Rakyat Yakin Masa Depan Bojonegoro Cerah

mepnews.id – Rembuk Bojonegoro  bertema ‘Bojonegoro Masa Depan, Realitas dan Harapan’ oleh KSK (Kajian Sor Keres), berhasil digelar pada Selasa, 27 September 2022 di Hotel Aston Bojonegoro, meski sempat ada upaya penggagalan acara sepekan sebelum digelar.

“Isu nuansa politis beredar sampai kepada nara sumber bahkan pada peserta yang akan hadir,” Kata Dry Subagio selalu Ketua KSK dalam sambutannya.

Ia menegaskan, niat awal berdirinya KSK tidak lain adalah sebagai perkumpulan yang intens melakukan kajian dan analis, untuk kemudian memberikan kontribusi positif, khususnya terhadap lahirnya kebijakan yang menyangkut kepentingan publik.

“KSK itu wadah bagi semua, maka insya Allah tetap mampu bertahan di tengah gempuran,” tambahnya.

Wakil Bupati Bojonegoro Budi Irawanto, yang hadir dalam pembukaan, sangat mengapresiasi acara ini dan berharap KSK menjadi people power yang mampu berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat untuk memikirkan arah Bojonegoro masa depan lebih baik.

Menyempurnakan acara pembukaan, sebelum doa dilakukan pengumuman dan sekaligus penerimaan penghargaan bagi pemenang lomba penulisan asai bagi siswa dan mahasiswa dengan tema ‘Andai Aku Jadi Bupati Bojonegoro’.  Pengumuman dibacakan Sholehah Yuliati, mewakili kedua juri lainnya; Abdus Syafiq dan M. Yazid Mar’i.

Alfico Ihsanur HK juara 1 dengan total nilai 87 dari MANA 1 Bojonegoro, Nava Rahmadiyanti juara 2 total nilai 85 dari SMAN 1 Bojonegoro dan juara 3 Meliy Nanda Purnama dari MA Al Munawar Dander.

Setelah coffee break, Rembug Bojonegoro bersama enam profesor – foktor dimulai. Sesi dibuka Abdus Syafiq dan Nur Faqih selaku moderator, masing-masing panelis berkesempatan memotret Bojonegoro dalam 7 – 8 menit.

Berkesempatan sebagai mara sumber pertama adalah Prof Dr M. Syamsul Huda, MFilI dari UIN Surabaya. Guru besar yang lahir di Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, ini memaparkan, Bojonegoro merupakan salah satu kabupaten yang memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) cukup besar, namun belum  seimbang dengan tingkat Sumber Daya Manusia (SDM). Bahkan sangat ironi. Dengan APBD senilai Rp 7,03 triliun, data kemiskinan masih 13 persen.

Ia menyarankan melalui APBD besar ini bagaimana Bojonegoro memiliki pendidikan tinggi berstandar internasional. ” Ini harus dimulai. Jika tidak, ini akan memunculkan persoalan ke depan.”

Menurutnya, ada empat jembatan untuk Bojonegoro masa depan; start up and incubator, UCE (University Community  engagement), digital skill and creativity center, dan service learning program.

Dr Teguh Haryono, putra kelahiran Sidorejo Kecamatan Kedungadem, menyebut betapa pentingnya membangun image Bojonegoro. Alasannya, terkadang cerita itu lebih penting daripada realita.

Ia lalu memberi contoh beberapa geopark di luar negeri. Bojonegoro punya geopark, dan tinggal satu langkah lagi dapat mendunia.

Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan kekayaan alam sebagai sumber pendapatan daerah, agar generasi penerus tidak mengalami keterpurukan.

Ia mengingatkan, perlu komunikasi dan kolaborasi antar elemen masyarakat hingga dapat mendorong dan mampu mempengaruhi kebijakan.

“Penghasilan minyak bukan suatu yang abadi. Suatu saat akan menurun. Bagaimana kondisi Kabupaten Bojonegoro agar tidak mengalami penurunan lagi? Maka pembangunan SDM adalah keharusan mutlak,” kata Dr Teguh.

Pembicara ketiga, Prof Muslih. Putra asli Balen Bojonegoro ini salah satu pendiri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Ia menyatakan, Bojonegoro harus dibagun dengan tiga landasan; filosofis, yuridis, dan  etis, agar dapat mewujudkan harmoni. Arti lain, memanusiakan manusia atau mengenal sangkan parane dumadi.

Pembicara keempat, Prof Widodo Rektor Universitas Brawijaya. Pria kelahiran Desa Ngadilyhur Kecamatan Balen ini mengungkapkan, kehadirannya pada kegiatan ini juga mengajak dua dosen yang juga asli Bojonegoro.

“Dengan APBD yang begitu besar dan jumlah SiLPA juga banyak, kita sepakat berfikir untuk memprioritaskan peningkatan dan pengembangan SDM. Infrastruktur, menurut saya, sudah cukup bagus di Bojonegoro,” ungkapnya.

Dari kalkulasi demografis Bojonegoro, nampak bahwa jumlah anak atau pemuda lebih sedikit dibanding orang tua.

“Sehingga anak-anak muda nantinya menyangga beban, terlebih kehidupan orang tua itu lebih lama. Tetapi, yang menggembirakan, anak-anak ini adalah generasi Z dan generasi millenial yang sudah terbiasa menggunakan elektronik,” paparnya.

“Data dari BPS, 70% masyarakat di Bojonegoro ini pengguna telepon genggam dan 53% sudah terbiasa menggunakan internet. Sayangnya mereka mengakses internet hanya untuk hiburan, sehingga dengan begitu dari segi edukasi itu sangat kurang.’

Ia menambahkan, minyak yang dihasilkan dari bumi Bojonegoro merupakan anugerah dari Tuhan, tapi suatu saat akan habis. Diharapkan, uang dari minyak dapat digunakan untuk mendorong proses pembangunan SDM sebab itu sangat penting.

Berikutnya Dr Ir Jupriyanto dosen Universitas Pertahanan. Pria asal Desa Bonorejo, Kecamatan Ngasem, ini mengapresiasi terselenggaranya Rembug Bojonegoro yang digagas KSK.

“Terima kasih telah mengundang kami, dan mengajak untuk berfikir tentang masa depan Bojonegoro.”

Mengawali paparannya, ia mengingatkan sumber penghasilan terbesar Kabupaten Bojonegoro dari oil and gas itu tidak akan bertahan lama,

“Ya kira-kira 20 sampai 30 tahun lagi akan habis. Maka, jangan sampai nanti kalau penghasilan dari sektor migas anjlok, dan bumi mengalami kerusakan, SDM kita masih tetap saja dan tidak ada perkembangan,” ia mengingatkan.

Menurutnya, yang diperlukan dalam industrialisasi tak hanya biaya, namun juga hilirisasi. Seperti halnya dalam dunia pendidikan, juga sangat diperlukan kebutuhan hilirnya.

“Oleh karenanya, anggaran itu penting, tapi juga butuh membangun sistem yang benar-benar bermanfaat bagi keberlangsungan dari industrialisasi itu sendiri,” terang Jupriyanto.

Berikutnya, Ismail Fahmi PhD putra asli Desa Kenep, Kecamatan Balen. Ia menjelaskan tentang menyongsong masa depan Bojonegoro dengan mempersiapkan strategi smart village.

“Jadi, Bojonegoro masa depan, realita dan harapan, bagi saya adalah smart village. Menjadikan pusat kunjungan itu ke desa-desa, bukan di kota. Secara kelas, Bojonegoro itu tidak hanya dibandingkan dengan kabupaten lain, namun sudah saatnya dibandingkan dengan negara lain,” ia mengingatkan.

Pembicara terakhir, Dr. Muhammad Imam Nasirudin (Pruri). Ia menyampaikan pesan secara birtual di tengah kedibukannya di Jerman.

Menurutnya, Bojonegoro dengan APBD besar ini perlu kekuatan masyarakat alias people power untuk menentukan arah kebijakan, tidak peduli siapapun pemimpinnya,

Jika masyarakat kuat, pimpinan harus tunduk pada keinginan rakyat. Bukan sebaliknya; rakyat tak berdaya dan tunduk pada penguasa.

Ia menilai, apa yang dilakukan KSK bisa menjadi wadah bertemunya ide-ide, yang nanti harus masuk pada simpul sebelum lahir kebijakan publik. “Harus, agar kekayaan Bojonegoro bermanfaat bagi rakyat Bojonegoro.”

Meski antusiasme nara sumber dan komunitas masyarakat yang hadir pada ‘Rembug Bojonegoro Part 1’ ini masih tinggi, moderator terpaksa mengakhirinya karena keterbatasa waktu.

Mewakili KSK, moderator menyampaikan terima kasih pada seluruh nara sumber dan peserta yang hadir atas cintanya kepada tanah kelahirannya Bojonegoro.

(M.Yazid Mar’i)

Peserta rembug dan para pemateri berfoto bersama usai acara.

 

 

 

 

Facebook Comments

Comments are closed.