Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Saat duduk di kantin sekolah untuk anak-anak balita, saya sempat nguping ibu-ibu yang ‘diskusi’ tentang seorang murid yang bukan salah satu dari anak mereka.
“Eh, Si Fulan itu aneh ya. Sukanya meremehkan temannya. Iya kalau gambarnya bagus. Wong sama gambar anakku saja gambarnya kalah bagus,” kata seorang mama.
Mama yang lain menimpali. “Iya, betul. Aku lihat waktu anakku tunjukkan gambar ke Fulan. Eh, ia malah melengos.”
Mama ketiga menegaskan, “Iya, nggak respek sama sekali. Mungkin, di rumah, ia tidak pernah diajari menghargai anak lain.”
Para pembaca yang budiman, obrolan semacam ini gampang kita dengar di tempat bertemunya mama-mama. Wajar lah. Maka, saya tidak akan membahas obrolan mereka. Saya lebih tertarik membahas apa yang mereka obrolkan.
Jika Si Fulan tidak respek pada temannya, itu bisa dipahami.
Anak tidak dilahirkan dengan konsep rasa hormat terhadap orang lain sebagaimana yang biasa dikenal orang-orang dewasa. Setelah dilahirkan, bayi justru memanipulasi dunia untuk memenuhi kebutuhan egonya dan kebutuhan fisiknya. Salah satu cara agar kebutuhannya dipenuhi adalah menangis. Saat lapar atau perlu dipeluk, misalnya, bayi menangis tanpa mempedulikan orang-orang sekitar sedang sibuk apa.
Saat masa pertumbuhan, ada banyak alasan mengapa anak kecil mungkin berlaku tidak sopan atau tidak mau menghargai anak atau orang lain. Bisa jadi perilaku itu tidak disengaja, di lain waktu bisa jadi itu memang disengaja.
Kadang, anak kecil berperilaku demikian karena sedang marah atau sedang kewalahan menghadapi sesuatu. Perilaku dan bahasa tidak sopan atau tidak menghargai anak/orang lain bisa muncul begitu saja ketika anak itu sedang emosi. Perasaan itu ‘mendorong’ perilaku sadarnya untuk mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak pantas.
Kadang, anak kecil berperilaku demikian karena tidak sempat memikirkannya. Saat si anak sedang sangat asyik dengan aktivitas tertentu, lalu tiba-tiba merasa terganggu oleh anak/orang di sekitarnya, ia secara spontan berkata atau berperilaku tidak sopan yang tidak menghargai anak/orang lain.
Ini tidak berarti dia berniat untuk tidak menghargai anak/orang lain. Juga, ini tidak berarti dia melupakan pelajaran positif yang telah diajarkan orang tua dan guru. Sebaliknya, bisa jadi ini menunjukkan si anak mengalami kesulitan membagi perhatian antara aktivitasnya sendiri dengan gangguan dari anak/orang lain.
Maka, jika belum paham betul permasalahan atau kondisinya, jangan keburu suudzon Si Fulan tidak menghargai anak lain. Bisa jadi, dugaan atau prasangka kita keliru. Kalau toh benar, bisa jadi perspektif pandang kita belum cukup luas tentang Si Fulan.
Di sisi lain, orang tua atau guru Si Fulan tentu perlu mengajari dan memberi contoh bagaimana menghargai anak/orang lain. Respek itu konsep abstrak yang cukup rumit bagi cara berpikir anak kecil. Maka, menjadi kewajiban pihak yang dewasa lah untuk mengajarkan pada anak kecil tentang praktik respek.
Bagaimana caranya? Beri contoh nyata daripada sekadar mengatakannya.


