MEPNEWS.ID-Tidak banyak mahasiswa yang berani mengangkat fenomena meme sebagai objek kajian ilmiah serius. Michelle Floranica justru nekat dan berhasil. Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (UTA’45) Jakarta itu sukses menyabet gelar Best Presenter dalam International Essay Competition 2026 yang digelar Center for Media and Sport Studies (CMSS), Selasa (23/6/2026).
Bukan kompetisi biasa. Dari 52 esai yang masuk dari berbagai universitas di belahan dunia, hanya 12 tulisan yang lolos ke babak final. Karya Michelle ada diantaranya.
Di hadapan lima juri internasional, ia mempresentasikan esai bertajuk “MemeWarfare: Visual Culture and the Weaponization of Humor in Modern Political Communication.” Argumennya lugas, meme bukan sekadar hiburan receh di linimasa. Di era digital, konten visual itu telah menjelma menjadi medium kritik politik yang efektif, termasuk dalam merespons kebijakan dan peristiwa di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Panel juri yang menilai presentasinya bukan nama sembarangan. Ada Prof. Thomas Horky dari Macromedia University Jerman, Prof. Brody J. Ruihley dari Miami University AS, Dr. Jefry Ancheata dari Polytechnic University of the Philippines, serta Dr. Rama Kerta Mukti dan Dr. Meistra Budiasa, MA dari CMSS sendiri.
Kompetisi bertema “Political Communication, Digital Culture and Gen-Z Identity” itu berlangsung secara virtual via Zoom.
Prof. Thomas Horky dari Macromedia University Jerman menyatakan apresiasinya terhadap kompetisi ini dan mengungkapkan ketertarikannya pada paper-paper yang dipresentasikan, karena dinilai mampu memperkaya perspektif kajian komunikasi dari sudut pandang Global South.
“Saya sangat mengapresiasi event ini dan sangat tertarik melihat paper-paper yang dipresentasikan karena memperkaya pandangan kajian komunikasi di Global South,” ujar Prof. Thomas Horky.
Kaprodi Ilmu Komunikasi UTA’45 Jakarta, Vidya Kusumawardani, M.Si., mengharapkan agar kompetisi ini tidak hanya berlangsung sekali, melainkan dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan dengan peserta yang semakin bertambah dari berbagai universitas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Kegiatan ini bukan hanya diadakan saat ini saja, namun juga bisa diadakan terus-menerus dengan jumlah peserta yang bertambah banyak dari seluruh universitas di tingkat nasional dan internasional,” harap Vidya.
Bagi Program Studi Ilmu Komunikasi UTA’45, prestasi ini bukan yang pertama di forum ilmiah internasional dan diharapkan bukan yang terakhir. Lebih dari itu, capaian Michelle diharapkan menjadi pemantik bagi mahasiswa lain untuk terus menghasilkan karya ilmiah yang kritis, relevan, dan bermakna bagi perkembangan ilmu sosial-humaniora, khususnya di bidang media dan komunikasi.



POST A COMMENT.