Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Seperti biasa, gathering ibu-ibu kompleks perumahan memunculkan isu-isu seputar parenting. Kali ini ada seorang mamah muda yang curhat tentang pergaulan anak-anak kecil. Tampaknya, ada anak lain yang agak agresif.
“Ih, kalau bisa, anakku gak boleh berdekatan sama Si Fulan. Takutnya anakku dipukul. Fulan itu sukanya memukul dan menggigit anak-anak lain,” kata dia.
Curhatan mamah muda itu ditimpali ibu-ibu lainnya. Ada yang menenangkan, tapi ada juga yang ngompori.
………..
Pembaca yang budiman, saya tidak ingin mengomentari bagaimana sikap ibu-ibu tetangga. Saya lebih ingin menjelaskan mengapa anak kecil, balita (usia di bawah lima tahun) atau bahkan batita (usia di bawah tiga tahun) suka memukul atau menggigit. Bukan hanya memukul atau menggigit yang lain, tapi kadang juga memukul dan menggigit diri sendiri.
Yang perlu dipahami lebih awal, anak seusia itu memang sedang dalam tahap mengeksplorasi dan berinteraksi dengan dunia di sekitar. Saat anak kecil memukul atau menggigit, bisa jadi ia masih dalam tahap mempelajari keterampilan sosial-emosional dan linguistik untuk berkomunikasi dan/atau mengatasi perasaan diri. Bisa jadi ia sedang mengeksplorasi konsep ‘sebab-akibat’; jika ia begini, maka ia mendapat reaksi begitu.
Mulai usia sekitar 2 tahun, perilaku agresif seperti memukul, menggigit, dan menendang sedang meningkat. Pada masa ini pula, anak masih belum memiliki cukup kemampuan untuk mengungkapkan kebutuhan secara tepat. Pada saat yang sama, anak juga masih belum mampu mengembangkan pengendalian diri.
Ketika ada anak kecil memukuli kepalanya sendiri, bisa jadi itu bagian dari cara untuk mengungkapkan pada orang tua atau pengasuh bahwa ia merasa sakit di kepala atau telinga. Karena tidak semua anak bisa mengungkapkan permasalahan secara verbal, maka orang tua atau pengasuh harus peka terhadap perilaku tidak biasa oleh si anak.
Menggigit sebenarnya juga perilaku yang sesuai dan merupakan bagian normal dari perkembangan anak kecil. Ada berbagai alasan kenapa balita suka memukul atau menggigit. Yang paling umum adalah kesulitan mengatasi kemarahan, frustrasi, dan kondisi sensorik yang sedang berlebihan. Juga, menjadi cara untuk mendapatkan perhatian.
Jika anak menyadari bahwa ia mendapat lebih banyak perhatian dari orang tua atau pengasuh ketika ia menggigit atau memukul, bahkan jika itu perhatian negatif berupa larangan, maka hal itu secara tidak sengaja bisa memperkuat perilaku anak untuk memukul atau menggigit kembali. Ini akan berlangsung hingga si anak mendapatkan cara lain selain menggigit atau memukul untuk mendapatkan perhatian.
Terus, bagaimana cara mengajari anak kecil untuk tidak sembarangan memukul atau menggigit?
Ketika anak berperilaku agresif memukul atau menggigt, ia harus diberi tahu. Orang tua atau pengasuh perlu mendidiknya dengan ucapan yang tenang dan tidak terlalu menampakkan reaksi cemas, marah, atau sedih berlebihan. Biasa saja. Terlebih dahulu, orang tua atau pengasuh harus mengelola emosi diri sendiri. Ini agar anak belajar meniru pengendalian emosi dan perilaku.
Kemudian, disiplinkan anak untuk tidak memukul atau menggigit sembarangan. Katakan dengan penuh kasih sayang bahwa gigitan atau pukulan itu menyebabkan rasa sakit. Menggigit atau memukul diri sendiri menyebakan si anak sakit sendiri. Memukul atau menggigit anak lain, juga membuat anak lain sakit. Jadi, jangan menggigit atau memukul sembarangan.
Mendisiplinkan di sini bukan berarti harus menghukum anak karena melakukan kesalahan. Ini lebih tepat ke arah membelajari atau mengajari anak untuk berperilaku lebih benar. Pendekatan yang lebih baik adalah bagaimana mencegah, mengarahkan, dan sedapat mungkin mengurangi perilaku agresif anak di masa datang. Maka, ajari anak keterampilan untuk mengatasi frustrasi dan kemarahan, ajari anak cara lebih tepat untuk mengomunikasikan kebutuhan.
Jika perilaku itu masih muncul, maka alihkan emosi anak ke objek lain. Untuk mencegah anak menyakiti diri sendiri atau anak lain, alihkan sasaran perilakunya ke objek yang lebih aman. Misalnya, jika tampak gejala mau menggigit atau memukul, segera berikan sesuatu di tangan anak misalnya boneka lembut sebagai pengalih perhatian. Setidaknya, jika anak masih menggigit, maka yang digigit adalah boneka lembut.
Terakhir, bersabarlah. Setelah upaya penyadaran, pendisiplinan, dan pengalihan perhatian sudah dilakukan, maka orang tua atau pengasuh perlu bersabar. Perilaku memukul dan menggigit diri sendiri atau anak lain ini akan berangsur berkurang seiring perkembangan anak. Semakin dia mampu mengendalikan diri dan mampu mengekspresikan perasaan lewat kata-kata, maka perilaku menggigit atau memukul akan cenderung berkurang.


