mepnews.id – IPB University bersama Faeger Co Ltd dan PT Yanmar Diesel Indonesia meluncurkan proyek penelitian untuk menilai kombinasi Alternate Wetting and Drying (AWD) alias pengairan berselang dengan penerapan biochar sekam padi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sekaligus menjaga stabilitas hasil panen. Dengan mengevaluasi pendekatan terintegrasi ini secara ilmiah, proyek ini bertujuan memperkuat mitigasi iklim dalam produksi padi serta meningkatkan pengelolaan tanah dan sumber daya demi keberlanjutan jangka panjang.
Budi daya padi merupakan hal mendasar bagi ketahanan pangan Indonesia. Sebagai salah satu produsen padi terbesar, Indonesia bergantung pada sistem padi irigasi untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun, budi daya padi juga menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca di sektor pertanian, terutama gas metana (CH₄) yang dihasilkan dalam kondisi lahan yang terus-menerus tergenang air.
Selain itu, sekam padi dan sisa-sisa pertanian lainnya yang dihasilkan setiap tahun masih banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal. Bahkan, banyak yang dibuang dengan cara dibakar di lahan terbuka. Ini bisa menimbulkan masalah lingkungan dan hilangnya peluang untuk pemanfaatan nilai tambah.
Kepala Pusat Pengembangan Ilmu Teknik untuk Pertanian Tropika (CREATA) IPB University, Prof I Wayan Budiastra, menyebut proyek penelitian ini menjawab tantangan iklim pertanian di Indonesia melalui pendekatan terintegrasi yang menggabungkan manajemen air inovatif dengan daur ulang limbah pertanian.
“Dengan menggunakan AWD sebagai teknik manajemen air terkontrol, proyek ini bertujuan untuk memotong emisi metana secara drastis sekaligus secara signifikan mengurangi kebutuhan air irigasi,” paparnya, lewat situs resmi ipb.ac.id.
Proyek ini memperkenalkan biochar—mengubah sisa-sisa pertanian yang kurang dimanfaatkan menjadi arang yang mengunci karbon di dalam tanah selama berabad-abad. Ketika diaplikasikan ke lahan, biochar bertindak seperti spons, meningkatkan kesuburan tanah, menahan unsur hara penting, dan meningkatkan retensi air untuk secara langsung mendukung stabilitas hasil panen terhadap variabilitas iklim.
“Dengan menggabungkan AWD dan biochar, studi ini bertujuan menunjukkan bagaimana metode-metode tersebut dapat bekerja sama untuk menurunkan emisi sekaligus memastikan pertanian produktif dan tangguh,” imbuhnya.
Studi ini dimulai April 2026 dan berlangsung setahun di lahan padi IPB University untuk eksperimen terkontrol. Berbagai rezim air dan perlakuan biochar yang berbeda akan diuji. Para peneliti akan mengukur emisi gas rumah kaca, termasuk metana dan dinitrogen oksida (N₂O), karbon tanah, kesuburan tanah, penggunaan air, pertumbuhan tanaman, serta hasil panen.
Tim peneliti juga akan mengevaluasi kelayakan ekonomi dan kepraktisan dari praktik-praktik ini bagi para petani lokal. Hal ini mencakup analisis prospek bisnis dari pemrosesan sisa pertanian menjadi biochar dalam skala besar, serta mengukur dampak langsung biaya-manfaat pada pertanian keluarga.
Tujuan akhirnya adalah menghasilkan kumpulan data berbasis lapangan yang kuat guna mendukung kuantifikasi mitigasi iklim dan inisiatif perhitungan karbon di masa depan.
“Temuan-temuan ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pengembangan strategi berbasis bukti untuk produksi padi rendah emisi, serta dapat menyediakan data berharga untuk mekanisme iklim dan kerangka kerja pengkreditan karbon, termasuk joint crediting mechanism (JCM) dan sistem pasar karbon berkembang lainnya,” ujar Prof Wayan.
Selain eksperimen, proyek ini akan memilih dan mengevaluasi lokasi percontohan implementasi untuk peningkatan skala secara cepat (scaling up). Tim akan menargetkan lokasi kandidat yang memiliki kelompok tani yang terorganisasi, infrastruktur irigasi yang maju, dan fasilitas penggilingan padi terdekat yang memasok sekam padi untuk biochar.
Para pemimpin proyek secara aktif melibatkan para pemangku kepentingan pemerintah untuk menyelaraskan dengan prioritas pembangunan nasional dan tujuan mitigasi iklim.
Dengan berfokus pada dampak mitigasi iklim dan stabilitas dari kombinasi AWD dan biochar, Prof Wayan berharap kolaborasi ini berupaya memberikan landasan berbasis sains untuk praktik-praktik yang meningkatkan keberlanjutan lingkungan sekaligus produktivitas padi jangka panjang di Indonesia. (*/Rz)



POST A COMMENT.