Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Sumpah! Gak bohong. Banyak sekali manfaat membaca. Sampai-sampai, perintah pertama Tuhan pada Nabi Muhammad adalah “Iqro.” Bacalah!
Bahkan, untuk anak kecil, membiasakan diri untuk sekadar senang membaca saja bisa membentuk karakter cerdas dan sejahtera di era remaja hingga dewasa.
Tidak seperti ketrampilan mendengarkan dan berbicara yang bisa berkembang cepat dan mudah sejak anak masih bayi, membaca adalah keterampilan yang harus diajarkan dan dikembangkan pada anak melalui pembelajaran eksplisit dari waktu ke waktu.
Selama masa anak dan remaja, otak berkembang pesat sehingga masa ini penting untuk membangun perilaku pendukung perkembangan kognitif yang baik. Nah, mengajari anak senang membaca berpengaruh terhadap perkembangan otak, kognisi, dan kesehatan mental mereka di kemudian hari. Untuk masa usia awal, tidak harus membaca untuk mendapat informasi atau memperdalam pemahaman tapi cukup di level senang membaca.
Para peneliti di Inggris dan Cina menemukan, anak yang mulai membaca untuk sekadar senang cenderung lebih baik dalam tes kognitif dan lebih sehat secara mental ketika mereka memasuki masa remaja. Peneliti juga mencatat, 12 jam seminggu adalah waktu optimal membaca karena terkait perbaikan struktur otak.
Peneliti dari Universitas Cambridge dan Universitas Warwick di Inggris serta Universitas Fudan di Cina mengkaji data kohort Adolescent Brain and Cognitive Development (ABCD) di Amerika Serikat yang merekrut lebih dari 10.000 remaja muda. Tim peneliti menganalisis berbagai data termasuk dari wawancara klinis, tes kognitif, penilaian mental dan perilaku dan pemindaian otak. Mereka membandingkan data remaja yang mulai membaca untuk kesenangan pada usia dua hingga sembilan tahun dengan yang mulai membaca pada usia belakangan atau yang tidak membaca sama sekali. Hasil analisis bisa mengungkap banyak faktor penting, termasuk status sosial ekonomi.
Dari 10.243 peserta yang diteliti, 48% memiliki sedikit pengalaman membaca untuk kesenangan atau bahkan tidak mulai membaca pada masa kanak-kanak. Lainnya mulai membaca untuk kesenangan antara usia tiga hingga sepuluh tahun. Hasilnya, ada hubungan kuat antara senang membaca pada usia dini dengan kinerja positif pada masa remaja. Hubungan ini didapat dengan melihat tes kognitif yang mengukur faktor-faktor pembelajaran verbal, memori dan perkembangan bicara, dan prestasi akademik di sekolah. Begitu juga dengan faktor kesejahteraan mental, yang dinilai menggunakan skor klinis dan laporan dari orang tua dan guru. Anak-anak yang senang membaca juga cenderung menghabiskan lebih sedikit waktu di depan layar (termasuk menonton TV atau smartphone dan tablet) selama seminggu dan akhir pekan di masa remaja mereka.
Apa rahasianya?
Para peneliti lalu mengkaji hasil pemindaian otak dari kelompok remaja peserta penelitian. Mereka menemukan, para peserta yang sejak kecil senang membaca punya total area dan volume otak cukup besar, termasuk daerah tertentu yang memainkan peran penting dalam fungsi kognitif. Begitu juga dengan daerah lain di otak yang berhubungan dengan peningkatan kesehatan mental, perilaku, dan perhatian.
Nah, tengok penjelasan Prof Barbara Sahakian dari Departemen Psikiatri di Universitas Cambridge.
“Membaca bukan hanya pengalaman menyenangkan. Membaca juga menginspirasi pemikiran dan kreativitas, meningkatkan empati dan mengurangi stres. Di atas semua ini, kami menemukan bukti signifikan bahwa membaca terkait dengan faktor perkembangan penting pada anak-anak. Selain meningkatkan kognisi dan kesehatan mental, membaca sejak dini juga membentuk struktur otak yang merupakan landasan untuk pembelajaran dan kesejahteraan di masa depan,” kata Prof Sahakian.
Simak juga nasihat Profesor Jianfeng Feng dari Universitas Fudan di Shanghai, Cina, sekaligus guru besar di Universitas Warwick, Inggris.
“Kami meminta para orang tua melakukan yang terbaik untuk membangkitkan minat baca pada anak-anak sejak usia dini. Jika dilakukan dengan benar, membaca tidak hanya memberi anak kesenangan, tetapi juga membantu perkembangan otak anak dan mendorong kebiasaan membaca jangka panjang yang terbukti bermanfaat hingga dewasa.”
Jadi, ayo dorong anak-anak untuk senang membaca.
Membaca membantu pengembangan keterampilan kognitif; kemampuan berpikir logis, pemecahan masalah, dan daya ingat. Ketika membaca secara teratur, anak akan terbiasa dengan bahasa, kosakata, dan struktur kalimat. Ini membantu meningkatkan kemampuan pemahaman, memori, dan berpikir analitis.
Dengan banyak membaca, anak-anak terpapar pada berbagai topik dan pengalaman meski tidak mengalami secara langsung. Buku-buku dapat memperluas pengetahuan tentang dunia, budaya, sejarah, ilmu pengetahuan, dan banyak lagi. Pengetahuan yang kaya ini memberi anak keunggulan dalam berbagai hal.
Membaca juga dapat membantu anak mengembangkan keterampilan komunikasi. Anak jadi terbiasa dengan struktur bahasa yang benar, perbendaharaan kata yang luas, dan keterampilan pemahaman yang baik. Ini berdampak positif pada kemampuan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Membaca secara teratur berdampak positif pada kesehatan mental. Membaca buku dapat menjadi bentuk hiburan bermanfaat dan membantu mengurangi stres. Melalui membaca, anak dapat memasuki dunia imajinasi yang membantu ia merasakan emosi, memahami perspektif orang lain, dan menghadapi tantangan emosional.
Mulai membaca pada usia dini membantu membentuk kebiasaan membaca yang positif di masa datang. Kebiasaan membaca membantu anak tetap terlibat dalam pembelajaran sepanjang hidup. Ini berarti ia lebih mungkin terus belajar, memperluas pengetahuan, dan memelihara kesehatan mental yang baik ketika memasuki masa remaja dan dewasa.


