Percayalah, Tertawa Memang Obat yang Luar Biasa

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Tertawalah selalu selagi Anda bisa. Itu obat yang sangat murah,” kata Lord George Gordon Byron, penyair romantik Inggris yang lahir di London 22 Januari 1788.

Mengapa tertawa bisa seperti obat yang mengurangi rasa menderita? Ya, karena tertawa memiliki banyak manfaat psikologis dan emosional yang pada akhirnya berpengaruh pula pada fisik dan penampilan.

Ketika tertawa, perhatian kita sejenak teralihkan dari berbagai pikiran sedih, khawatir, atau rasa sakit yang kita alami. Dengan tertawa, kitA dapat memotong siklus negatif pikiran dan membantu kita melupakan sementara derita yang kita alami.

Tertawa juga melepaskan endorfin, yakni hormon yang membuat kita merasa bahagia dan nyaman. Endorfin memiliki efek mengurangi stres dan meningkatkan mood secara keseluruhan.

Tertawa dapat membantu kita melihat situasi dari sudut pandang berbeda dan mengubah persepsi kita terhadap rasa menderita. Hal ini dapat membantu kita mengembangkan cara baru untuk menghadapi tantangan dan menemukan solusi yang lebih positif atau kreatif.

Tertawa melibatkan kontraksi otot-otot wajah, perut, dan diafragma. Proses ini dapat mengurangi ketegangan fisik dalam tubuh, meredakan gejala fisik yang terkait stres dan kecemasan. Rileksasi otot-otot ini dapat memicu respons fisik yang mengurangi sensasi nyeri atau ketidaknyamanan.

Tertawa bersama orang lain juga dapat memperkuat hubungan sosial dan membantu meredakan rasa menderita secara kolektif. Humor dan tawa dapat menciptakan ikatan emosional yang kuat dan memberikan dukungan sosial dalam menghadapi kesulitan.

Bahkan, riset terbaru di Cina membuktikan terapi humor dapat meringankan gejala kecemasan dan depresi. Sebagian besar peserta penelitian melaporkan penurunan gejala setelah terapi tertawa, dan hanya beberapa yang merasa efeknya tidak signifikan.

Riset ini berupa studi komprehensif terhadap 29 penelitian beragam dari sembilan negara, melibatkan 2.964 peserta dengan depresi, kecemasan atau keduanya. Peserta penelitian berkisar dari anak-anak yang menjalani operasi hingga orang tua di panti jompo dan orang-orang dengan berbagai kondisi kronis. Juga ada pasien yang menjalani operasi atau anestesi; pasien penyakit Parkinson, kanker, penyakit mental, atau menjalani dialisis ginjal.

“Sebagai alternatif pelengkap yang sederhana dan layak, terapi humor dapat memberikan cara menguntungkan bagi dokter, perawat, dan pasien di masa depan,” begitu yang dilaporkan Xuefeng Sun, Jindan Zhang, Yidan Wang, Xiaotu Zhang, Sixuan Li, Zihan Qu, Hongshi Zhang.

Jadi, banyak-banyaklah tertawa.

Asal jangan terus tertawa sendirian.

Apa lagi tertawa sendirian di tengah gelapnya malam.

Facebook Comments

Comments are closed.