Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Pada 7-10 Oktober 2023 di Barcelona digelar Kongres ke-36 European College of Neuropsychopharmacology. Dalam pertemuan pakar syaraf dan kejiwaan ini, salah satu yang dibahas adalah pengobatan atas kecemasan dan/atau depresi. Terapi pakai obat atau non-obat.
Nah, salah satu pembicaranya adalah Profesor Brenda Penninx dari Universitas Vrije, Amsterdam, Belanda. Ia menyampaikan hasil penelitian timnya yang telah dipublikasikan di Journal of Affective Disorders edisi Mei 2023. Penelitannya mengadu kemanjuran antara terapi obat dengan terapi lari berkelompok.
“Kami ingin membandingkan bagaimana olahraga atau antidepresan memengaruhi kesehatan secara umum, bukan hanya kesehatan mental,” begitu kata Penninx memaparkan tujuan penelitian.
Dalam penelitian, ada 141 pasien kecemasan dan/atau depresi. Mereka diberi pilihan antara SSRI Escitalopram (antidepresan) 16 minggu atau terapi lari bersama dalam waktu yang sama. Sebanyak 45 memilih antidepresan dan 96 memilih lari bersama. Kedua kelompok lalu diawasi ketat menjalankan pilihan masing-masing.
Hasilnya?
Kedua pilihan sama-sama memberikan manfaat bagi kesehatan mental. Bedanya, peningkatan kesehatan fisik —termasuk berat badan, lingkar pinggang, dan fungsi kardiovaskular— terlihat lebih utama pada kelompok lari. Kelompok antidepresan menunjukkan kecenderungan hanya sedikit penurunan pada penanda metabolik ini.
Secara umum, kedua metode memberi manfaat mental yang sama tapi hasil manfaat fisiknya bervariasi. Lari dan SSRI sama-sama meredakan depresi dan kecemasan. Namun, lari juga meningkatkan kesehatan fisik. Sementara, SSRI cenderung tidak banyak berpengaruh pada fisik.
Masalahnya ada di disparitas kepatuhan. Pada awalnya, peserta yang memilih olahraga lari menunjukkan tingkat kepatuhannya lebih rendah (52%) dibandingkan dengan kelompok antidepresan (82%). Ini menunjukkan tantangan praktis dalam mempertahankan program olahraga.
Menurut Penninx, hasil penelitiannya menggarisbawahi pentingnya dan potensi olahraga dalam perawatan kesehatan mental, meskipun terdapat beberapa tantangan awal soal kepatuhan. Orang umumnya malas gerak.
“Dalam penelitian ini, orang-orang yang cemas dan/atau depresi diberi pilihan realistis dalam kehidupan nyata; pengobatan atau olahraga. Menariknya, mayoritas memilih berolahraga. Jumlah kelompok lari lebih besar dibandingkan kelompok pengobatan,” kata Penninx.
Pengobatan dengan antidepresan mengharuskan pasien mematuhi asupan obat yang diresepkan, namun hal ini umumnya tidak berdampak langsung pada perilaku sehari-hari. Olahraga bisa secara langsung mengatasi gaya hidup yang sering ditemukan pada pasien depresi dan/atau kecemasan. Saat olahraga, orang terdorong untuk keluar, menetapkan tujuan pribadi, meningkatkan kebugaran dan berpartisipasi dalam aktivitas kelompok.
Mengomentari paparan Profesor Penninx, Dr Eric Ruhe dari Pusat Medis Universitas Amsterdam mengatakan: “Ini hasil yang sangat menarik. Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa kesehatan fisik dapat mempengaruhi kesehatan mental. Pengobatan atas masalah depresi dan kecemasan dapat dicapai dengan berolahraga tanpa efek buruk dari obat antidepresan.”
Jadi, yuk kita banyak gerak untuk mengendalikan masalah depresi. Selain otak lebih nyaman, tubuh fisik jadi makin sehat.


