Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Sis, anakku kemarin menangis tersedu-sedu,” begitu curhat seorang mamah muda di kantor saya.
“Kena apa?” saya balik bertanya.
“Dia bilang, ‘Mama pernah makan aku, ya?”
“Loh, koq sampai dia bertanya begitu. Apa penyebabnya?”
“Aku pernah menunjukkan foto rontgent saat dia masih janin. Awalnya ia hanya diam saja. Beberapa hari kemudian ia mulai bertanya-tanya apa aku pernah memakan dia koq sampai ia ada di perutku?”
“Oalah…. anakmu mulai berfikir kritis, Sis. Arahkan yang baik, agar kelak ia jadi anak yang pinter dan bijaksana.”
…………
Pembaca yang budiman, sungguh anugerah besar jika anak kita mulai bisa belajar berfikir kritis. Jika dibina dengan baik, anak yang berfikir kritis biasanya punya kemampuan belajar lebih, cepat mempertanyakan, menilai, dan memproses informasi dengan kritis, dan dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang topik atau masalah yang disukai.
Selain itu, anak yang berfikir kritis cepat mengembangkan keterampilan analitis, meningkatkan kreativitas, dan lebih luwes dalam bergaul. Berfikir kritis juga memudahkan anak untuk memecahkan masalah, mampu berpikir mandiri, dan cepat mendapatkan jawaban atas permasalahn yang dihadapi.
Tanda-tanda anak yang berfikiran kritis antara lain, ia suka mengajukan pertanyaan. Kadang, pertanyaannya aneh-aneh. Bisa pertanyaan yang terkait situasi sehari-hari atau dalam konteks akademis. Biasanya, ia tidak puas dengan jawaban yang sederhana atau yang tidak memuaskan.
Ia juga biasa menilai informasi secara kritis. Nggak gampang percaya. Ia mempertanyakan sumber informasinya, mengevaluasi kebenaran dan keandalan informasi tersebut. Bahkan, ia sering membuat argumen. Ia dapat mengumpulkan dan menyusun informasi dengan baik untuk mendukung pendapatnya dan menjelaskan alasan di balik pendapatnya.
Jika anak menunjukkan tanda-tanda seperti ini, maka bimbing ia dapat berpikir secara kritis dan bijaksana. Kritis saja, jika kurang bijaksana, tentu tidak baik. Maka, bimbing ia untuk membantu berkembang lebih lanjut. Bagaimana caranya?
Ajarkan anak untuk tidak selalu mengambil informasi begitu saja. Dorong anak mencari informasi dari sumber yang berbeda dan menganalisis informasi secara kritis. Ajarkan pula teknik mengevaluasi informasi, Ajarkan untuk mengevaluasi kebenaran, keandalan, dan keobjektifan informasi.
Latih anak untuk membuat argumen yang baik dan santun. Boleh membuat argumen dari semua sudut pandang dan logikanya, tapi jangan sampai cara menyampaikan argumen itu menyakiti pihak lain. Ajarkan anak untuk mempertimbangkan sudut pandang orang lain. Ini membantu ia memahami sudut pandang berbeda dan menemukan solusi yang lebih baik.
Berikan kesempatan anak untuk memecahkan masalah dengan cara yang kritis dan bijaksana. Dorong ia melihat dan mempertimbangkan berbagai solusi sebelum membuat keputusan. Pahamkan juga agar anak perlu mempertimbangkan konsekuensi tindakannya.
Yang tak kalah penting, berikan contoh pada anak. Jangan takut berbicara tentang keputusan yang dibuat dan bagaimana mempertimbangkan sudut pandang lain sebelum membuat keputusan.
Secara keseluruhan, mengajari anak-anak untuk berpikir kritis secara bijaksana melibatkan pembelajaran dan latihan berkelanjutan. Dengan memberikan dukungan dan kesempatan yang tepat, anak-anak dapat memperoleh keterampilan ini dan menjadi pemikir lebih cerdas dan bijaksana.


