang mendasari kecemasan. Mereka fokus pada sekelompok molekul yang dikenal sebagai miRNA pada model hewan. Kelompok molekul penting ini juga ditemukan di otak manusia. Molekul miRNA mengatur banyak protein target yang mengendalikan proses seluler di amigdala.

Setelah pengamatan sejumlah stres akut, tim menemukan peningkatan jumlah satu jenis molekul yang disebut miR483-5p di amigdala tikus. Tim menunjukkan, peningkatan miR483-5p menekan ekspresi gen lain, yakni Pgap2, yang pada gilirannya mendorong perubahan morfologi saraf di otak dan perilaku yang terkait kecemasan. Nah, para peneliti menunjukkan, miR-483-5p bertindak sebagai rem molekuler yang mengimbangi perubahan amigdala yang disebabkan stres untuk menghilangkan kecemasan.

Penemuan jalur amigdala miR483-5p/Pgap2 di otak dan responsnya terhadap stres adalah batu loncatan pertama menuju penemuan pengobatan baru yang lebih kuat dan sangat dibutuhkan untuk gangguan kecemasan.

Valentina Mosienko, penulis utama studi tersebut yang juga dosen Ilmu Saraf di Sekolah Fisiologi, Farmakologi, dan Ilmu Saraf di Bristol University, menjelaskan, “Stres dapat memicu timbulnya sejumlah kondisi neuropsikiatri yang berakar pada kondisi merugikan. kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Tingkat stres yang rendah bisa diimbangi oleh kemampuan alami otak untuk menyesuaikan diri. Namun, pengalaman traumatis parah atau berkepanjangan dapat mengatasi mekanisme perlindungan ketahanan stres. Ini bisa yang mengarah pada perkembangan kondisi patologis seperti depresi atau kecemasan. Temuan kami, miRNA secara strategis siap mengendalikan kondisi neuropsikiatri yang kompleks. Tetapi, mekanisme molekuler dan seluler yang mereka gunakan untuk mengatur ketahanan dan kerentanan terhadap stres sebagian besar tidak diketahui sampai sekarang. Akhirnya, kami mengidentifikasi jalur miR483-5p/Pgap2 dalam penelitian. Ini aktivasi yang memberikan efek pengurangan kecemasan, dan bisa menawarkan potensi besar untuk pengembangan terapi anti-kecemasan untuk kondisi kejiwaan kompleks pada manusia.”

 

Facebook Comments

Comments are closed.