Jangan Khawatir, 45% Kasus Demensia Sebenarnya Bisa Dicegah

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Est, mau curhat nih. Belakangan ini aku sering banget lupa sama hal-hal kecil. Lupa naruh kunci, lupa balas pesan, bahkan lupa nama teman lama. Aku khawatir nanti tua bisa pikun,” begitu kata seorang teman.

Saya balas, “Serius? Mungkin kamu lagi banyak pikiran atau stres, Rin. Mungkin otak terlalu capek.”

“Aku khawatir karena nenekku dulu kena Alzheimer. Aku takut aku keturunannya.”

“Aku paham kekhawatiran kamu. Tapi, kita bisa berusaha mencegah atau meminimalkan risikonya.”

…………

Pembaca yang budiman, demensia bukan hanya masalah Rina dan keluarganya tapi seluruh dunia. Di Amerika saja, tiga perempat orang dewasa berusia 40 tahun ke atas juga khawatir kesehatan otak mereka menurun di masa mendatang.

Kabar baiknya, ada kemungkinan 45% kasus demensia dapat dicegah atau ditunda melalui serangkaian perubahan secara pribadi dan sosial. Kabar ini didapat lewat laporan dalam jurnal Lancet, 31 Juli 2024.

Laporan ini mengungkap 14 faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk menunda atau menghindari demensia. Faktor-faktor tersebut meliputi:

  • Kurangnya pendidikan
  • Cedera kepala
  • Kurangnya aktivitas fisik
  • Merokok
  • Konsumsi alkohol berlebihan
  • Hipertensi
  • Obesitas
  • Diabetes
  • Gangguan pendengaran
  • Depresi
  • Kontak sosial yang jarang
  • Polusi udara
  • Gangguan penglihatan (temuan baru)
  • Kolesterol tinggi (temuan baru)

Dua puluh tujuh ilmuwan dalam Komisi Lancet di Inggris ini menegaskan, mengubah 14 faktor risiko itu bisa berpotensi menunda atau mencegah 45% dari semua kasus demensia, tak peduli apakah seseorang memiliki gen APOE (gen Alzheimer) atau tidak.

Komisi Lancet lalu merekomendasikan hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah atau menunda demensia.

  • Pastikan pendidikan berkualitas baik tersedia untuk semua orang, dan dorong aktivitas yang merangsang otak di usia paruh baya untuk melindungi kognisi.
  • Sediakan alat bantu dengar yang dapat diakses orang-orang dengan gangguan pendengaran, dan kurangi paparan kebisingan untuk mengurangi gangguan pendengaran.
  • Jika kena depresi, tangani secara efektif hingga normal
  • Dorong penggunaan helm dan pelindung kepala dalam olahraga kontak fisik dan saat bersepeda atau bersepeda motor.
  • Dorong aktivitas olahraga, karena orang yang banyak bergerak dan latihan fisik cenderung tidak mengalami demensia.
  • Kurangi kebiasaan merokok melalui edukasi, pengendalian harga, dan hingga larangan merokok di tempat umum, serta sediakan sarana untuk berhenti merokok.
  • Cegah atau kurangi hipertensi dan pertahankan tekanan darah sistolik 130 mm Hg atau kurang sejak usia 40 tahun.
  • Deteksi kolesterol LDL sejak usia paruh baya, dan segera obati jika terlalu tinggi.
  • Pertahankan berat badan yang sehat. Tangani obesitas sedini mungkin, yang juga membantu mencegah diabetes.
  • Kurangi konsumsi alkohol melalui pengendalian harga dan peningkatan kesadaran akan risikonya.
  • Prioritaskan lingkungan dan perumahan yang ramah usia dan mendukung interaksi sosial. Kurangi isolasi sosial dengan cara memfasilitasi keikut-sertaan dalam kegiatan dan hidup bersama orang lain.
  • Lakukan skrining untuk cek penglihatan dan lakukan pengobatan jika ada kasus kehilangan penglihatan.
  • Kurangi paparan polusi udara.

Tentu ada sejumlah faktor yang mempengaruhi demensia namun belum spesifik disebut Komisi Lancet. Misalnya, masalah kurang tidur, kecemasan, trauma, penyakit mental yang parah, pola makan, infeksi berat, menopause, dan lain-lain.

Maka, saya sarankan pada Rina untuk mengikuti rekomendasi Komisi Lanset dan memilih di domain mana ia bisa mulai membuat perubahan dalam hidup. Dengan segera melkukan penataan ulang, inshaAllah ia punya peluang untuk menghindari kepikunan.

Facebook Comments

Comments are closed.