Ketua LPA Surabaya Sarankan Pakai Hotpants

mepnews.id – Siang pukul 12.00, 12 September 2022, 36 siswa dan siswi Surabaya Grammar School berkumpul di ‘party room’ di gedung sekolah kawasan Grand Pakuwon Surabaya. Sepuluh siswa dan siswi kelas 1, 2, dan 3 duduk di level atas ruang itu. Sementara, 26 siswa dan siswi kelas 7 dan 8 duduk di bawah. Mereka menunggu pembicara dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Komnas Perlindungan Anak Kota Surabaya.

Saiful Bachri, ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Komnas Perlindungan Anak Kota Surabaya, bersama Tutik dari sekretariat, datang sekitar pukul 12.30. Mereka segera mempersiapkan sosialisasi ‘Merdeka Belajar tanpa Bullying.’ Sosialisasi ini dikemas dengan suasana ceramah motivasional yang meriah.

Pada awal ceramah, Saiful menjelaskan 10 hak anak berdasarkan ketentuan PBB. Agar lebih meriah dan lebih cepat dihafalkan, ia memutar video yang melagukan 10 hak anak itu. Ia juga meminta anak-anak menirukan syair dan lagunya. Tak pelak, ruang pun ramai dengan suara anak-anak yang masih kecil maupun yang sudah besar.

Ia juga menjelaskan definisi praktis dari kekerasan, bullying fisik dan verbal, perilaku non verbal langsung, perilaku non verbal non langsung, cyberbullying, hingga pelecehan seksual.

Bahkan, ia mengajak anak-anak untuk berteriak ‘tolong’ jika mendapat serangan. Tak pelak, ruang pun gaduh karena anak-anak berteriak, “Toloooong, tolooong…”

“Latihan berteriak itu perlu. Ada lho anak yang sejak kecil dilarang teriak-teriak oleh orang tuanya. Lalu, saat mendapat ancaman bahaya, ia kesulitan berteriak minta tolong,” begitu penjelasan Saiful.

Menyanyikan sentuhan yang boleh dan yang tak boleh.

Untuk menjelaskan bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain, Saiful juga menyampaikannya dengan nyanyian. Tutik memimpin anak-anak menyanyi tentang sentuhan yang boleh dan sentuhan yang tidak boleh. Yang tidak boleh disentuh orang lain adalah; wajah, dada, pantat dan kemaluan.

Sekitar satu jam, peserta yang berusia muda dikumpulkan untuk cap telapak tangan bersama di spanduk sebagai komitmen untuk tidak melakukan bully di lingkungan sekolah. Setelah berfoto, para peserta kelas SD dibolehkan meninggalkan kelas. Selanjutnya, peserta kelas SMP dipisah antara yang lelaki dan yang perempuan. Ini dilakukan karena isi ceramahnya mulai menggunakan bahasa yang lebih lugas dan eksplisit.

Untuk melindungi anak, baik lelaki maupun perempuan, Saiful memberi tips tentang pakaian dalam. “Wajib hotpants! Tidak cukup dengan celana dalam biasa. Pakai hotpants,” ia menegaskan.

Tanda berkomitmen tidak melakukan bully di sekolah.

Saran itu ia lontarkan karena keprihatianan atas banyaknya kasus pelecehan seksual di luar sana. Korban yang dia catat bukan hanya anak perempuan. Justru anak lelaki mencapai 52 persen. Belum lagi sejumlah kasus kanker payudara dan kanker serviks yang dialami anak-anak.

Maka, ia mengingatkan anak-anak untuk senantiasa menjaga diri. (tom)

 

Facebook Comments

Comments are closed.