Gagal Ginjal Anak; Ini Penjelasan Dokter UMM

mepnews.id – Fenomena gagal ginjal mendadak menjadi fenomen mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan RI, per 24 Oktober, mencatat  255 anak mengalami gagal ginjal akut dan 143 di antaranya meninggal. Tidak ditemukan virus, bakteri, atau bibit penyakit lainnya. Pmerintah menduga, itu terkati dengan sirup.

dr Pertiwi Febriana Chandrawati SpA MSc, Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dalam program UMMTalks yang dikutip situs resmi umm.ac.id, memberikan penjelasan keterkaitan obat sirup dan penyakit tertentu pada anak.

dr Pertiwi

Menurut penjelasan Pertiwi, gagal ginjal menyebabkan peningkatan kreatinin yaitu penurunan fungsi darah disertai penurunan urin atau urin tidak bisa keluar sama sekali. Dua kriteria suspek gangguan ginjal anak adalah Oliguria dan Anuria.

“Oliguria adalah kencing sedikit selama 6 hingga 8 jam. Jadi, anak usia satu tahun, setidaknya dalam 6-8 jam harus ganti pampers. Kalau di pampernya kencingnya masih sedikit, orang tua harus hati-hati karena bisa jadi anaknya terkena Oliguria,” kata Pertiwi.

Dosen Ilmu Kesehatan Anak FK UMM itu menjelaskan, Anuria artinya tidak adanya kencing dalam waktu 12 jam atau lebih. Ini juga harus diwaspadai mengarah ke gangguan ginjal.

Menurutnya, seluruh sirup atau obat berbentuk cair pasti mempunyai bahan pelarut. Pelarut yang aman adalah polyethylene glycol atau polyethylene oxide. Keduanya memiliki batas aman secara internasional dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Tapi, ada pelarut yang tidak diperkenankan penggunaannya ke manusia. Ethylene glycol dan diethylene glycol pelarut yang biasanya digunakan untuk industri, bukan untuk manusia. Jika dikonsumsi anak-anak, efek sampingnya pusing kepala, muntah dan kemungkinan terparahnya gangguan ginjal,” terang Pertiwi.

Berkaca dari kasus di Gambia, dipastikan beberapa obat sirup menggunakan pelarut terlarang dan mengakibatkan gagal ginjal. Maka, Pertiwi mengimbau para orang tua untuk tidak memberi obat sirup pada anak. Seruan ini senada dengan yang dianjurkan BPOM, Kemenkes dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

“Sebaiknya pakai obat puyer dulu. Agar anak mau meminum obat puyer, gunakan pemanis buatan sendiri misalnya gula atau teh manis. Ini cukup efektif untuk sementara waktu,” sarannya.(ros/wil)

Facebook Comments

Comments are closed.