Ada Kandidat Spesies Baru Tarsius di Sulawesi

mepnews.id – Tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo menemukan fakta menarik tentang hewan tarsius di Sulawesi. Tarsius bantuk akustik Labanu, yang diduga sebagai kandidat spesies baru, bisa jadi hasil persilangan dua spesies berbeda.

Tarsius adalah primata kecil yang dikenal sebagai ‘monyet hantu’. Biasa ditemukan di Sulawesi, Filipina, dan sebagian Malaysia. Matanya sangat besar untuk melihat dalam gelap. Aktif di malam hari untuk berburu serangga atau reptil kecil. Lehernya bisa berputar hampir 180 dan panjang tubuhnya 10–15 cm (tanpa menghitung ekor).

Dr Zuliyanto Zakaria pakar dari UNG

Dikabarkan situs resmi ung.ac.id, penelitian dipimpin Dr Zuliyanto Zakaria SPd MSi bersama tim Muhammad Nur Akbar, Magfirahtul Jannah, dan Adam Suduri. Mereka melakukan validasi status taksonomi tarsius bentuk akustik Labanu melalui pendekatan morfometrik dan analisis spasial habitat.

Tarsius bentuk akustik Labanu sebelumnya dikenal melalui karakter vokalisasi unik atau bentuk akustik yang berbeda dari tarsius lain di Sulawesi. Untuk memastikan apakah populasi ini spesies baru, tim peneliti melakukan pengukuran detail pada berbagai bagian tubuh, seperti panjang kepala, ekor, hingga bentuk jumbai ekor.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti membandingkan ciri fisik tarsius Labanu dengan sejumlah spesies lain, termasuk Tarsius supriatnai dan Tarsius spectrumgurskyae. “Analisis kami menunjukkan, karakter morfologi tarsius Labanu masih tumpang tindih dengan spesies terdekatnya,” ungkap Zuliyanto.

Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada ukuran kepala antar kelompok tarsius. Bentuk jumbai ekor -yang biasa menjadi salah satu ciri pembeda penting- juga memperlihatkan kemiripan dengan dua spesies tersebut.

Temuan penting dari penelitian ini adalah indikasi bahwa tarsius bentuk akustik Labanu kemungkinan hibrida stabil, yaitu hasil persilangan antara Tarsius supriatnai dan Tarsius spectrumgurskyae. Meskipun memiliki ciri unik, karakter morfologi yang tumpang tindih menunjukkan bahwa populasi ini belum dapat dipastikan sebagai spesies baru yang berdiri sendiri.

“Namun, analisis morfologi saja belum cukup untuk menarik kesimpulan final. Diperlukan analisis genetik untuk memastikan apakah Labanu merupakan spesies baru atau hasil hibridisasi,” kata koordinator Program Studi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam itu.

Selain aspek morfologi, penelitian ini juga menyoroti kondisi habitat tarsius bentuk akustik Labanu yang semakin terfragmentasi. Dari total wilayah persebarannya, hanya sekitar 221,8 km persegi yang masih berupa hutan. Dalam beberapa tahun terakhir, deforestasi tercatat terjadi di area seluas sekitar 17,6 km persegi, terutama akibat ekspansi pertanian dan pemukiman.

Di sisi lain, regenerasi hutan muda memang terjadi, namun belum sepenuhnya mampu menggantikan fungsi hutan alami. Kondisi ini menyebabkan habitat tarsius terpecah-pecah, sehingga berpotensi mengganggu pergerakan dan pertukaran gen antar populasi.

Sebagai primata endemik Sulawesi, tarsius memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Temuan mengenai tarsius Labanu tidak hanya memperkaya pengetahuan ilmiah, tetapi juga menjadi peringatan akan pentingnya upaya konservasi.

Tim peneliti berencana melanjutkan penelitian melalui analisis DNA untuk mengungkap lebih jauh asal-usul populasi ini. Hasil tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian apakah tarsius Labanu merupakan spesies baru yang belum teridentifikasi, atau bagian dari dinamika evolusi melalui hibridisasi.

Di tengah tekanan lingkungan yang terus meningkat, para peneliti menekankan bahwa perlindungan habitat menjadi langkah mendesak. Tanpa upaya konservasi yang serius, bukan tidak mungkin kekayaan biodiversitas Sulawesi akan hilang sebelum sempat sepenuhnya dipahami.

Facebook Comments

POST A COMMENT.