mepnews.id – Pernah dengar negara bernama Gambia?
Gambia negara kecil di Afrika Barat yang dikelilingi negara Senegal serta Samudra Atlantik di sebelah barat. Luas wilayahnya hanya 10.689 km persegi dan sebagian besar terletak di lembah Sungai Gambia. Di negara ini, Islam menjadi agama mayoritas yang dianut 95% populasi. Ada banyak masjid pusat kegiatan keagamaan. Banyak lembaga pendidikan Islam, dan hampir semua lembaga pendidikan mengajarkan Islam. Ada banyak perayaan keagamaan termasuk Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, dan lain-lain.
Nah, dari jarak 14.430 km itu, Haja Aisata Rajai Jallow dan Matty Senghore datang ke Surabaya untuk belajar di Universitas Negeri Surabaya. Dari negeri tropik sedikit di atas garis khatulistiwa, mereka datang ke kota yang juga tropis tapi sedikit di selatan garis khatulistiwa. Lewat situs resmi unesa ac.id, mereka menceritakan pengalaman menjalani puasa di Surabaya.
Haja Aisata Rajai Jallow, yang lebih suka disapa Isata, mengatakan durasi puasa di Indonesia lebih cepat ketimbang di Gambia karena perbedaan waktu. Tapi itu tidak terlalu mengherankan dia. Yang mengherankan justru saat ia melihat para pria sholat menggunakan sarung. Di Gambia, pria sholat menggunakan celana atau kadang setelan gamis.
Menurut wanita yang pernah berhaji ke tanah suci itu, kain yang menyerupai sarung hanya digunakan kaum perempuan di Gambia. Meski demikian, ia memuji sarung yang seperti menjadi ciri khas pria Indonesia. Warnanya bagus dan variatif, tampak elegan dan praktis.
Isata juga merasakan suasana berbeda ketika menjelang buka puasa atau yang ia sebut iftar. Menurutnya, kebanyakan anak-anak muda Indonesia cenderung mencari takjil di luar atau makan di luar ketimbang di rumah. Kalau di Gambia, orang cenderung memasak dan berbuka puasa di rumah sehingga ada suasana akrab saat persiapan maupun saat makan.
“Saya mengira di sini banyak yang masak di rumah dan orang-orang senang berkumpul bersama keluarga. Tapi ternyata di sini ada banyak yang membeli takjil di luar,” ucapnya.
Karena itu, Matty mengungkapkan ia jarang membeli takjil di luar kendati banyak yang menjual. Ia bersama Isata lebih suka masak di rumah. Selain karena kebiasaan di negara asal, memasak sendiri juga lebih menjamin kandungan makanannya sekaligus lebih irit.
Karena kebiasaan di Gambia, mereka juga berbagi kepada sesama atau berbagi rezeki di bulan Ramadhan. Bisa dalam bentuk makanan mentah maupun makanan siap santap.
Bagi mereka, semangat berbagi orang-orang Indonesia terbilang tinggi. Ramah dan dermawan karena suka menolong dan memberi kepada sesama. Ada yang berbagi takjil jelang buka puasa, ada yang membaca Al-Qur’an setelah tarawih, bahkan banyak yang berbagi rezeki pas hari Jumat. (Joy Nathanael/Adhim Latif Aliy)


