Semoga Ketua Umum PBNU….

Oleh: Moh. Husen*

mepnews.id –¬†Tulisan saya ini tidak penting. Saya tulis PBNU, Kiai Said dan Gus Yahya agar tulisan ini ada yang membaca. Kalau yang ramai diperbincangkan orang adalah Iwan Fals, saya akan mengkaitkan tulisan saya dengannya.

Melalui berbagai media, kita tahu hasil pemilihan Ketua Umum PBNU periode 2021-2016 dalam Muktamar NU ke-34 di Lampung dimenangkan oleh KH Yahya Cholil Staquf yang akrab dipanggil Gus Yahya. Sedangkan Rais Aam-nya adalah KH Miftachul Akhyar.

Meskipun KH Said Agil Siradj dinyatakan kalah dalam pemilihan, namun pemandangan sejuk dan teduh telah kita lihat bersama. Kedua kiai panutan umat ini segera berangkulan akrab usai pemilihan.

Seseorang yang tak bisa saya sebutkan namanya di sini, tatkala anaknya langsung meninggal dunia setelah lahir, menulis di koran: “Selamat anakku. Engkau langsung diasuh oleh Allah…”

Kemudian di pemakaman putranya beliau bersuara lirih: “Maafkan aku ya Allah, yang menurut Engkau aku ini masih belum pantas menerima pinjaman-Mu berupa anak…”

Di warung kopi seseorang berujar: “Kalah menang sudah menjadi risiko dalam sebuah kompetisi. Kalau tidak pernah berkompetisi, maka tidak pernah kalah atau menang…”

Yang satunya lagi menyahut: “Disebut kalah, monggo. Disebut menang, juga monggo. Kalah menang itu hanya sebutan. Substansinya adalah apakah kita melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk orang lain atau tidak…”

Kemudian pria yang berkacamata dan agak sok alim menimpali: “Kita ini sering rebutan jadi pemimpin, seakan-akan kita ini orang yang sanggup memikul beban amanah. Lihatlah, adakah pemimpin yang berfikir sejenak saja, sudahkah masyarakat yang aku pimpin ini hidupnya aman, punya pekerjaan serta keluarganya tidak kelaparan…”

“Ah, begini saja. Ndak usah ndakik-ndakik dan muluk-muluk. Siapa pun yang jadi Ketua Umum PBNU, semoga bisa membawa NU semakin lebih baik untuk Indonesia dan dunia,” sahut bapak yang paling senior di lingkaran warung kopi.

Lantas percakapan berakhir. Secara spontan yang berdiri duluan, mbayari ngopi. Dan saya mohon jangan ditanya: “Percakapan tersebut terjadi sungguhan atau hanya iseng-iseng mengarang seperti anak sekolah SD karena kurang kerjaan…”

Banyuwangi, 24 Desember 2021

*Penulis tinggal di Rogojampi-Banyuwangi.

Facebook Comments

Comments are closed.