Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Saya heran dengan Fulin. Sudah menikah, sedang hamil, eh koq malah tampak sedih,” begitu seorang teman mengabari saya tentang teman yang lain.
“Sedih, bagaimana?” saya menyelidiki.
“Aslinya di kan ceria. Tapi, saat kandungannya membesar, ia jadi lain sekali. Jadi pemurung, tampak kelelahan. Biasanya dia senang sekali kalau saya ajak main games. Eh, sekarang malah ogah-ogahan main. Katanya badannya capek sekali. Nggak bisa tidur. Mencemaskan hal-hal yang menurut saya semestinya biasa saja. Kata suaminya, ia jadi gak nafsu makan.”
“Wah, jangan-jangan dia kena prenatal depression. Baiklah, nanti kita tengok dia bareng-bareng. Siapa tahu kita bisa membantu.”
………….
Pembaca yang budiman, prenatal depression (depresi perinatal) tentu bukan kondisi yang kita inginkan saat terjadi kehamilan atau bisa terus hingga pasca melahirkan. Jika terjadi, kondisi ini dapat memengaruhi kondisi orang yang mengalaminya, bisa menganggu hubungan dengan pasangannya, keluarganya, dan bahkan berpengaruh pada perkembangan janin atau bayi.
Ada sejumlah dampak buruk prenatal depression, bergantung pada kondisi masing-masing individu.
Bagi Si Ibu, prenatal depression dapat menyebabkan peningkatan risiko stres, kecemasan, dan depresi. Gejala fisik seperti gangguan tidur, penurunan nafsu makan, dan kelelahan berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatannya.
Menurut catatan National Institutes of Health, 1 dari 7 wanita di Amerika Serikat mengalami depresi saat kehamilan atau setahun setelah melahirkan. Dampaknya, sekitar 1,7 juta orang melakukan upaya bunuh diri setiap tahun, dan perempuan dewasa berupaya bunuh diri 1,33 kali lebih sering dibandingkan laki-laki.
Sementara itu, peneliti Swedia menganalisis lebih dari 950.000 catatan medis wanita hamil. Mereka menemukan lebih dari 86.000 peserta penelitian mengalami prenatal depression, sementara 865.000 peserta penelitian tidak terpengaruh.
Wanita yang mengalami depresi saat hamil atau sesaat sesudah melahirkan memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar untuk mencoba bunuh diri atau meninggal karena bunuh diri dibandingkan dengan mereka yang tidak.
Kondisi prenatal depression juga menganggu pertumbuhan janin sehingga membawa risiko kelahiran prematur bayi. Saat sudah lahiran, kondisi prenatal depression dapat mempengaruhi ikatan antara ibu dan bayi. Bisa terjadi interaksi yang kurang positif atau respons emosional yang terhambat.
Saat anaknya tumbuh, sisa-sisa dampak prenatal depression bisa membawa risiko masalah perilaku dan kesehatan mental anak saat berkembang.
Mengingat depresi perinatal menimbulkan risiko kesehatan serius bagi Si Ibu, maka perlu ada penanganan serius. Penanganan dari berbagai sisi. Antara lain dukungan psikologis, konseling, atau terapi, tergantung pada tingkat keparahan kondisi. Penting juga peran keluarga untuk memberikan dukungan penuh.


