Karena Televisi dan Medsos, Orang Desa Terpencil pun Ghibah Skincare

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Hei, apa kabar? Senengnya habis mudik. Banyak perkembangan kah di desa?” saya menyapa teman yang baru masuk kantor.

“Alhamdulillah, semua baik. Bahkan, di pelosok desa juga makin maju. Gak kalah dengan kota,” ia menjawab.

“Oh, ya?”

“Desa saya kan jauh dari kota. Sekarang, WiFi sudah lancar di sana. Bahkan, saya diajak adik ke desa lain yang dikelilingi hutan dan ke sananya harus nyeberang sungai. Dulu, ini desa terpencil dan tertinggal. Sekarang, saya kaget gadis-gadisnya begitu modis. Mereka dulu tidak peduli penampilan, sekarang tampil berbeda. Mereka juga biasa ngomong skincare.”

“Oalah. Demam skincare merambah pedesaan terpencil,” saya menimpali. “Kenapa bisa begitu, ya?”

“Sepertinya karena pengaruh program listrik masuk desa dan mulai banyaknya akses ke media sosial dan televisi,” jawab teman saya.

…………

Pembaca yang budiman, era digitalisasi dan globalisasi dengan sistem komunikasi berkecepatan tinggi memang sangat dahsyat mengubah wajah dunia. Seiring pembangunan, kawasan sangat terpencil pun kena dampak kesejagadan ini. Orang-orang dari kawasan terisolasi pun kini bisa kontak dengan dunia luar.

Nah, representasi budaya, khususnya dalam media visual, bisa mempengaruhi preferensi seseorang mengenai kecantikan fisik. Manusia sejatinya tidak secara bawaan tertarik pada tubuh yang lebih langsing dan wajah yang lebih putih, namun preferensi ini justru terbentuk melalui televisi dan media sosial.

Saya tak tahu apakah desa yang disebut teman saya itu pernah menjadi objek penelitian ilmiah. Namun, ada cukup banyak penelitian ilmiah lain yang bisa menjelaskan kondisi paparan media dan preferensi budaya.

Salah satu contoh, penelitian psikolog Lynda Boothroyd, Jean-Luc Jucker, dan rekan-rekan. Mereka 10 tahun menyelidiki dampak elektrifikasi dan akses televisi di pedesaan di Nikaragua salah satu negeri di Amerika Latin. Salah satu temuannya; penduduk desa yang memiliki lebih banyak akses ke TV lebih memilih tubuh perempuan yang langsing daripada yang gemuk. Mereka menduga, perempuan langsing lebih sering digambarkan secara positif dalam program berita dan telenovela.

Dalam penyelidikan terbaru, mereka meneliti hubungan antara menonton TV dan preferensi warna kulit di Nikaragua. Mereka berhipotesis, penduduk desa yang lebih banyak menonton TV lebih memilih wajah berkulit terang dan glowing dibandingkan wajah berkulit gelap.

Secara etnis, penduduk Nikaragua bisa dibagi ke dalam empat kelompok. Keturunan Eropa, terutama kolonis Spanyol, berkulit terang. Penduduk asli, disebut Indian Miskitu, berkulit lebih gelap. Keturunan budak Afrika yang berkulit gelap. Lalu, ada campuran Eropa dan penduduk asli yang disebut Mestizo dan campuran Afrika dan penduduk alsi yang disebut Mulatto.

Para peneliti merekrut 192 responden dari pedesaan terpendi di Nikaragua dan 40 responden di ibu kota Managua. Usia responden antara 15 hingga 78 tahun; dan 55 persen perempuan. Responden dimintai data dasar tentang pendapatan tahun lalu, pendidikan, apakah punya akses ke TV, dan berapa jam menonton TV dalam tujuh hari terakhir.

Lalu, responden diminta memilih preferensi wajah. Dengan laptop, peneliti menampilkan 20 pasang wajah laki-laki dan 20 pasang wajah perempuan secara acak. Pada setiap pasangan, satu wajah berkulit lebih terang dan wajah lainnya berkulit lebih gelap. Lalu, peserta memilih wajah mana dalam pasangan itu yang menurut mereka paling menarik atau lebih cantik/tampan.

Hasilnya, responden secara keseluruhan lebih menyukai wajah berkulit terang dibandingkan wajah berkulit gelap. Responden yang berpendidikan lebih tinggi menunjukkan preferensi sedikit lebih kuat terhadap wajah berkulit terang dibandingkan peserta yang pendidikan lebih rendah. Responden yang lebih banyak menonton TV menunjukkan preferensi lebih kuat terhadap perempuan berkulit cerah dibandingkan yang sedikit atau tidak sama sekali menonton TV.

Menariknya, penduduk desa yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah orang Miskitu atau Mestizo. Pilihan mereka dalam preferensi wajah mengungkapkan mereka tidak secara konsisten menyukai orang yang mirip dengan wajah mereka sendiri. Sebaliknya, kebanyakan mereka lebih menyukai wajah yang berkulit lebih terang dibandingkan mirip wajah mereka sendiri.

Temuan ini konsisten dengan kesimpulan yang diambil dari sejumlah studi lintas negara yang melibatkan partisipan dari latar belakang budaya berbeda.

Memang, representasi budaya, terutama yang terdapat dalam media visual, memengaruhi preferensi dan standar kita mengenai kecantikan fisik. Manusia tidak selalu tertarik pada tubuh perempuan langsing dan wajah putih, namun preferensi dapat terbentuk melalui paparan terus-menerus terhadap jenis gambar media tertentu.

Facebook Comments

Comments are closed.