Teknik Terapi dengan Lihat Foto; Mau Coba?

Oleh: Esti D. Purwitasari SPsi MM

mepnews.id – Jika mental Anda sedang bermasalah, mintalah kesembuhan pada Tuhan yang menjadi sumber segala kesembuhan. Pada saat yang sama, lakukan pula upaya untuk merealisasikan proses menuju kesembuhan itu. Salah satu upayanya adalah fototerapi.

Apa itu fototerapi?

Teknik fototerapi adalah praktik terapi menggunakan potret diri, album keluarga, dan foto yang dipotret oleh orang lain. Perasaan, pikiran, ingatan, dan keyakinan yang ditimbulkan dari foto-foto ini digunakan sebagai katalis untuk memperdalam wawasan dan meningkatkan komunikasi selama sesi terapi atau konseling. Dalam terapi yang dilakukan profesional kesehatan mental, foto-foto ini digunakan untuk mengungkap sesuatu yang tidak mungkin hanya menggunakan kata-kata klien.

Salah satu pengembang teknik ini adalah Judy Weiser. Psikolog, terapis seni, konsultan, dosen internasional, dan penulis buku ini bisa dianggap penggerak utama dalam teknik FotoTerapi, Terapi Fotografi , Terapi Seni Foto, Terapi Video, dan teknik terkait lainnya. Pendiri PhotoTherapy Center di Vancouver, Kanada, ini mengajar dan memberikan Introductory Educational Workshops dan Advanced Training Intensives tentang teknik ini secara internasional.

Mengapa foto bisa digunakan untuk terapi?

Foto itu  bisa menjadi jejak pikiran kita, cermin kehidupan kita, pantulan dari isi hati kita, kenangan yang dapat kita pegang di tangan kita, bahkan dapat kita pegang selamanya jika kita mau. Foto-foto ini mendokumentasikan tidak hanya di mana kita pernah berada, tetapi juga menunjukkan jalan ke mana kita mungkin akan menuju.

Setiap snapshot yang diambil atau disimpan seseorang bisa menjadi semacam potret diri, semacam cermin dengan memori yang memantulkan kembali momen-momen kala itu dan orang-orang yang cukup istimewa untuk diabadikan selamanya. Foto-foto secara kolektif bisa memperlihatkan kisah yang sedang berlangsung dari kehidupan seseorang, berfungsi sebagai jejak visual yang menandai di mana ia berada secara emosional maupun secara fisik, dan mungkin juga menandakan ke mana tujuan ia selanjutnya. Bahkan, reaksi seseorang terhadap foto di kartu pos, gambar majalah, gambar online, atau foto yang diambil oleh orang lain, dapat memberikan petunjuk tentang kehidupan batinnya dan rahasianya.

Seseorang secara spontan menciptakan makna menurut ia yang berasal dari foto itu sendiri. Makna dari setiap foto tidak terletak pada fakta visualnya, tetapi lebih pada apa yang ditimbulkan oleh detail gambaran di dalam pikiran seseorang itu. Saat melihat snapshot foto, ia menciptakan makna tersendiri dari foto itu, dan makna ini bisa saja berbeda dengan makna yang disampaikan fotografer pada awalnya.

Jadi, makna dan pesan emosional foto bergantung pada siapa yang melihatnya. Persepsi seseorang dan pengalaman hidup yang unik secara otomatis bisa membingkai dan mendefinisikan apa yang ia lihat sebagai hal nyata. Maka, reaksi seseorang terhadap foto yang ia rasa spesial dapat mengungkapkan banyak hal tentang diri orang itu sendiri. Syaratnya, sang terapis mengajukan pertanyaan yang tepat terkait foto itu.

Bagaimana terapis bekerja?

Kebanyakan orang mengambil dan menyimpan foto tanpa terlalu memikirkan alasan mengapa melakukan itu. Namun, rekaman permanen momen dalam waktu ini dapat berfungsi sebagai jembatan alami untuk mengakses, mengeksplorasi, dan berkomunikasi tentang perasaan dan ingatan yang secara tidak sadar tertanam di dalamnya. Pada saat itu, masalah yang lama terkubur atau terlupakan bisa terungkap saat terapi. Selama sesi terapi, foto klien dapat berfungsi sebagai konstruksi diri simbolis yang nyata dan objek transisi metaforis yang secara diam-diam memberi wawasan batin saat masalahnya tidak dapat sepenuhnya didekonstruksi oleh kata-kata.

Dengan bimbingan terapis yang terlatih, klien bisa mengeksplorasi foto dan album keluarga secara emosional selain apa yang mereka tunjukkan secara visual. Informasi semacam itu dapat digunakan untuk memfokuskan dan memicu dialog terapeutik. Biasanya akan dihasilkan hubungan lebih langsung dan tidak terlalu disensor dengan alam bawah sadar klien.

Selama sesi fototerapi, foto tidak hanya direfleksikan secara pasif dalam kontemplasi hening. Justru foto dibuat secara aktif untuk diajak bicara, didengarkan, direkonstruksi, direvisi, untuk membentuk atau mengilustrasikan narasi baru yang memungkinkan klien menjangkau, memahami, dan mengekspresikan bagian diri mereka dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan.

Peran utama terapis adalah mendorong dan mendukung temuan pribadi klien saaat mengeksplorasi dan berinteraksi dengan foto-foto pribadi dan foto keluarga atau foto terkait lainnya. Fototerapi bukan menafsirkan makna foto pada klien tapi justru masukan harus selalu datang dari klien. Agar klien punya masukan, peran terapis adalah memandu dengan pertanyaan-pertanyaan, saat keduanya bersama-sama mengeksplorasi citra dan dampak emosionalnya.

Reaksi klien terhadap suatu foto tidak selalu menunjukkan masalah diagnostik atau kondisi mental yang pasti. Oleh karena itu, tidak ada asumsi atau penilaian yang dapat digeneralisasikan dari tanggapan tunggal. Maka, terapis harus mencari pola-pola respons yang mendasarinya, tema dan citra yang berulang, konsistensi sepanjang waktu dari pendapat klien, dan konten yang tidak biasa atau simbolis. Yang terpenting, terapis harus memberikan perhatian khusus pada reaksi emosional yang menunjukkan perasaan batin yang mungkin disadari atau tidak disadari oleh klien.

Facebook Comments

Comments are closed.